Anne Maryani
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komunikasi Kelompok Fanbase BLINK-182 Di Media Sosial Instagram @BLINK182.INA Muhammad Fazri Fadhlurochman; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management 947 - 954
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25499

Abstract

The rapid advancement of digital communication technology has transformed social media into an interactive space that enables the formation of interest-based communities—places where members communicate, exchange information, and build a collective identity. One such example is the Indonesian Blink-182 fanbase, centered around the Instagram account **@blink182.ina**. This study aims to analyze the characteristics of group communication within the community, identify the role of administrators in managing communication and resolving conflicts, and explain the processes by which solidarity among members is formed and maintained in the digital environment. The research employs a qualitative approach using a case study method. Data collection involved virtual observation of communication activities on Instagram, in-depth interviews with administrators and several community members, and documentation of various forms of digital interaction. The findings indicate that group communication within the community is open and participatory, underpinned by shared symbolic meanings that reinforce collective identity, mutual trust, and interpersonal bonds. Administrators play a crucial role as communication facilitators, conflict mediators, and managers of community norms, thereby fostering a conducive communication climate. Furthermore, shared interest in Blink-182’s music, continuous interaction, active participation in various activities, and mutual support among members serve as key factors that strengthen solidarity and ensure the community's sustainability. Thus, effective group communication acts as a vital foundation for fostering harmonious relationships and supporting the enduring existence of digital fan communities.   Perkembangan teknologi komunikasi digital yang semakin pesat telah menjadikan media sosial sebagai ruang interaktif yang memungkinkan terbentuknya komunitas berbasis minat, tempat para anggotanya berkomunikasi, bertukar informasi, serta membangun identitas kolektif. Salah satu contoh komunitas tersebut adalah fanbase Blink-182 Indonesia melalui akun Instagram @blink182.ina. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik komunikasi kelompok yang terjadi di dalam komunitas, mengidentifikasi peran administrator dalam mengelola komunikasi dan menyelesaikan konflik, serta menjelaskan proses terbentuk dan terpeliharanya solidaritas antaranggota di lingkungan digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi virtual terhadap aktivitas komunikasi di Instagram, wawancara mendalam dengan administrator dan beberapa anggota komunitas, serta dokumentasi berbagai bentuk interaksi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kelompok dalam komunitas berlangsung secara terbuka, partisipatif, dan didukung oleh kesamaan makna simbolik yang memperkuat identitas kolektif, rasa saling percaya, serta keterikatan antaranggota. Administrator memiliki peran penting sebagai fasilitator komunikasi, mediator konflik, sekaligus pengelola norma komunitas sehingga tercipta iklim komunikasi yang kondusif. Selain itu, kesamaan minat terhadap musik Blink-182, interaksi yang berkesinambungan, partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan, serta dukungan timbal balik antaranggota menjadi faktor utama yang memperkuat solidaritas dan menjaga keberlangsungan komunitas. Dengan demikian, komunikasi kelompok yang efektif merupakan fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis sekaligus mendukung eksistensi komunitas penggemar digital secara berkelanjutan.
Strategi Komunikasi Naratif dalam Membangun Kesadaran Kesehatan Melalui Pengobatan Herbal Fatimah Afifah; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management 369 - 378
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24040

