Manajemen logistik obat di puskesmas bertujuan menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian dan kepatuhan prosedural manajemen logistik obat pada seluruh tahapan siklus pengelolaan obat di Puskesmas X berdasarkan standar pelayanan kefarmasian yang berlaku. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari dokumen logistik obat tahun 2025 yang meliputi Rencana Kebutuhan Obat (RKO), Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO), kartu stok, dokumen stock opname, dan pencatatan elektronik, yang dilengkapi dengan observasi terstruktur dan wawancara terhadap lima informan yang terlibat dalam pengelolaan obat. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase kepatuhan dan tingkat ketersediaan obat dalam satuan bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian item obat dengan Formularium Nasional sebesar 74,92% dan dengan Formularium Dinas Kesehatan sebesar 69,32%. Rata-rata ketepatan permintaan pada 20 item obat dengan pemakaian tertinggi sebesar 77,98%. Tahap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, serta pemantauan dan evaluasi mencapai kepatuhan prosedural 100%. Rata-rata tingkat ketersediaan obat sebesar 16,70 bulan. Meskipun sebagian besar tahapan operasional telah memenuhi prosedur yang dinilai, aspek perencanaan dan permintaan masih belum optimal dan berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan persediaan. Secara keseluruhan, manajemen logistik obat di Puskesmas X telah terlaksana pada sebagian besar tahapan operasional, tetapi masih memerlukan optimalisasi pada aspek sumber daya manusia, perencanaan, dan permintaan obat. Penguatan perencanaan berbasis data, sinkronisasi RKO dan LPLPO, serta peningkatan koordinasi dengan Dinas Kesehatan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan obat.