Program Hari Belajar Guru (HBG) berorientasi Tri Parartha di SMP Negeri 2 Tabanan telah berjalan selama dua semester sebagai bentuk Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) berbasis sekolah, namun belum pernah dievaluasi secara formal dan komprehensif sehingga kekuatan dan kelemahan program belum terpetakan secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi Program HBG berdasarkan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang ditautkan dengan nilai lokal Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) sebagai lensa etik-kultural, guna menilai kesesuaian konteks, kecukupan masukan, keterlaksanaan proses, hasil program, serta keterkaitan antarkomponen dalam pengembangan profesionalisme guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-evaluatif dengan melibatkan 16 informan yang ditentukan melalui purposive sampling, meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, fasilitator MGMP internal, guru peserta HBG, dan pengawas sekolah, dilengkapi data dokumen kebijakan, notulen, portofolio, jurnal refleksi, dan data Penilaian Kinerja Guru (PKG). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi dokumentasi, dan Focus Group Discussion, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dengan pengodean dua lapis CIPP dan Tri Parartha. Hasil penelitian menunjukkan komponen context tergolong sesuai meski belum ditopang panduan teknis dari dinas pendidikan kabupaten; komponen input cukup memadai namun rentan secara struktural akibat ketiadaan pos anggaran dan honorarium fasilitator; komponen process kurang konsisten dengan rata-rata kehadiran 65 persen yang bervariasi antarrumpun mata pelajaran dan sangat bergantung pada desain tematik sesi; serta komponen product menunjukkan hasil bervariasi positif, dengan 69,2 persen guru mengalami peningkatan skor PKG yang berkorelasi dengan intensitas kehadiran, sementara 7,7 persen mengalami penurunan. Nilai Asih dan Punia terbukti termanifestasi kuat pada relasi horizontal antarguru, sedangkan Bhakti lebih dominan bermakna kepatuhan administratif dibandingkan dedikasi filosofis. Temuan menegaskan bahwa keempat komponen CIPP saling terkait secara berjenjang, di mana kerapuhan input menjalar menjadi inkonsistensi process dan bermuara pada heterogenitas product, sehingga perbaikan program perlu dimulai dari penguatan struktural pada input. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa operasionalisasi nilai kearifan lokal Bali sebagai lensa evaluasi program pengembangan guru, serta kontribusi metodologis melalui matriks silang CIPP dan Tri Parartha sebagai instrumen audit trail yang memperkuat kredibilitas analisis kualitatif-evaluatif.