Syifa Suci Ramadhina
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kontestasi Legitimasi Program Makan Bergizi Gratis dalam Pernyataan Menteri HAM dan Ketua BEM UGM: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough pada Tvonenews.com dan Tempo.co: Contesting the Legitimacy of the Free Nutritious Meals Program in Statements by the Minister of Human Rights and the Chair of UGM’s Student Executive Board: A Norman Fairclough Critical Discourse Analysis of Tvonenews.com and Tempo.co Aam Amelia; Firly Azkiya Rahmania; Tantie Imeldha; Sintha Novela; Syifa Suci Ramadhina; Asep Muhyidin
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 4 (2026): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i4.2816

Abstract

Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memperdebatkan implementasi kebijakan, tetapi juga dasar legitimasi negara dalam mengalokasikan sumber daya dan memenuhi hak warga. Penelitian ini menganalisis bagaimana pernyataan Menteri HAM dan Ketua BEM UGM direkontekstualisasi dalam dua berita daring Tvonenews.com dan Tempo.co menggunakan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengkaji dua teks berita melalui dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Hasil menunjukkan bahwa Tvonenews.com menonjolkan kontra-legitimasi melalui diksi evaluatif seperti “panas” dan “dirampas”, serta oposisi pendidikan–stunting; sedangkan Tempo.co menonjolkan legitimasi pemerintah melalui proposisi kategoris yang mengaitkan penolakan MBG dengan HAM dan kewajiban negara atas kebutuhan dasar. Perbedaan tersebut memperlihatkan kontestasi antara rasionalitas prioritas pendidikan dan rasionalitas kesejahteraan-hak. Temuan ini menegaskan bahwa pemberitaan MBG menjadi arena perebutan definisi kepentingan publik, tetapi kesimpulan dibatasi pada dua teks dan tidak merepresentasikan keseluruhan orientasi kedua media.