Ali Mubarak
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Studi Kontribusi Proactive Personality terhadap Employee Voice Behavior Adinda Lavina Khansa; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 821-828
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24089

Abstract

Abstract. Rapid changes in the world of work require employees to actively convey ideas, suggestions, and concerns related to their work, known as employee voice behavior (EVB), comprising promotive voice and prohibitive voice. Proactive personality is expected to encourage this behavior among employees of information technology companies. This study examined the contribution of proactive personality to EVB among employees of information technology companies in Bandung City. This study used a non-experimental quantitative approach with a correlational (cross-sectional) design involving 116 employees, selected through convenience sampling. Data were analyzed using simple linear regression separately for each EVB dimension. Results showed that proactive personality contributed positively and significantly to promotive voice (R² = 0.495; t = 10.563; p < .001) and prohibitive voice (R² = 0.478; t = 10.226; p < .001), indicating that employees with higher proactive personality tend to be more active in proposing improvements as well as raising concerns about potential work-related problems. It is concluded that proactive personality is a consistent predictor of both voice dimensions. Abstrak. Dinamika dunia kerja menuntut karyawan untuk aktif menyampaikan ide, saran, maupun kekhawatiran terkait pekerjaan, dikenal sebagai employee voice behavior (EVB), mencakup promotive voice dan prohibitive voice. Proactive personality diperkirakan mendorong munculnya perilaku ini pada karyawan perusahaan teknologi informasi. Penelitian ini menguji kontribusi proactive personality terhadap EVB pada karyawan perusahaan teknologi informasi di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional (cross-sectional) pada 116 karyawan, dipilih melalui convenience sampling. Data dianalisis dengan regresi linear sederhana secara terpisah pada tiap dimensi EVB. Hasil menunjukkan proactive personality berkontribusi positif dan signifikan terhadap promotive voice (R² = 0,495; t = 10,563; p < 0,001) dan prohibitive voice (R² = 0,478; t = 10,226; p < 0,001), mengindikasikan karyawan yang lebih proaktif cenderung lebih aktif menyampaikan usulan perbaikan maupun kekhawatiran atas potensi masalah kerja. Disimpulkan bahwa proactive personality merupakan prediktor yang konsisten bagi kedua dimensi voice.
Studi Kontribusi Work Life Balance terhadap Quiet Quitting pada Karyawan Perbankan Talitha Karida Sugara; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 829-836
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24090

Abstract

Abstract. The phenomenon of “quiet quitting” has garnered increasing attention since the COVID-19 pandemic, in line with changing work patterns and rapid industrial transformation. This phenomenon has emerged as a result of various workplace demands, such as heavy workloads, stress, and anxiety. This study aims to analyze the contribution of work-life balance to quiet quitting among banking employees in Bandung. The study employs a quantitative approach with a cross-sectional correlational design involving 136 banking employees selected using convenience sampling. The research instruments consisted of the work-life balance scale developed by Fisher et al. (2009) and adapted by Gunawan (2019), as well as the Quiet Quitting Scale by Galanis et al. (2023), adapted by Sejati et al. (2025). Data were analyzed using multiple linear regression with the aid of SPSS. The results indicate that the majority of respondents exhibited low work-life balance and high levels of quiet quitting. Work-life balance accounted for 37.6% of the variance in quiet quitting (R² = 0.376) and had a significant simultaneous effect (p < 0.001). Partially, the WIPL and PLIW dimensions had a significant positive effect on quiet quitting; WEPL had no significant effect; while PLEW had a significant negative effect with the largest beta coefficient (β = -0.360), indicating that the greater the positive influence of personal life on work, the lower the tendency toward quiet quitting. These findings suggest that improving work-life balance particularly through support for employees personal lives has the potential to reduce the tendency toward quiet quitting among banking employees in Bandung Abstrak. Fenomena quiet quitting semakin mendapat perhatian setelah pandemi Covid-19 seiring perubahan pola kerja dan pesatnya transformasi industri. Kondisi ini berkembang akibat berbagai tuntutan kerja, seperti beban kerja, stres, dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi work life balance terhadap quiet quitting pada karyawan perbankan di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional terhadap 136 karyawan perbankan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian berupa skala work life balance yang dikembangkan Fisher et al. (2009) dan diadaptasi oleh Gunawan (2019), serta Quiet Quitting Scale dari Galanis et al. (2023) yang diadaptasi oleh Sejati et al. (2025). Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki work life balance rendah dan quiet quitting tinggi. Work life balance berkontribusi sebesar 37,6% terhadap quiet quitting (R² = 0,376) dan berpengaruh signifikan secara simultan (p < 0,001). Secara parsial, dimensi WIPL dan PLIW berpengaruh positif signifikan terhadap quiet quitting, WEPL tidak berpengaruh signifikan, sedangkan PLEW berpengaruh negatif signifikan dengan koefisien beta terbesar (β = -0,360), yang menunjukkan bahwa semakin besar pengaruh positif kehidupan pribadi terhadap pekerjaan, semakin rendah kecenderungan quiet quitting. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan work life balance, terutama melalui dukungan kehidupan pribadi, berpotensi menurunkan kecenderungan quiet quitting pada karyawan perbankan di Kota Bandung.
Studi Kontribusi Job Crafting terhadap Meaningful Work pada Pegawai Administrasi Publik Ferlitha Amalia; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 869-876
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24105

