Siti Hazar
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Petai Cina terhadap Embrio Ikan Zebra Nazwa Aqilah; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 147 - 154
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24590

Abstract

Abstract. Leucaena (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) leaves are rich in secondary metabolites with the potential to be developed as traditional medicines. However, their safety must first be established through toxicity testing. This study was conducted to determine the median lethal concentration (LC₅₀) and evaluate the toxic effects of the ethanol extract of Leucaena leaves on zebrafish (Danio rerio) embryos. The study was carried out in accordance with the Fish Embryo Toxicity (FET) guideline, with an observation period of 96 hours. A total of 120 zebrafish embryos were randomly assigned to six experimental groups, consisting of one control group and five treatment groups exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 ppm. The primary endpoints observed were embryo mortality and developmental abnormalities throughout the testing period. Mortality data were subsequently analyzed using probit analysis to determine the LC₅₀ value. The results showed that the LC₅₀ of the ethanol extract of Leucaena leaves was 184.823 ppm, indicating that the extract is practically non-toxic. The only developmental abnormality observed during the study was embryo coagulation. In conclusion, the ethanol extract of Leucaena leaves exhibited a low degree of toxicity toward zebrafish embryos. Abstrak. Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) kaya akan kandungan metabolit sekunder yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional. Meskipun demikian, jaminan keamanannya harus tetap dipastikan terlebih dahulu melalui uji toksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai LC₅₀ sekaligus mengevaluasi efek toksik ekstrak etanol daun petai cina terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio). Penelitian ini mengacu pada pedoman Fish Embryo Toxicity (FET) dengan waktu pengamatan selama 96 jam. Sebanyak 120 embrio ikan zebra didistribusikan ke dalam enam kelompok perlakuan, yang terdiri atas satu kelompok kontrol dan lima kelompok uji dengan seri konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 ppm. Indikator utama yang dipantau meliputi angka kematian embrio dan abnormalitas perkembangan selama masa pengujian. Data mortalitas yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC₅₀ ekstrak etanol daun petai cina adalah 184,823 ppm, yang mengategorikan ekstrak tersebut sebagai praktis tidak toksik. Bentuk abnormalitas yang ditemukan pada embrio selama pengujian adalah koagulasi embrio. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun petai cina memiliki tingkat toksisitas yang rendah terhadap embrio ikan zebra.
Aktivitas Antijamur Ekstrak Daun Murbei terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophytes Ajeng Karin Khairani; Siti Hazar; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy 265 - 274
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24766

Abstract

Abstract. Fungal infections caused by Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes remain a health issue requiring effective treatment. Mulberry leaves (Morus alba L.) are a potential source of antifungal agents, as they contain secondary metabolites capable of inhibiting fungal growth. This study aimed to evaluate the antifungal activity of the ethanolic extract of mulberry leaves against Malassezia furfur and Trichophyton mentagrophytes and to perform a preliminary characterization of the mulberry leaf simplicia to ensure material quality. The study employed the well-diffusion method using mulberry leaf ethanolic extract concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. Ketoconazole served as the positive control, while DMSO was used as the negative control. Results for Malassezia furfur showed inhibition zone diameters of  6.33 mm, 8.26 mm, 12.82 mm, 13.66 mm, 15.48 mm, and 16.15 mm at concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%, respectively. For Trichophyton mentagrophytes, the inhibition zone diameters observed at the same concentrations were 5.20 mm, 5.70 mm, 6.66 mm, 7.80 mm, 10.25 mm, and 10.65 mm. Abstrak. Infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophytes masih menjadi permasalahan pada kesehatan yang membutuhkan penanganan efektif. alternatif antijamur yang dapat dikembangkan, salah satunya daun murbei (Morus alba L.) mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki potensi menghambat pertumbuhan jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol daun murbei terhadap Malassezia furfur dan Trichophyton mentagrophytes serta menetapkan karakterisasi pendahuluan simplisia dari daun murbei untuk menjamin kualitas bahan yang baik dalam penelitian. Penelitian ini dengan metode difusi sumuran dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun murbei 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%. Pembanding yang digunakan adalah ketokonazol dan kontrol negatif DMSO. Hasil menunjukkan pada metode difusi sumuran pada konsentrasi 5%; 10%; 15%; 20%; 25; dan 30% diameter hambat yang terbentuk sebesar 6, 33 mm;  8,26 mm; 12,82 mm 13,66 mm 15,48 mm 16,15 nm. Sedangkan jamur Trichophyton mentagrophytes pada konsentrasi 5%; 10%; 15%; 20%; 25; dan 30% diameter hambat yang terbentuk sebesar  nm; 5,20 mm; 5,70 mm ; 6,66 mm;7,80 mm; 10,25 mm; 10,65 mm.
Studi Literatur: Sistem In Situ Gel dalam Pengembangan Sediaan Farmasi Dewi Nanda Aulia; Sani Ega Priani; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy 295 - 302
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24792

