Nabiila Tunnisa
University Al-Azhar Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Citra Perempuan pada Puisi Laa Tuhsabina Jamilah dan Sajak Cinta Ditulis Pada Usia 57: Kajian Sastra Bandingan Nabiila Tunnisa; Iin Suryaningsih
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jcpr0103

Abstract

Penelitian ini mengkaji citra perempuan dalam dua puisi cinta, “Laa Tuhsabina Jamilah” karya Nizar Qabbani dan “Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57” karya WS Rendra, dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan. Kedua penyair secara konsisten mengeksplorasi tema perempuan dan cinta, menghadirkan sosok perempuan yang menyimpang dari standar kecantikan konvensional namun memiliki daya tarik yang mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif melalui tiga tahap yaitu deskripsi, komparasi, dan sintesis, dengan fokus pada citra perempuan dari segi aspek fisik, psikis, dan social. Data dikumpulkan melalui pembacaan cermat terhadap kedua puisi, mengidentifikasi unsur unsur tekstual yang merepresentasikan citra perempuan, kemudia mengklasifikasikannya ke dalam ketiga aspek tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik, kedua penyair menolak standar kecantikan konvensional dengan secara jujur mengakui ketidaksempurnaan perempuan sekaligus menemukan daya tarik sejatinya yang tercermin dalam metafora sensoris abstrak Qabbani seperti aroma anggur dan wangi jeruk, dibandingkan dengan penggambaran konkret Rendra atas kelemahan kelemahan fisik. Secara psikologis, kedua penyair sama sama mengakui kompleksitas kepribadian perempuan yang berlapis dan paradoksal, menggambarkan sifat sifat yang saling bertentangan serta dualitas antara keanggunan lahiriah dan kerapuhan batiniah. Secara sosial keduanya menolak stereotip patriarkal, Qabbani menolak konstruksi femme fatale, sementara Rendra menolak idealisme yang tidak realistis sekaligus mengangkat perempuan dari sekadar objek cinta menjadi subjek pemaknaan yang melampaui kehidupan individu. Meskipun berakar pada tradisi budaya yang berbeda, kedua penyair memiliki visi yang serupa mengenai citra perempuan dengan perbedaan utama terletak pada gaya ekspresi, yakni Qabbani melalui pendekatan yang sensual dan bernuansa sufistik mengikuti tradisi puisi Arab, sedangkan Rendra melalui gaya yang reflektif dan filosofis yang berakar pada tradisi puisi modern Indonesia.