Zulkifli Maulana
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bayam Merah Alternanthera amoena Voss Dengan Pemberian Takaran Kompos Limbah Kulit Kopi Dan EM4 Maikel Lololangi; Zulkifli Maulana; Rahmadi Jasmin
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 1 No. 1 (2023): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Januari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red spinach (Alternanthera amoena Voss) is a vegetable with better nutritional value than green spinach. Coffee husks are agricultural waste that can be used as a corn substitute due to their high energy and protein content. The aim of the study was to determine the best dosage of compost made from coffee skin waste and the best effect on the growth of red spinach plants. To find out the best dose of EM4 for the production of Red Spinach plants. This research was conducted in the form of an experiment arranged using a randomized block (RBD) design with 5 treatments and 3 replicates to obtain 15 experimental units. The treatments tested were P0: 0 g coffee pod/plant bark waste compost + 0 mL EM4 (control), P1: 10 g coffee pod/plant bark waste compost + 20 mL EM4, P2: 20 g coffee pod/plant waste compost + 10 mL EM4, P3: 30 g coffee pod/vegetable waste compost + 10 mL EM4, P4 : 30 g coffee pod/vegetable waste compost + 20 mL EM4. As a result, the best results for plant height, leaf count, root length and fresh weight of red spinach plants could be achieved with a dose of 30 g compost from coffee pods/plant waste + 10 mL EM4. Bayam merah (Alternanthera amoena Voss)  merupakan tanaman sayuran yang mengandung nilai gizi lebih baik, jika dibandingkan dengan bayam hijau. Kulit kopi merupakan limbah pertanian yang bisa digunakan sebagai pakan pengganti jagung karena memiliki kandungan energi serta protein yang cukup tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui dosis pemberian pupuk kompos limbah kulit kopi dan yang terbaik terhadap pertumbuhan tanaman bayam merah. Untuk mengetahui dosis pemberian EM4 yang terbaik terhadap hasil produksi tanaman Bayam Merah. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk percobaan yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK)  dengan perlakuan 5  perlakuan dan 3 ulangan sehingga diperoleh 15 unit percobaan. Perlakuan yang dicobakan yakni P0 :  0 g kompos limbah kulit buah kopi /tanaman + 0 mL EM4 (Kontrol), P1 : 10 g kompos limbah kulit buah kopi/tanaman + 20 mL EM4, P2 : 20 g kompos limbah kulit buah kopi /tanaman + 10 mL EM4, P3 : 30 g kompos limbah kulit buah kopi /tanaman + 10 mL EM4, P4 : 30 g kompos limbah kulit buah kopi /tanaman + 20 mL EM4. Hasilnya, pemberian dosis 30 g kompos limbah kulit buah kopi /tanaman + 10 mL EM4 mampu memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, dan berat basah tanaman bayam merah.
Pengaruh Beberapa Dosis Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Tanaman Cabe Rawit Capsicum frutescens L. Muh. Fuad Fisabilillah; Zulkifli Maulana; M. Arif Nasution
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 1 No. 2 (2023): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v1i2.2446

