ABSTRACT Student participation in Biology learning is reflected not only in attendance but also in their willingness to interact, express ideas, respond to peers, and take responsibility during group activities. The initial condition at SMA Negeri 9 Bone indicated that such engagement was still limited; therefore, the Excretory System topic was taught through group discussions reinforced by a peer tutoring approach. The study involved 49 students, comprising 26 students in the experimental class and 23 students in the control class, using a quasi-experimental pretest-posttest nonequivalent control group design. Active participation was observed before and after learning, and the data were analyzed using descriptive and inferential statistics. The change in scores showed a stronger pattern in the experimental group, with the mean increasing from 46.08 to 76.27, while the control group increased from 42.87 to 59.91. This shift was also reflected in the category distribution, as students in the experimental group moved from the moderate and low categories to the good and very good categories. The Independent Samples t-test produced a significance value of 0.001 < 0.05. These findings indicate that combining group discussion with peer tutoring significantly differentiated students’ active participation and created a more collaborative learning environment. ABSTRAK Partisipasi siswa dalam pembelajaran Biologi tidak hanya terlihat dari kehadiran, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk berinteraksi, menyampaikan gagasan, merespons teman, dan mengambil tanggung jawab dalam kegiatan kelompok. Kondisi awal di SMA Negeri 9 Bone memperlihatkan bahwa keterlibatan tersebut masih terbatas, sehingga pembelajaran Sistem Ekskresi diterapkan melalui diskusi kelompok yang diperkuat dengan pendekatan tutor sebaya. Penelitian ini melibatkan 49 siswa, terdiri atas 26 siswa kelas eksperimen dan 23 siswa kelas kontrol, dengan rancangan quasi-experimental pretest-posttest nonequivalent control group design. Partisipasi aktif diamati sebelum dan sesudah pembelajaran, kemudian data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Perubahan skor memperlihatkan pola yang lebih kuat pada kelompok eksperimen, dari rata-rata 46,08 menjadi 76,27, sementara kelompok kontrol bergerak dari 42,87 menjadi 59,91. Pergeseran tersebut juga tampak pada distribusi kategori, ketika siswa eksperimen berpindah dari kategori cukup dan kurang menjadi baik dan sangat baik. Pengujian Independent Samples t-test menghasilkan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perpaduan diskusi kelompok dan tutor sebaya memberikan perbedaan yang signifikan terhadap partisipasi aktif siswa serta membuka ruang interaksi belajar yang lebih kolaboratif.