Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Analysis of The Relationship Between Polypharmacy and Potentially Inappropriate Medications (PIMs) Based on The 2023 Beers Criteria in Geriatric Diabetes Mellitus Patients Oktavian Asyon Herlambang; Aprilia Puteri Santika; Septian Maulid Wicahyo
Duta Pharma Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/pqjb4t96

Abstract

Background: Diabetes mellitus can cause various complications if it is not controlled, resulting in the risk of increasing the number drugs prescribed. The number of medications is one factor that can describe the incidence of Potentially Inappropriate Medications (PIMs). Objectives: This Research is to determine the percentage of PIMs based on the Beers Criteria 2023 and to determine the relationship between the number of drug prescriptions and the incidence of PIMs. Methods: used is descriptive observational. A sample of 120 recipes was carried out using purposive sampling which met the inclusion criteria. Data analysis using the chi square test and correlative contingency coefficient test. Results: the research showed that the demographic characteristics of geriatric diabetes mellitus patients at RSU Asy Syifa' Sambi Boyolali for the period January-March 2025 were dominated by female patients of 76 patients (63.33%), the majority aged 60-69 years, namely 83 patients (69.17%), the number of drugs ? 5 namely of  78 patients (65%), and 114 patients (95%) had comorbidities.There is a percentage of PIMs in the amount of 32.24% of the total drug items, the highest number of PIMs is category 2, namely 32.49%. Based on the results of statistical tests, it shows a p-value of 0.217 (p > 0.05), which means there is no statistically significant relationship between the amount of medication and the incidence of PIMs. Apart from that, the correlation coefficient value for the two variables is 0.112, indicating that the level of strength of the relationship is in the very weak category. Conclusion: An increasing the number of prescribed medications is not the only factor contributing to PIMs. The association between polypharmacy and PIM was not statistically significant (p=0.217) and showed a very weak value. These findings emphasize that in geriatric diabetes care, quality prescribing, appropriate management of complex comorbidities, and regular clinical monitoring effectively reduce the risk of polypharmacy. Therefore, evaluating the appropriateness of therapy is far more important than simply limiting the number of medications.
Design Of New Compounds Derived From Rosella Flavonoids As Diabetes Mellitus Enzyme Inhibitors Using Computer-Aided Drug Design Strategy Oktavia Nanda lestari; Tiara Ajeng Litsyani; Septian Maulid Wicahyo
International Journal of Health Engineering and Technology Vol. 4 No. 6 (2026): IJHET MARCH 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhet.v4i6.603

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is increasing rapidly in Indonesia with a projected prevalence of 16.09% in 2045, requiring local plant-based α-amylase and α-glucosidase enzyme inhibitors such as the flavonoid kaempferol-3-O-rutinoside from roselle flowers (Hibiscus sabdariffa L.), which shows potential in silico inhibition but suboptimal ADMETox profile. This in silico computational experimental study aims to design kaempferol-3-O-rutinoside derivative compounds as effective inhibitors through computer-aided drug design, with a population of parent compounds, target enzymes, and acarbose as controls; purposive samples in the form of substituent modifications; PyRx-AutoDock Vina, SwissADME, Toxtree instruments; and molecular docking analysis techniques (ΔG, RMSD) and ADMETox prediction. The results showed a new compound with ΔGbind -5.0 kcal/mol (α-amylase, RMSD 1.538), -5.2 kcal/mol (α-glucosidase, RMSD 2.08), similarity of residues Asn A 570, Asp A 243, Val A 867, high GI absorption (molecular weight 340.41 g/mol, LogP 0.06), and low class I toxicity. In conclusion, the new compound has the potential as a safe oral antidiabetic drug candidate, in vitro/in vivo validation is recommended for further development
Determination Of Sun Protection Factor (SPF) Values Of Water, Ethyl Acetate, And N-Hexane Fractions Of Kepok Banana Flowers (Musa acuminata x M. balbisiana) Using The UV-Vis Spectrophotometry Method Evi Eriani; Septian Maulid Wicahyo; Tatiana Siska Wardani
International Journal of Health Engineering and Technology Vol. 4 No. 6 (2026): IJHET MARCH 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhet.v4i6.636