Abstract

This study aims to determine the effect of growth and production of cayenne pepper through several doses of liquid organic fertilizer. The use of this research is to increase knowledge and insight and to provide information on how to cultivate, especially cayenne pepper by administering several doses of liquid organic fertilizer. This research was conducted in Dongi Hamlet, Manympa Village, Ujungloe District, Bulukumba Regency, South Sulawesi which was carried out from May to September 2022. The research was carried out in the form of an experiment arranged according to a Randomized Block Design (RBD) consisting of five treatment levels and three replications. The treatment tested was a dose of liquid organic fertilizer consisting of control (without treatment), 3.5 ml/plant, 7 ml/plant, 10.5 ml/plant and 14 ml/plant. Each treatment was repeated three times to obtain 15 experimental units. Each experimental unit used three plants so that the total experimental plants were 45 trees. The experimental results showed that the 10.5 ml/liter liquid organic fertilizer treatment had the best effect on plants during the vegetative period and the 14 ml/liter liquid organic fertilizer treatment had a better effect on the production of cayenne pepper plants to get better result. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan dan produksi cabai rawit melalui beberapa dosis pupuk organik cair. Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat memberikan informasi tentang cara bercocok tanam khususnya cabai rawit dengan pemberian beberapa dosis pupuk organik cair. Penelitian ini dilakukan di Dusun Dongi, Desa Manyampa, Kecamatan Ujungloe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2022. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan yang disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari lima taraf perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah dosis pupuk organik cair yang terdiri dari kontrol (tanpa perlakuan), 3,5 ml/tanaman, 7 ml/tanaman, 10,5 ml/tanaman dan 14 ml/tanaman. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 15 satuan percobaan. Setiap unit percobaan menggunakan tiga tanaman sehingga total tanaman percobaan adalah 45 pohon. Hasil percobaan bahwa perlakuan pupuk organik cair 10,5 ml/liter memberikan pengaruh terbaik pada tanaman pada saat masa vegetatif dan perlakuan pupuk organik cair 14ml/liter memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap produksi tanaman cabai rawit untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai Glycine max L. Pada Pemberian Kombinasi Arang Sekam Dengan Pupuk Kandang Ayam Stefanus Silalong Palumpun; Andi Muhibudin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 3 No. 2 (2025): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v3i2.4815

Abstract

This research aims to determine the effect of a combination of husk charcoal and chicken manure on the growth of soybean plants (Glycine max L.). This research was carried out at the Integrated Farming System Education Garden, Faculty of Agriculture, Bosowa University, on JL. Raya Poros Sapayya, Bontoramba Village, Palangga District, Gowa Regency, South Sulawesi. This research started from May to July 2024. This research used a Randomized Block Design (RAK) with 5 treatments, namely without husk charcoal and chicken manure as a control, 500 g husk charcoal + 50 g chicken manure, 600 g husk charcoal + 60 g chicken manure, 700 g husk charcoal + 70 g chicken manure and 800 g husk charcoal + 80 g chicken manure and 3 repetitions. The results of the research showed that the best growth and production was with a combined dose of 800 g of husk charcoal and 80 g of chicken manure which was able to provide growth and production in terms of plant height, stem diameter, number of pods, weight of the pods contained, seed weight of 100 g/plot, weight of the seed planting. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi takaran arang sekam dan pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max L.). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Pendidikan Integrated Farming System Fakultas Pertanian Universitas Bosowa, di JL. Raya Poros Sapayya, Desa Bontoramba, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Penelitian ini dimulai pada bulan Mei sampai Juli 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yaitu tanpa arang sekam dan pupuk kandang ayam sebagai kontrol, 500 g arang sekam + 50 g pupuk kandang ayam, 600 g arang sekam + 60 g pupuk kandang ayam, 700 g arang sekam + 70 g pupuk kandang ayam dan 800 g arang sekam + 80 g pupuk kandang ayam serta 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan dan produksi terbaik yaitu dengan dosis kombinasi 800 g arang sekam dan 80 g pupuk kandang ayam yang mampu memberikan pertumbuhan dan produksi pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah polong, berat polong berisi, berat biji 100 g/ plot, berat biji pertanaman.
Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) Ramah Lingkungan di Dataran Medium Bonto Marannu Nurul Hicmah; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5538

