Abstract. The phenomenon of quiet quitting is increasingly common among Generation Z workers, who tend to withdraw from active engagement at work by performing only the minimum tasks stated in their job description. This study aims to examine the effect of work-life balance on quiet quitting and to analyze the mediating role of job satisfaction in explaining the mechanism of this relationship among Generation Z workers in Bandung City. A quantitative approach with a causal design was employed. The sample consisted of 262 Generation Z workers in Bandung who had worked for at least six months, selected through convenience sampling. Data were collected through an online questionnaire measuring quiet quitting, work-life balance, and job satisfaction, and were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with SmartPLS 4. Descriptive results show that the work-life balance of Generation Z workers in Bandung falls into the high category, while their quiet quitting tendency is reflected through detachment, lack of motivation, and lack of initiative. Job satisfaction is reflected in positive evaluations of nine job aspects. Work-life balance negatively and significantly affects quiet quitting (β = -0.471, p < 0.05), and job satisfaction is proven to partially mediate this relationship with a smaller but significant effect (β = -0.145, p < 0.05). These findings imply that organizations should attend not only to work-life balance policies but also to strategies that enhance the job satisfaction of Generation Z employees Abstrak. Fenomena quiet quitting makin banyak terjadi di kalangan pekerja generasi Z, yang memperlihatkan perilaku menarik diri dari keterlibatan aktif di tempat kerja dengan hanya menjalankan tugas minimal sesuai deskripsi pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work-life balance terhadap quiet quitting, serta menganalisis peran kepuasan kerja sebagai variabel mediator yang menerangkan mekanisme hubungan diantara work-life balance dan quiet quitting pada pekerja generasi Z di Kota Bandung. Penelitian memakai pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian sejumlah 262 pekerja generasi Z di Kota Bandung yang telah bekerja minimal enam bulan, dipilih mempergunakan teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilaksanakan melalui kuesioner online yang mengukur quiet quitting, work-life balance, dan kepuasan kerja. Analisis data memakai Structural Equation Modeling (SEM) dengan SmartPLS 4. Hasil deskriptif memperlihatkan bahwa work-life balance pekerja Generasi Z di Kota Bandung berada pada kategori tinggi, sedangkan kecenderungan quiet quitting tergambar melalui perilaku pembatasan keterlibatan kerja yang tercermin dari tiga dimensi, yaitu keterpisahan, kurangnya motivasi, dan kurangnya inisiatif. Kepuasan kerja tercermin dari penilaian positif terhadap sembilan aspek pekerjaan. Hasil penelitian memperlihatkan work-life balance berdampak negatif dan signifikan kepada quiet quitting (β = -0,471, p < 0,05), dan kepuasan kerja terbukti berperan sebagai mediator parsial dengan pengaruh yang signifikan namun lebih rendah (β = -0,145, p < 0,05). Studi ini memberikan implikasi bagi organisasi untuk tidak hanya berfokus pada kebijakan keseimbangan kerja-kehidupan, tetapi juga pada upaya peningkatan kepuasan kerja pekerja Generasi Z.