Abstract. Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that often causes skin wound complications with delayed healing due to hyperglycemia and chronic inflammation, necessitating standardized and accessible medicinal raw materials. Basil (Ocimum basilicum L.) is known to be rich in secondary metabolites with potential wound-healing properties. This study aimed to characterize the specific and non-specific parameters of basil leaf simplicia and ethanol extract from Cihanjuang, West Bandung Regency, as a candidate raw material for wound-healing preparations. The study was conducted experimentally in the laboratory using simplicia and extract obtained through maceration with 96% ethanol. Evaluations included specific parameters (organoleptic, water-soluble, and ethanol-soluble extract content) and non-specific parameters (water content, drying shrinkage, total ash, acid-insoluble ash, and specific gravity), along with phytochemical screening. The results showed that the simplicia and extract met most requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia, with water-soluble extract content of 18.67%, ethanol-soluble extract content of 9.96%, water content of 5.25%, drying shrinkage of 5.89%. Phytochemical screening confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, terpenoids, as well as monoterpenes and sesquiterpenes. However, total ash and acid-insoluble ash content exceeded the limits, presumably due to soil and dust contamination. Thus, basil from Cihanjuang shows potential as a standardized raw material, although improvements in the washing process and further in vivo activity tests are recommended. Abstrak. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang sering menyebabkan komplikasi luka kulit dengan proses penyembuhan tertunda akibat hiperglikemia dan inflamasi kronis, sehingga diperlukan bahan baku obat yang terstandar dan mudah diakses. Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) dikenal kaya akan metabolit sekunder yang berpotensi mendukung penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi parameter spesifik dan non spesifik simplisia serta ekstrak etanol daun kemangi asal Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, sebagai kandidat bahan baku sediaan penyembuh luka. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium, dengan objek berupa simplisia dan ekstrak yang diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian meliputi parameter spesifik (organoleptik, kadar sari larut air dan etanol) dan non spesifik (kadar air, susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam), serta skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak memenuhi sebagian besar persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, dengan kadar sari larut air 18,67%, kadar sari larut etanol 9,96%, kadar air 5,25%, susut pengeringan 5,89%. Skrining fitokimia mengonfirmasi keberadaan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, serta monoterpen dan seskuiterpen. Namun, kadar abu total dan abu tidak larut asam masih melebihi batas, yang diduga berasal dari kontaminasi tanah dan debu. Dengan demikian, daun kemangi asal Cihanjuang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku terstandar dan uji aktivitas lanjutan secara in vivo.