Abstract

Potato cultivation in medium-altitude areas offers an opportunity to expand production while reducing environmental pressure in highland areas, but pest management must minimize reliance on synthetic pesticides. This study described environmentally friendly cultivation practices and the use of biopesticides by Granola potato farmers in Bonto Marannu Village, Ulu Ere District, Bantaeng Regency. A descriptive case-study approach was applied to 10 farmers from the Abbulo Sibatang and Samaturu farmer groups. Data were collected through interviews, field observations, and secondary records, then summarized using descriptive statistics and a comparison of reported cultivation indicators. Respondents had an average age of 42.6 years, cultivated 2.50 ha of land, had 10.5 years of farming experience, and produced 14.3 t/ha on average. Reported field indicators showed that biopesticide application reduced pest attack intensity from 40% to 20% and leaf damage from 35% to 15%, while the proportion of grade-A tubers increased from 60% to 75%. However, the comparative production record decreased from 18–19 to 15–16 t/ha. These findings indicate that biopesticides can improve pest suppression and tuber quality, but ecological benefits do not automatically increase yield. Standardization of formulation, dose, application frequency, and economic evaluation is required before the practice can be recommended more broadly. Budidaya kentang di dataran medium berpeluang memperluas wilayah produksi sekaligus mengurangi tekanan lingkungan di dataran tinggi, tetapi pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu mengurangi ketergantungan pada pestisida sintetis. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya ramah lingkungan dan penggunaan biopestisida oleh petani kentang varietas Granola di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 10 petani dari kelompok tani Abbulo Sibatang dan Samaturu. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, dan data sekunder, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui peringkasan karakteristik responden dan perbandingan indikator budidaya yang dilaporkan. Responden memiliki rata-rata umur 42,6 tahun, luas lahan 2,50 ha, pengalaman bertani 10,5 tahun, dan hasil panen 14,3 ton/ha. Data lapangan menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida menurunkan intensitas serangan hama dari 40% menjadi 20% dan kerusakan daun dari 35% menjadi 15%, sedangkan proporsi umbi grade A meningkat dari 60% menjadi 75%. Namun, catatan produksi komparatif menurun dari 18–19 menjadi 15–16 ton/ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa biopestisida berpotensi memperbaiki pengendalian hama dan kualitas umbi, tetapi manfaat ekologis belum otomatis meningkatkan produktivitas. Standardisasi formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan evaluasi ekonomi diperlukan sebelum praktik ini direkomendasikan secara lebih luas.
Demonstrasi Teknik Budidaya Kentang Di Desa Bonto Marannu Krisnur Ira Kornelius TB Kornelius; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5541

Abstract

Potato productivity in Bonto Marannu Village is constrained by seed quality, crop management, and pest pressure. This study described farmers' cultivation practices and evaluated the production recorded in a demonstration plot that introduced improved land preparation, selected seed, organic fertilization, and plant-based pest management. A descriptive case-study design was conducted from July to September 2024 with 10 potato farmers from the Hortikultura and Gunung Loka farmer groups. Data were collected through field observation, interviews, questionnaires, and documentation, then summarized descriptively. Respondents were 30-52 years old, had 8-20 years of farming experience, and cultivated 0.7-3.0 ha. Farmers commonly prepared raised beds, planted Granola seed at 25 x 30 cm spacing, applied manure and liquid organic fertilizer, controlled pests using gamal-leaf biopesticide, and harvested at 90-100 days after planting. Farmer productivity was reported at approximately 14-15 t/ha, whereas the demonstration plot produced 15.90 t/ha. The 0.90-1.90 t/ha difference indicates potential improvement under more structured management, but it cannot be attributed solely to the biopesticide because the demonstration did not include a replicated control. The practice should therefore be validated through controlled trials, standardized input doses, and economic analysis before wider recommendation. Produktivitas kentang di Desa Bonto Marannu masih dibatasi oleh mutu benih, pengelolaan budidaya, dan tekanan organisme pengganggu tanaman. Penelitian ini mendeskripsikan teknik budidaya petani dan mengevaluasi hasil demonstrasi yang memperkenalkan perbaikan pengolahan lahan, pemilihan benih, pemupukan organik, serta pengendalian hama berbahan nabati. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif pada Juli-September 2024 dengan melibatkan 10 petani dari Kelompok Tani Hortikultura dan Gunung Loka. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Responden berumur 30-52 tahun, memiliki pengalaman bertani 8-20 tahun, dan mengelola lahan 0,7-3,0 ha. Praktik budidaya meliputi pembuatan bedengan, penanaman benih Granola dengan jarak 25 x 30 cm, pemupukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair, pengendalian hama dengan biopestisida daun gamal, serta panen pada umur 90-100 hari setelah tanam. Produktivitas petani dilaporkan sekitar 14-15 ton/ha, sedangkan demonstrasi menghasilkan 15,90 ton/ha. Selisih 0,90-1,90 ton/ha menunjukkan potensi perbaikan melalui pengelolaan yang lebih terstruktur, tetapi belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida karena demonstrasi tidak menggunakan kontrol dan ulangan eksperimental. Teknik tersebut perlu divalidasi melalui percobaan terkontrol, standardisasi dosis input, dan analisis ekonomi sebelum direkomendasikan secara luas.
Demonstrasi Budidaya Bawang Merah Berbasis Biopestisida Daun Gamal Di Bonto Marannu Fidelis Andi Sa'pang; A. Muhibuddin Muhibuddin; Zulkifli Maulana
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.5542

