Potato cultivation in medium-altitude areas offers an opportunity to expand production while reducing environmental pressure in highland areas, but pest management must minimize reliance on synthetic pesticides. This study described environmentally friendly cultivation practices and the use of biopesticides by Granola potato farmers in Bonto Marannu Village, Ulu Ere District, Bantaeng Regency. A descriptive case-study approach was applied to 10 farmers from the Abbulo Sibatang and Samaturu farmer groups. Data were collected through interviews, field observations, and secondary records, then summarized using descriptive statistics and a comparison of reported cultivation indicators. Respondents had an average age of 42.6 years, cultivated 2.50 ha of land, had 10.5 years of farming experience, and produced 14.3 t/ha on average. Reported field indicators showed that biopesticide application reduced pest attack intensity from 40% to 20% and leaf damage from 35% to 15%, while the proportion of grade-A tubers increased from 60% to 75%. However, the comparative production record decreased from 18–19 to 15–16 t/ha. These findings indicate that biopesticides can improve pest suppression and tuber quality, but ecological benefits do not automatically increase yield. Standardization of formulation, dose, application frequency, and economic evaluation is required before the practice can be recommended more broadly. Budidaya kentang di dataran medium berpeluang memperluas wilayah produksi sekaligus mengurangi tekanan lingkungan di dataran tinggi, tetapi pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetis. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya ramah lingkungan dan penggunaan biopestisida oleh petani kentang varietas Granola di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 10 petani dari kelompok tani Abbulo Sibatang dan Samaturu. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, dan data sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui peringkasan karakteristik responden dan perbandingan indikator budidaya yang dilaporkan. Responden memiliki rata-rata umur 42,6 tahun, luas lahan 2,50 ha, pengalaman bertani 10,5 tahun, dan hasil panen 14,3 ton/ha. Data lapangan menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida menurunkan intensitas serangan hama dari 40% menjadi 20% dan kerusakan daun dari 35% menjadi 15%, sedangkan proporsi umbi grade A meningkat dari 60% menjadi 75%. Namun, catatan produksi komparatif menurun dari 18–19 menjadi 15–16 ton/ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa biopestisida berpotensi memperbaiki pengendalian hama dan kualitas umbi, tetapi manfaat ekologis belum otomatis meningkatkan produktivitas. Standardisasi formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan evaluasi ekonomi diperlukan sebelum praktik ini direkomendasikan secara lebih luas.