Abstract

Abstract. Public administration employees work in a structured environment that is oriented toward public service; thus, job crafting has become one of the strategies employees use to shape a meaningful work experience. This study aims to examine the characteristics of job crafting and meaningful work and to analyze the contribution of job crafting dimensions to meaningful work among public administration employees in Sukabumi City. The study employed a quantitative approach with a cross-sectional design and involved 110 public administration employees in Sukabumi City. Data were collected using the Job Crafting Scale (JCS) by Tims et al. (2012) and the Work and Meaning Inventory (WAMI) by Steger et al. (2012), which had been adapted by Fajri et al. (2023), and were subsequently analyzed using multiple linear regression. The results indicate that job crafting and meaningful work fall into the high category, with the “Increasing Social Job Resources” dimension being the highest-scoring job crafting dimension. The research model explains 44.8% of the variation in meaningful work (R² = 0.448). Therefore, the higher the level of job crafting performed by employees, the higher the level of meaningful work they experience in their jobs. Abstrak. Pegawai administrasi publik bekerja dalam lingkungan yang terstruktur dan berorientasi pada pelayanan masyarakat, sehingga job crafting menjadi salah satu upaya pegawai dalam membentuk pengalaman kerja yang bermakna (meaningful work). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran job crafting dan meaningful work serta menganalisis kontribusi dimensi-dimensi job crafting terhadap meaningful work pada pegawai administrasi publik di Kota Sukabumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan melibatkan 110 pegawai administrasi publik di Kota Sukabumi. Data dikumpulkan menggunakan Job Crafting Scale (JCS) dari Tims et al. (2012) dan Work and Meaning Inventory (WAMI) dari Steger et al. (2012) yang telah diadaptasi oleh Fajri et al. (2023), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job crafting dan meaningful work berada pada kategori tinggi, dengan dimensi Increasing Social Job Resources sebagai dimensi job crafting tertinggi. Model penelitian menjelaskan 44,8% variasi meaningful work (R² = 0,448). Dengan demikian, semakin tinggi job crafting yang dilakukan pegawai, semakin tinggi pula meaningful work yang dirasakan dalam pekerjaannya.
Studi Kontribusi Core Self-Evaluation terhadap Thriving at Work Tenaga Kesehatan Alya Putri; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 977-984
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24241

Abstract

Abstract. Thriving at Work is a positive psychological state characterized by vitality and continuous learning, enabling employees to perform optimally despite workplace demands. In healthcare settings, high workloads, rapid changes in healthcare services, and increasing professional responsibilities require healthcare workers to maintain both energy and continuous development. One personal factor that may enhance Thriving at Work is Core Self-Evaluation, which reflects individuals' fundamental evaluations of their own worth, competence, emotional stability, and control over life events. This study aimed to examine the contribution of Core Self-Evaluation to Thriving at Work among healthcare workers in Cianjur Regency. A quantitative correlational design was employed involving 124 healthcare workers selected through convenience sampling. Data were collected using the Core Self-Evaluations Scale and the Thriving at Work Scale. The data were analyzed using simple linear regression after meeting the assumptions of normality, linearity, and homoscedasticity. The findings revealed that Core Self-Evaluation had a significant positive contribution to Thriving at Work (p < 0.001), explaining 57.6% of the variance (R² = 0.576). These findings indicate that healthcare workers with higher Core Self-Evaluation are more likely to experience greater vitality and continuous learning in the workplace. Abstrak. Thriving at Work merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai dengan adanya vitality dan learning dalam bekerja. Pada tenaga kesehatan, kondisi ini penting untuk mendukung kualitas pelayanan di tengah tingginya tuntutan kerja dan perubahan yang terus terjadi dalam lingkungan pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap Thriving at Work adalah Core Self-Evaluation, yaitu penilaian mendasar individu terhadap kemampuan, nilai diri, stabilitas emosi, dan kendali atas kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi Core Self-Evaluation terhadap Thriving at Work pada tenaga kesehatan di Kabupaten Cianjur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 124 tenaga kesehatan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen yang digunakan adalah Core Self-Evaluations Scale dan Thriving at Work Scale. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana setelah memenuhi uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Core Self-Evaluation berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap Thriving at Work dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,576. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi Core Self-Evaluation yang dimiliki tenaga kesehatan, semakin tinggi pula tingkat Thriving at Work yang mereka alami.
Studi Kontribusi Beban Kerja terhadap Cyberloafing pada Karyawan Perbankan Kota Bandung Nasywa Zhafirah; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 1173-1182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24821

