Muhammad Purwa Tuhagana
Universitas Buana Perjuangan Karawang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KETIKA BUDAYA MENANTANG TEORI:PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA DINI Muhammad Purwa Tuhagana; Puspa Rahayu Utami Rahman; Yulyanti Minarsih
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.9078

Abstract

Perkembangan sosial-emosional merupakan salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak usia dini yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya pola asuh ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoritatif, otoriter, dan permisif ibu terhadap perkembangan sosial-emosional anak usia dini di Syaira Global School Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Sampel penelitian berjumlah 41 ibu yang memiliki anak usia 54–72 bulan dengan teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan adalah Parenting Styles and Dimensions Questionnaire-Short Form (PSDQ-SF) untuk mengukur pola asuh dan Ages and Stages Questionnaire: Social Emotional Second Edition (ASQ:SE-2) untuk mengukur perkembangan sosial-emosional anak. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif berpengaruh signifikan terhadap perkembangan sosial-emosional anak (p = 0,003) dengan arah hubungan negatif. Sementara itu, pola asuh otoriter (p = 0,688) dan pola asuh permisif (p = 0,117) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan bahwa pola asuh otoritatif memiliki pengaruh dengan arah negatif ini mengindikasikan bahwa efektivitas pola asuh terhadap perkembangan sosial-emosional anak perlu dipahami berdasarkan kesesuaiannya dengan konteks budaya dan karakteristik perkembangan anak, sehingga pola asuh yang secara teoretis dianggap ideal belum tentu memberikan hasil yang sama pada setiap budaya.