Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Prevalensi Proteinuria dan Ketonuria pada Mahasiswa Kedokteran Sebagai Skrining Awal Gangguan Ginjal dan Metabolisme: Studi Cross-Sectional: Prevalence of Proteinuria and Ketonuria Among Medical Students as an Initial Screening for Renal and Metabolic Disorders: A Cross-Sectional Study Yuniarty Antu; Dian Pratiwi Iman; Siti Rakhmatia Paramita Kum; Nurul Magfirah; Hannadia Asma Taqiya
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 7: Juli 2026 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.12103

Abstract

Latar belakang : Adanya protein dan keton dalam urine merupakan salah satu penanda awal terjadi gangguan fungsi ginjal dan perubahan metabolisme akibat puasa, diet rendah karbohidrat, aktivitas fisik berat dan penyakit metabolik seperti diabetes melitus. Mahasiswa Kedokteran sebagai individu muda rentan stres dengan tuntunan akademik yang cukup tinggi. Hal ini berpotensi memengaruhi pola hidup sehari-hari, termasuk pola makan, hidrasi, waktu istirahat, dan tingkat stres. Perubahan gaya hidup tersebut dapat berdampak pada status metabolik maupun fungsi ginjal. Pemeriksaan urinalisis diantaranya penilaian protein urine dan keton urine merupakan salah satu metode skrining yang murah, mudah dan efektif dalam menilai adanya gangguan ginjal dan metabolisme. Sebagian besar individu muda tidak menunjukkan gejala sehingga pemeriksaan urinalisis menggunakan dipstick dapat menjadi metode skrining awal yang efektif. Metode Penelitian : Penelitian dilakukan dengan observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel adalah 71 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian : Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 responden mengalami proteinuria (7,04%) dan 42 responden mengalami ketonuria (59,15%). Kesimpulan : Terdapat 7,04 responden mengalami proteinuria dan 59,1% mengalami ketonuria. Tingginya prevalensi menunjukkan terdapat perubahan fungsi ginjal dan metabolik pada saat pemeriksaan, tetapi tidak menyingkirkan perubahan fisiologik yang normal terjadi akibat stress fisik, dehidrasi,diet karbohidrat ataupun keterlambatan makan. Karenanya pemeriksaan ulang terhadap responden dengan interpretasi hasil positif perlu dilakukan kembali.