Abstract

Shallot farmers in Bonto Marannu apply diverse cultivation practices and still rely partly on synthetic inputs for pest and disease management. This study described farmer characteristics, cultivation practices, and the production achieved in a demonstration plot using gamal leaf biopesticide. The study was conducted from July to August 2024 using a descriptive case-study approach involving 12 farmers from the Montea and Sipassiriki farmer groups, six respondents from each group. Data were collected through observation, interviews, questionnaires, and documentation. Respondents had a mean age of 44.7 years, cultivated 2.51 ha on average, and had 17.9 years of farming experience. The main practices included a spacing of 15 × 20 cm, Phonska and urea fertilization, and chemical fungicide application for fungal disease control. Mean farmer production was 9.33 t/ha in Montea and 8.67 t/ha in Sipassiriki, whereas the demonstration plot produced 11.50 t/ha. The higher demonstration-plot yield is descriptive and cannot be attributed solely to gamal leaf biopesticide because the plot size, untreated control, and replication were not reported. The practice is nevertheless relevant as an environmentally friendlier component of integrated crop management, provided that formulation, dose, application frequency, and target pests are standardized. Petani bawang merah di Desa Bonto Marannu menerapkan teknik budidaya yang beragam dan masih menggunakan sebagian input sintetis untuk pengendalian hama dan penyakit. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik petani, teknik budidaya, serta hasil produksi pada demonstrasi plot yang menggunakan biopestisida daun gamal. Penelitian dilaksanakan pada Juli–Agustus 2024 menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif terhadap 12 petani dari Kelompok Tani Montea dan Sipassiriki, masing-masing enam responden. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Responden memiliki rata-rata umur 44,7 tahun, luas lahan 2,51 ha, dan pengalaman bertani 17,9 tahun. Teknik utama meliputi jarak tanam 15 × 20 cm, pemupukan Phonska dan urea, serta penggunaan fungisida kimia untuk pengendalian penyakit jamur. Rata-rata produksi petani mencapai 9,33 ton/ha pada Kelompok Tani Montea dan 8,67 ton/ha pada Kelompok Tani Sipassiriki, sedangkan demonstrasi plot menghasilkan 11,50 ton/ha. Hasil demonstrasi plot yang lebih tinggi bersifat deskriptif dan belum dapat dikaitkan hanya dengan biopestisida daun gamal karena ukuran plot, kontrol tanpa biopestisida, dan ulangan tidak dilaporkan. Biopestisida daun gamal tetap relevan sebagai komponen budidaya yang lebih ramah lingkungan apabila formulasi, dosis, frekuensi aplikasi, dan organisme sasaran distandardisasi.
Respons Selada Merah (Lactuca sativa L.) Terhadap Konsentrasi AB Mix Pada Hidroponik NFT Sheila Triana Tulak; Zulkifli Maulana; Muhamad Arief Nasution
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.7045