Abstract

Indonesia as a tropical country faces high UV exposure which causes premature skin aging and cancer risk, so it is necessary to have natural sunscreen from antioxidant-rich plants such as kepok banana flowers (Musa acuminata x M. balbisiana). This study aims to determine the Sun Protection Factor (SPF) value and protection category of water, ethyl acetate, and n-hexane fractions of kepok banana flowers. This type of research is descriptive experimental with ethanol maceration method, multilevel fractionation, phytochemical screening, TLC, and UV-Vis spectrophotometry (290-320 nm, Mansur formula).The results showed that the different types of solvents in each fraction influenced the resulting SPF value. The ethyl acetate fraction showed the highest protective activity compared to the other fractions. The SPF values ​​of the kepok banana flower water fraction with concentrations of 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm, 120 ppm, and 140 ppm were 4.662; 7.757; 9.055; 11.944; 15.264, respectively, with moderate-ultra protection. The ethyl acetate fraction obtained SPF values ​​of 18.433; 18.968; 19.203; 19.672; 20.203 with ultra protection. The n-hexane fraction obtained SPF values ​​of 1.190; 1.762; 2.278; 3.575; 4.598 with the category of no-moderate protection.. Concludedthat kepok banana flowers have potential as a natural sunscreen agent, where the ethyl acetate and water fractions provide the most optimal sun protection effectiveness (SPF) compared to the n-hexane fraction.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) terhadap Bakteri Salmonella typhi ATCC 13311 Tiara Nurul Hidayah; Tatiana Siska Wardani; Septian Maulid Wicahyo
Mantra Bhakti Vol. 3 No. 2: Juni 2026
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47575/mb.v3i2.907

Abstract

Samonella typhi merupakan bakteri penyebab demam tifoid yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotik. Kondisi ini mendorong pengembangan antibakteri alternatif dari senyawa bioaktif tanaman obat. Daun kelor diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan air daun kelor terhadap bakteri Samonella typhi, serta mengetahui nilai KHM dan KBM dari ekstrak atau fraksi teraktif terhadap Samonea typhi. Proses ekstraksi simpisia sebanyak 700 gram menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak hasil maserasi selanjutnya difraksinasi menghasilkan fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi dan dilusi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan fraksi air memiliki aktivitas antibakteri terhadap Samonella typhi. Ekstrak menjadi yang paling aktif dalam menghambat Samonella typhi dilihat dari nilai zona hambatnya pada konsentrasi 80%. Sebesar 13,5 mm dengan kategori kuat. Ekstrak etanol daun kelor memiliki nilai KHM pada konsentrasi 10% dan nilai KBM pada konsentrasi 20%.
Analisis Manajemen Logistik Obat di Instalasi Farmasi Puskesmas X Anisa Wulandari; Vivin Marwiyati Rohmana; Septian Maulid Wicahyo
An-Najat Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus: An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v4i3.3908

Abstract

Manajemen logistik obat di puskesmas bertujuan menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian dan kepatuhan prosedural manajemen logistik obat pada seluruh tahapan siklus pengelolaan obat di Puskesmas X berdasarkan standar pelayanan kefarmasian yang berlaku. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data diperoleh dari dokumen logistik obat tahun 2025 yang meliputi Rencana Kebutuhan Obat (RKO), Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO), kartu stok, dokumen stock opname, dan pencatatan elektronik, yang dilengkapi dengan observasi terstruktur dan wawancara terhadap lima informan yang terlibat dalam pengelolaan obat. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan persentase kepatuhan dan tingkat ketersediaan obat dalam satuan bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian item obat dengan Formularium Nasional sebesar 74,92% dan dengan Formularium Dinas Kesehatan sebesar 69,32%. Rata-rata ketepatan permintaan pada 20 item obat dengan pemakaian tertinggi sebesar 77,98%. Tahap penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, serta pemantauan dan evaluasi mencapai kepatuhan prosedural 100%. Rata-rata tingkat ketersediaan obat sebesar 16,70 bulan. Meskipun sebagian besar tahapan operasional telah memenuhi prosedur yang dinilai, aspek perencanaan dan permintaan masih belum optimal dan berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan persediaan. Secara keseluruhan, manajemen logistik obat di Puskesmas X telah terlaksana pada sebagian besar tahapan operasional, tetapi masih memerlukan optimalisasi pada aspek sumber daya manusia, perencanaan, dan permintaan obat. Penguatan perencanaan berbasis data, sinkronisasi RKO dan LPLPO, serta peningkatan koordinasi dengan Dinas Kesehatan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan obat.
Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Gel Anti Jerawat Ekstrak Daun Sirih Gading Lemon (Epipremnum aureum) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes ATCC 6919 Elsa Vernanda Candra Dewi; Septian Maulid Wicahyo; Annie Rahmatillah
An-Najat Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus: An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v4i3.3984

