Literasi numerasi merupakan kompetensi krusial untuk menghadapi tantangan abad ke-21, namun capaian siswa sekolah menengah di Indonesia secara umum masih menempati kategori sedang hingga rendah. Masalah yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya persepsi dan pengalaman psikososial siswa terhadap kondisi ekosistem di sekolahnya. Akibatnya, siswa sering kali mengalami kesulitan dalam memusatkan konsentrasi dan membangun penalaran logis saat memecahkan masalah kuantitatif yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi lingkungan belajar terhadap kemampuan literasi numerasi siswa kelas VIII di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain eksplanatori sekuensial. Subjek penelitian adalah 287 siswa kelas VIII dari enam SMP/MTs yang dipilih menggunakan teknik purposive dan multistage sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner 48 butir pernyataan yang berpusat pada siswa (student-centric) dan tes tertulis Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam dimensi lingkungan belajar secara simultan berpengaruh sangat signifikan sebesar 76,5% terhadap literasi numerasi. Secara parsial, iklim kesetaraan gender dan iklim keamanan mampu memberikan pengaruh positif, sementara beban jadwal kegiatan sekolah yang padat serta dinamika interaksi kelas yang kurang inklusif justru berdampak negatif secara signifikan terhadap capaian siswa. Kata Kunci: Literasi Numerasi, Lingkungan Belajar, Sekolah Menengah Pertama, Matematika