Abstract

Nutrient concentration is a major determinant of crop performance in nutrient film technique (NFT) hydroponics. This study evaluated the growth and productivity response of red lettuce (Lactuca sativa var. Red Rapid) to different AB Mix concentrations. The experiment was conducted in the greenhouse of the Universitas Bosowa Educational Garden, Bontoramba, Pallangga, Gowa, from 14 April to 23 May 2025. A randomized block design was used with five concentrations, namely 560, 630, 700, 770, and 840 ppm, and three replications. Plant height, number of leaves, leaf area, fresh weight, and root volume were observed. The response differed among traits. A concentration of 770 ppm produced the highest plant height at five weeks after planting (15.96 cm). A concentration of 840 ppm produced the highest fresh weight (57.11 g), root volume (30 mL), and leaf area (115.44 cm²). These results indicate that the concentration producing maximum vegetative height was not identical to that producing the greatest biomass and root development. For production-oriented cultivation, 840 ppm provided the strongest overall performance, whereas 770 ppm was most favorable for plant height. Konsentrasi larutan nutrisi merupakan faktor utama yang menentukan kinerja tanaman pada hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons pertumbuhan dan produktivitas selada merah (Lactuca sativa var. Red Rapid) terhadap berbagai konsentrasi pupuk AB Mix. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Kebun Pendidikan Universitas Bosowa, Bontoramba, Pallangga, Gowa, pada 14 April–23 Mei 2025. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima konsentrasi, yaitu 560, 630, 700, 770, dan 840 ppm, serta tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah, dan volume akar. Respons terbaik berbeda antarparameter. Konsentrasi 770 ppm menghasilkan tinggi tanaman tertinggi pada umur 5 MST, yaitu 15,96 cm. Konsentrasi 840 ppm menghasilkan bobot basah (57,11 g), volume akar (30 mL), dan luas daun (115,44 cm²) tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa konsentrasi yang memaksimalkan tinggi tanaman tidak sama dengan konsentrasi yang menghasilkan biomassa dan perkembangan akar tertinggi. Untuk tujuan produksi, konsentrasi 840 ppm memberikan kinerja keseluruhan paling kuat, sedangkan 770 ppm paling mendukung pertumbuhan tinggi tanaman.
Pengaruh Pupuk Organik Cair Limbah Ikan terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Panjang Miranti Miranti; Zulkifli Maulana; A Faturahman Hala
PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research Vol. 4 No. 2 (2026): PALLANGGA: Journal of Agriculture Science and Research, Juli 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/pallangga.v4i2.7070

Abstract

Fish-processing waste can be converted into liquid organic fertilizer (LOF), offering a potential nutrient source while reducing organic waste. This study evaluated the response of yardlong bean (Vigna sinensis L.) growth and yield to different concentrations of fish-waste LOF. The experiment was conducted at the Integrated Farming System Educational Garden of Universitas Bosowa using a randomized block design with four treatments, namely P0 (0 mL/L), P1 (50 mL/L), P2 (75 mL/L), and P3 (85 mL/L), and three replications. The recorded vegetative variables were plant height, number of leaves, stem diameter, and leaf width, whereas the generative variables were pod length, fresh pod weight, and number of pods. Based on the treatment means, P3 produced the greatest plant height (190.83 cm), stem diameter (4.38 mm), and fresh pod weight (531.40 g). P1 produced the highest number of leaves (64.30), leaf width (8.07 cm), and pod length (82.09 cm), while P2 produced the highest number of pods (11.87). Overall, concentrations of 75–85 mL/L provided the strongest yield response, although the best concentration differed among measured traits. Limbah pengolahan ikan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC), sehingga berpotensi menyediakan unsur hara sekaligus mengurangi limbah organik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons pertumbuhan dan hasil kacang panjang (Vigna sinensis L.) terhadap berbagai konsentrasi POC limbah ikan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan Integrated Farming System Universitas Bosowa menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan, yaitu P0 (0 mL/L), P1 (50 mL/L), P2 (75 mL/L), dan P3 (85 mL/L), serta tiga ulangan. Parameter vegetatif meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan lebar daun, sedangkan parameter generatif meliputi panjang polong, berat segar polong, dan jumlah polong. Berdasarkan nilai rerata perlakuan, P3 menghasilkan tinggi tanaman (190,83 cm), diameter batang (4,38 mm), dan berat segar polong (531,40 g) tertinggi. P1 menghasilkan jumlah daun (64,30 helai), lebar daun (8,07 cm), dan panjang polong (82,09 cm) tertinggi, sedangkan P2 menghasilkan jumlah polong terbanyak (11,87 buah). Secara keseluruhan, konsentrasi 75–85 mL/L memberikan respons hasil paling kuat, meskipun konsentrasi terbaik berbeda antarparameter.