Abstract

Acne (acne vulgaris) is a skin condition caused by various factors, one of which is infection by the bacterium Propionibacterium acnes. The leaves of the lemon pothos (Epipremnum aureum) are known to contain secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, and triterpenoids that have potential antibacterial properties. This study aims to determine the physical quality of an ethanol leaf extract gel formulation of golden pothos, its antibacterial activity against Propionibacterium acnes ATCC 6919, and to identify the optimal gel concentration for inhibiting the growth of this bacterium. The study showed that all gel formulations met physical quality requirements, including organoleptic properties, homogeneity, pH, viscosity, and spreadability. Phytochemical analysis revealed that the ethanol extract of lemon-leaved betel leaves contains flavonoids, alkaloids, saponins, tannins, and triterpenoids. The average inhibition zone diameters against Propionibacterium acnes were 6.1 mm at 4%, 7.4 mm at 8%, and 9.3 mm at 16%, respectively, while the positive control measured 12.1 mm, and the negative control showed no inhibitory effect. The results of the One-Way ANOVA test showed a significant difference among the treatment groups (p = 0.006).
Uji Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Kombinasi Daun Belimbing Wuluh  (Averrhoa Bilimbi L.) dan Rambut Jagung (Zea Mays L.) terhadap Mencit Jantan (Mus Musculus L.) yang Diinduksi Pepton 5% Zainul ‘Arifah; Septian Maulid Wicahyo; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.292

Abstract

Latar Belakang: Demam merupakan respons tubuh terhadap infeksi atau peradangan yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dan rambut jagung (Zea mays L.) mengandung flavonoid yang berpotensi sebagai antipiretik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antipiretik kombinasi ekstrak etanol daun belimbing wuluh dan rambut jagung pada mencit putih jantan yang diinduksi pepton 5%. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan 32 mencit yang dibagi menjadi delapan kelompok, yaitu kontrol normal, negatif, positif, ekstrak tunggal daun belimbing wuluh, ekstrak tunggal rambut jagung, serta kombinasi BW 1:RJ 2, BW 1:RJ 1, dan BW 2:RJ 1. Ekstraksi dilakukan dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Pengujian meliputi standardisasi ekstrak, skrining fitokimia, identifikasi flavonoid menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dan uji aktivitas antipiretik. Data dianalisis menggunakan Area Under the Curve (AUC), Shapiro-Wilk, Levene, dan One Way ANOVA. Kesimpulan: Kombinasi BW 2:RJ 1 menunjukkan kecenderungan penurunan suhu terbaik berdasarkan grafik dan AUC, tetapi One Way ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p > 0,05). Dengan demikian, kombinasi ekstrak menunjukkan kecenderungan aktivitas antipiretik, tetapi belum terbukti lebih efektif secara statistik dibandingkan ekstrak tunggal.
Uji Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Kombinasi Daun Srikaya (Annona Squamosa L.) dan Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Mencit Putih Jantan (Mus Musculus L.) yang Diinduksi Pepton 5% Nabila Melyi Aryani; Septian Maulid Wicahyo; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.294