Abstract

Abstract. In situ gel is a drug delivery system that undergoes a sol–gel transition in response to physiological stimuli, providing prolonged drug residence time and controlled drug release compared with conventional dosage forms. This study aimed to review the development of in situ gel systems in pharmaceutical formulations based on gelation mechanisms, polymers used, formulation characteristics, and their potential applications. A narrative review was conducted by analyzing selected original research articles. The review identified three major gelation mechanisms, namely thermosensitive, pH-triggered, and ion-activated systems. Thermosensitive systems generally employ a combination of Poloxamer 407 and Poloxamer 188, pH-triggered systems utilize Carbopol combined with HPMC, while ion-activated systems use deacetylated gellan gum as the primary gelling polymer. Despite differences in gelation mechanisms, all systems demonstrated favorable formulation characteristics, including rapid gel formation under physiological conditions, prolonged drug retention, and sustained drug release. Although the reviewed studies mainly focused on ophthalmic drug delivery, in situ gel systems show promising potential for broader pharmaceutical applications. Abstrak. In situ gel merupakan sistem penghantaran obat yang mengalami transisi dari bentuk cair menjadi gel sebagai respons terhadap kondisi fisiologis sehingga mampu meningkatkan waktu retensi obat dan mengontrol pelepasan obat dibandingkan sediaan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan sistem in situ gel dalam pengembangan sediaan farmasi berdasarkan mekanisme pembentukan gel, jenis polimer, karakteristik formulasi, dan potensi aplikasinya. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan narrative review terhadap artikel penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan tiga mekanisme utama pembentukan in situ gel, yaitu thermosensitive, pH-triggered, dan ion-triggered. Sistem thermosensitive menggunakan kombinasi Poloxamer 407 dan Poloxamer 188, sistem pH-triggered menggunakan Carbopol yang dikombinasikan dengan HPMC, sedangkan sistem ion-triggered menggunakan deasetilasi gellan gum sebagai polimer utama. Ketiga mekanisme tersebut menunjukkan karakteristik formulasi yang baik, meliputi pembentukan gel pada kondisi fisiologis, peningkatan retensi obat, dan pelepasan obat secara terkendali. Meskipun penelitian yang ditelaah didominasi oleh aplikasi oftalmik, sistem in situ gel berpotensi dikembangkan pada berbagai sediaan farmasi lainnya.
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Biji Ketumbar terhadap Embrio Ikan Zebra Amalia Arofah; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 339 - 346
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24829

Abstract

Abstract. Coriandrum sativum L. (coriander) seeds are widely recognized as a medicinal herb with various pharmacological activities and considerable potential for pharmaceutical development. However, information regarding their safety, particularly their effects on embryonic development, remains limited, necessitating an acute toxicity evaluation. This study aimed to assess the acute toxicity of the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds on zebrafish (Danio rerio) embryos and to determine the median lethal concentration (LC₅₀) as an indicator of toxicity. The study employed a true experimental design using the Fish Embryo Toxicity Test (FET) in accordance with the OECD Guideline 236. Zebrafish embryos were exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 µg/mL for 96 hours. Embryo mortality and developmental abnormalities were analyzed using probit regression to determine the LC₅₀ value. The results demonstrated that the ethanolic extract induced embryonic abnormalities, including coagulation, delayed hatching, absence of somite formation, and lack of heartbeat. The LC₅₀ value was 18.7393 µg/mL, indicating that the extract is classified as slightly toxic. These findings suggest that the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds exhibits acute toxicity toward zebrafish embryos; therefore, its safety should be carefully considered before further development as a medicinal agent. Abstrak. Biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat. Namun, informasi mengenai keamanan penggunaannya, khususnya terhadap perkembangan embrio, masih terbatas sehingga diperlukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio) serta menentukan nilai LC₅₀ sebagai indikator tingkat toksisitas. Penelitian menggunakan metode eksperimental (true experimental design) dengan pendekatan Fish Embryo Toxicity Test (FET) mengacu pada pedoman OECD 236. Embrio ikan zebra dipaparkan pada ekstrak dengan konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 µg/mL selama 96 jam. Data mortalitas dan abnormalitas embrio dianalisis menggunakan regresi probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji ketumbar menyebabkan abnormalitas berupa koagulasi embrio, keterlambatan penetasan, tidak terbentuknya somit, dan tidak adanya denyut jantung. Nilai LC₅₀ yang diperoleh sebesar 18,7393 µg/mL, yang termasuk dalam kategori slightly toxic. Dengan demikian, ekstrak etanol biji ketumbar memiliki toksisitas akut terhadap embrio ikan zebra sehingga aspek keamanannya perlu diperhatikan sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan obat.
Profil Simplisia dan Ekstrak Daun Wortel (Daucus Carota L.) dari Daerah Sukabumi Devita Desria; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 459 - 466
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25087

