Fermentasi biji kakao merupakan tahap penting dalam pembentukan mutu, tetapi penerapannya di tingkat petani tidak selalu mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP). Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi, pengalaman, dan kendala petani terhadap praktik fermentasi kakao di Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi eksploratif. Data utama diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 10 petani kakao, observasi lapangan, dan dokumentasi; wawancara dengan pedagang pengumpul dan penyuluh pertanian digunakan sebagai triangulasi sumber. Data dianalisis secara tematik mengikuti alur reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa informan petani memandang fermentasi penting bagi mutu biji kakao, tetapi penerapan SOP dibatasi oleh kebutuhan likuiditas, keterbatasan sarana, akses informasi harga yang rendah, minimnya pendampingan, serta ketergantungan pada pedagang pengumpul. Penggunaan karung sebagai wadah fermentasi mencerminkan persistensi praktik lokal yang dianggap lebih praktis dalam kondisi sumber daya terbatas. Temuan ini bersifat kontekstual pada informan yang diwawancarai dan menunjukkan perlunya dukungan sarana, pendampingan berkelanjutan, akses informasi pasar, dan mekanisme insentif mutu yang lebih jelas.