Abstract

Public preference for herbal medicine generally remains lower than for modern medicine. This condition contrasts with the phenomenon observed in the HNI Aktif Tim PK online mentoring program, where a strong preference for herbal medicine has been established. Based on the preliminary observations, this phenomenon is influenced by the unique communication strategies employed by mentors in delivering health messages about herbal medicine. Participants' trust and health awareness develop through a narrative communication approach, where mentors do not merely convey rational information about herbal benefits but also weave them into stories that reflect participants' experiences, values, and everyday realities. This study aims to analyze how narrative communication strategies are implemented by mentors in delivering health messages related to herbal medicine. The research employed a qualitative method with a case study approach, grounded in the constructivist paradigm. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings show that health messages presented in narrative form enable medical information to be understood more contextually. The use of testimonials and religious values contributes significantly to participants' understanding and confidence in herbal medicine as a holistic approach within digital community interactions. Storytelling effectively transforms complex medical concepts into familiar knowledge easily internalized by community participants.   Preferensi masyarakat terhadap pengobatan herbal secara umum masih cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pengobatan modern. Kondisi tersebut berbeda dengan fenomena yang ditemukan pada program pembinaan daring HNI Aktif Tim PK, di mana preferensi terhadap pengobatan herbal justru terbentuk dengan kuat. Berdasarkan observasi awal penulis, fenomena ini dipengaruhi oleh keunikan strategi komunikasi yang digunakan pemateri dalam menyampaikan pesan kesehatan terkait pengobatan herbal. Kepercayaan dan kesadaran kesehatan partisipan berkembang melalui pendekatan komunikasi naratif, pemateri tidak hanya menyampaikan informasi rasional mengenai manfaat herbal, tetapi juga merangkainya ke dalam bentuk cerita yang relevan dengan pengalaman, nilai, dan realitas keseharian partisipan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi komunikasi naratif diimplementasikan oleh pemateri dalam menyampaikan pesan kesehatan pengobatan herbal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan berlandaskan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan kesehatan yang dikemas dalam bentuk narasi memungkinkan informasi medis dipahami secara lebih kontekstual. Penggunaan testimoni dan nilai religius juga berkontribusi signifikan pada pembentukan pemahaman serta keyakinan partisipan terhadap pengobatan herbal sebagai kesadaran kesehatan yang holistik di ruang digital. Implementasi teknik penceritaan ini terbukti efektif mentransformasi materi yang kompleks menjadi informasi yang akrab dan mudah diinternalisasi oleh partisipan komunitas HNI Aktif Tim PK.
Filter Wajah dan Kepercayaan Diri Generasi Z Hana Nurul Fitri; Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management 613 - 622
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24719

Abstract

The development of digital technology, especially TikTok social media, has triggered an increase in the use of face filters among Generation Z. Features that initially function as a means of entertainment and improved visual appearance are now developing into a form of dependence, where some users feel more comfortable and confident when displaying filtered faces compared to their real faces. This study aims to analyze the relationship between the dependence on the use of face filters and the level of self-confidence in Generation Z, especially individuals who actively use TikTok and are members of the Wardah Youth Ambassador community. The research uses a positivism paradigm with a correlational quantitative approach. Data collection was carried out through a questionnaire based on the Likert scale which was distributed to 64 respondents who were members of Wardah Youth Ambassador in West Java. Variable X (dependence on face filters) was measured through three sub-variables, namely self-understanding, social benefits, and entertainment, while variable Y (self-confidence) was measured through six indicators based on Maslow's theory of needs. The results showed that the entire hypothesis was accepted with a Spearman correlation coefficient of 0.842 (very strong) for the main relationship. These findings confirm that the higher the reliance on face filters, the higher the correlation with user confidence on social media, but also risks forming unrealistic digital beauty standards.   Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial TikTok, telah memicu meningkatnya penggunaan filter wajah di kalangan Generasi Z. Fitur yang awalnya berfungsi sebagai sarana hiburan dan peningkatan tampilan visual kini berkembang menjadi bentuk ketergantungan, di mana sebagian pengguna merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika menampilkan wajah berfilter dibandingkan wajah asli mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ketergantungan penggunaan filter wajah dengan tingkat kepercayaan diri (self confidence) pada Generasi Z, khususnya individu yang aktif menggunakan TikTok dan tergabung dalam komunitas Wardah Youth Ambassador. Penelitian menggunakan paradigma positivisme dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbasis skala Likert yang disebarkan kepada 64 responden anggota Wardah Youth Ambassador di Jawa Barat. Variabel X (ketergantungan filter wajah) diukur melalui tiga sub variabel yaitu pemahaman diri, manfaat sosial, dan hiburan, sementara variabel Y (kepercayaan diri) diukur melalui enam indikator berdasarkan teori kebutuhan Maslow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima dengan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,842 (sangat kuat) untuk hubungan utama. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi ketergantungan terhadap filter wajah, semakin tinggi pula kaitannya dengan kepercayaan diri pengguna di media sosial, tetapi juga berisiko membentuk standar kecantikan digital yang tidak realistis.