Abstract

Latar Belakang: Demam adalah peningkatan suhu tubuh akibat perubahan titik setel di hipotalamus. Penggunaan antipiretik sintesis jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif alami. Daun srikaya (Annona squamosa L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung flavonoid dan alkaloid yang berpotensi sebagai antipiretik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik kombinasi ekstrak etanol daun srikaya dan daun pepaya, membandingkan efektivitasnya dengan ekstrak tunggal, serta menentukkan kombinasi dosis yang paling efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 32 ekor mencit yang dibagi menjadi delapan kelompok, Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun srikaya dan daun pepaya secara bermakna menurunkan suhu tubuh mencit dibandingkan kontrol negatif (p<0,05), dengan kombinasi terbaik menunjukkan efektivitas yang mendekati kontrol positif dan lebih baik dibandingkan ekstrak tunggal, dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak ini berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antipiretik berbahan alam.
Pegaruh Salep Ekstrak Kulit Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Kelinci Jantan New Zealand White Rahmawati; Septian Maulid Wicahyo; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.297

Abstract

Latar belakang: Luka sayat merupakan salah satu jenis luka yang sering terjadi akibat benda tajam dan memerlukan penanganan tepat agar proses penyembuhan optimal. Kulit kacang tanah (Arachis hypogaea L.) mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh salep ekstrak kulit kacang tanah terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci jantan, mengevaluasi mutu fisik sediaan, dan menentukan konsentrasi paling efektif. Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan Posttest Only Group Design menggunakan kelinci jantan New Zealand White yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (Betadine®), serta salep ekstrak konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Parameter meliputi mutu fisik, penyusutan panjang luka, persentase penyembuhan, dan Area Under Curve (AUC). Hasil: Seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik. Salep ekstrak kulit kacang tanah berpengaruh terhadap penyembuhan luka, dengan konsentrasi 15% menunjukkan efektivitas terbaik berdasarkan nilai AUC dan persentase penyembuhan. Kesimpulan: Salep ekstrak kulit kacang tanah berpengaruh terhadap penyembuhan luka sayat dan memenuhi persyaratan mutu fisik. Variasi konsentrasi memengaruhi efektivitas penyembuhan luka.
Uji Efektivitas Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus Mauritiana L.) terhadap Penyembuhan Luka Bakar pada Kelinci New Zealand Romio Carlos Lopo Dos Reis; Siwi Hastuti; Septian Maulid Wicahyo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1461

Abstract

Luka bakar merupakan cedera pada jaringan kulit akibat paparan panas, bahan kimia, listrik, maupun radiasi yang memerlukan penanganan yang tepat untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah terjadinya infeksi. Daun bidara (Ziziphus Mauritiana L.) mengadung senyawa metabolit, sekunder, seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin, yang memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta antibakteri sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan krim ekstrak etanol daun bidara terhadap penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand serta menentukan konsentrasi ekstrak yang paling efektif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan empat ekor kelinci New Zealand sebagai hewan uji. Ekstrak daun bidara diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% dan diformulasikan dalam sediaan krim tipe air dalam minyak (A/M) dengan konsentrasi ekstrak 5% (F1), 10% (F2), dan 15% (F3). Betadine Antiseptic Ointment digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan basis krim digunakan sebagai kontrol negatif. Pengobatan dilakukan selama 14 Hari dengan frekuensi dua kali sehari. Efektivitas penyembuhan luka dievaluasi berdasarkan nilai Area Under Curve (AUC) dan persentase daya penyembuhan luka (%DPL). Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan Least Significant Difference (LSD). Penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan krim. Formula F3 (15%) memberikan efektivitas terbaik dengan nilai AUC 12,9950 ± 0,01 dan %DPL (25,78527)%, mendekati kontrol positif yang memiliki nilai AUC 12,5125 ± 0,01 dan %DPL (28,54083)%. Uji One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (p < 0,05), sedangkan uji LSD menunjukkan seluruh kelompok berbeda signifikan. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa krim ekstrak etanol daun bidara efektivitas mempercepat penyembuhan luka bakar pada kelinci New Zealand, dengan konsentrasi ekstrak 15% sebagai formula yang paling efektif.