Abstract

Abstract. High job demands in the banking sector may increase employees' tendency to engage in cyberloafing, defined as using the internet for non-work-related purposes during working hours and regarded as a form of workplace deviance. This study aimed to examine the contribution of workload to minor cyberloafing and serious cyberloafing among banking employees in Bandung City. A quantitative non-experimental approach with a one-way correlational and cross-sectional design was employed. A total of 144 banking employees were recruited using a convenience sampling technique. Workload was measured using the NASA Task Load Index (NASA-TLX), while cyberloafing was assessed using the Indonesian-adapted Cyberloafing Scale. Data were analyzed using simple linear regression. The results showed that most respondents reported high levels of workload and minor cyberloafing, whereas serious cyberloafing was generally low. Workload made a positive and significant contribution to minor cyberloafing (R² = 0.408, p < .001) and serious cyberloafing (R² = 0.153, p < .001). These findings indicate that increased workload is more strongly associated with minor cyberloafing than serious cyberloafing. Organizations are encouraged to manage workload more effectively, and future studies should examine additional factors influencing cyberloafing. Abstrak. Tingginya tuntutan kerja pada sektor perbankan berpotensi meningkatkan kecenderungan karyawan menggunakan internet untuk kepentingan di luar pekerjaan (cyberloafing), yang dipandang sebagai bentuk workplace deviance. Penelitian ini bertujuan mengetahui kontribusi beban kerja terhadap minor cyberloafing dan serious cyberloafing pada karyawan perbankan di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional satu arah dan metode cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 144 karyawan perbankan yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Beban kerja diukur menggunakan NASA Task Load Index (NASA-TLX), sedangkan cyberloafing diukur menggunakan Cyberloafing Scale yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki tingkat beban kerja dan minor cyberloafing yang tinggi, sedangkan serious cyberloafing berada pada kategori rendah. Beban kerja berkontribusi positif dan signifikan terhadap minor cyberloafing (R² = 0,408; p < 0,001) dan serious cyberloafing (R² = 0,153; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan beban kerja lebih berkaitan dengan munculnya minor cyberloafing dibandingkan serious cyberloafing. Organisasi disarankan mengelola beban kerja secara lebih proporsional, sedangkan penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan faktor lain yang memengaruhi cyberloafing.
Perceived Social Support and Psychological Distress among Healthcare Workers Anggina Esty Namora Siregar; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science 845-852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.26294

Abstract

Abstract. Health workers are highly vulnerable to experiencing psychological distress due to high workloads, work pressure, and professional responsibilities. Social support is considered one of the protective factors that may reduce psychological distress among health workers. This study aimed to analyze the contribution of social support to psychological distress among health workers in South Tapanuli Regency. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional correlational design involving 125 health workers from RSUD Sipirok and Puskesmas Pintu Padang. Respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through an online questionnaire using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data were analyzed using Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) through normality, linearity, heteroscedasticity, and simple linear regression tests. The results showed that social support had a significant negative effect on psychological distress (B = -0.167; p = 0.013). The coefficient of determination indicated that social support contributed 4.9% to the variance in psychological distress, while the remaining 95.1% was explained by other variables outside the model. These findings indicate that increasing perceived social support can help reduce psychological distress among health workers. Therefore, health institutions are encouraged to strengthen social support systems to maintain the psychological well-being of health workers and improve healthcare service quality. Abstrak. Tenaga kesehatan merupakan kelompok pekerja yang rentan mengalami psychological distress akibat tingginya beban kerja, tekanan pekerjaan, dan tanggung jawab profesional. Dukungan sosial dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang dapat menurunkan tingkat psychological distress. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi dukungan sosial terhadap psychological distress pada tenaga kesehatan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional yang melibatkan 125 tenaga kesehatan di RSUD Sipirok dan Puskesmas Pintu Padang. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan instrumen Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Kessler Psychological Distress Scale (K10). Analisis data dilakukan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) melalui uji normalitas, uji linearitas, uji heteroskedastisitas, dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap psychological distress (B = -0,167; p = 0,013). Nilai koefisien determinasi sebesar 4,9% menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi terhadap variasi psychological distress, sedangkan 95,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima tenaga kesehatan, maka semakin rendah tingkat psychological distress yang dialami.