Abstract

Abstract. Carrot leaves (Daucus carota L.) are one of the plants that have the potential as raw materials for traditional medicine because they contain various secondary metabolites. This study aims to characterize the crude drug and ethanol extract of carrot leaves originating from the Pasir Datar area, Sukabumi Regency. Extraction was carried out using the maceration method using 96% ethanol. Characterization included organoleptic testing, specific parameters (water-soluble and ethanol-soluble extract content), nonspecific parameters (drying loss, water content, total ash content, acid-insoluble ash content, and specific gravity of the extract), and phytochemical screening. The results showed that the crude drug and carrot leaf extract met the tested characterization parameters. Phytochemical screening showed the presence of flavonoids, polyphenols, saponins, and steroids/terpenoids, while alkaloids, tannins, quinones, and monoterpenoids/sesquiterpenoids were not detected. These characterization results indicate that the crude drug and ethanol extract of carrot leaves have good quality and have the potential to be developed as raw materials for traditional medicine. Abstrak. Daun wortel (Daucus carota L.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi simplisia dan ekstrak etanol daun wortel yang berasal dari daerah Pasir Datar, Kabupaten Sukabumi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Karakterisasi meliputi pengujian organoleptik, parameter spesifik (kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol), parameter nonspesifik (susut pengeringan, kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan bobot jenis ekstrak), serta skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak daun wortel memenuhi parameter karakterisasi yang diuji. Skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid, polifenolat, saponin, dan steroid/terpenoid, sedangkan alkaloid, tanin, kuinon, serta monoterpenoid/seskuiterpenoid tidak terdeteksi. Hasil karakterisasi ini menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun wortel memiliki mutu yang baik dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat tradisional.
Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai Antiseptik Oral terhadap Staphylococcus aureus Salma Raihani Hanifa; Gita Cahya Eka Darma; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy 491 - 500
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25144

Abstract

Abstract. Oral cavity infections are frequently caused by pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus. Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) calyces are known to contain secondary metabolites with potential as natural antibacterial agents. This study aimed to analyze the ability of the ethanolic extract of roselle calyces to inhibit the growth of S. aureus and to determine the optimal concentration for use as an oral antiseptic candidate. This laboratory-based experimental study employed the maceration method using 70% ethanol as the solvent. Testing included specific and non-specific standardization, phytochemical screening, and a disc diffusion assay at concentrations of 6.25, 10, 15, and 25 %. The results showed that the extract met the quality requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia, with a yield of 33.95% and the presence of various secondary metabolites. All concentrations inhibited the growth of S. aureus, with the inhibition zone diameter increasing alongside the concentration. The largest diameter was observed at the 25% concentration (13.6 ± 0.06 mm), falling into the "strong" category. Thus, the ethanolic extract of roselle calyces has the potential to be developed as a natural active ingredient in oral antiseptic formulations. Abstrak. Infeksi rongga mulut sering disebabkan oleh bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus. Kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) diketahui mengandung metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan ekstrak etanol kelopak bunga rosella dalam menghambat pertumbuhan S. aureus serta menentukan konsentrasi yang paling optimal sebagai kandidat antiseptik oral. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Pengujian meliputi standardisasi spesifik dan nonspesifik, penapisan fitokimia, serta uji difusi cakram pada konsentrasi 6,25 ; 10 ; 15 ; dan 25%. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak memenuhi persyaratan mutu Farmakope Herbal Indonesia dengan rendemen sebesar 33,95% serta mengandung berbagai metabolit sekunder. Seluruh konsentrasi mampu menghambat pertumbuhan S. aureus, dengan diameter zona hambat yang semakin besar seiring peningkatan konsentrasi. Diameter terbesar diperoleh pada konsentrasi 25%, yaitu 13,6 ± 0,06 mm dan termasuk kategori kuat. Dengan demikian, ekstrak etanol kelopak bunga rosella berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam formulasi sediaan antiseptik oral.
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Manis terhadap Bakteri Penyebab Jerawat Devi Fitriyanti; Siti Hazar; Suwendar Suwendar
Bandung Conference Series: Pharmacy 509 - 516
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25146

Abstract

Abstract. Acne vulgaris is a common inflammatory skin disorder, including in Indonesia with a prevalence reaches 80–85%. The increasing risk of bacterial resistance associated with prolonged antibiotic use has encouraged the exploration of natural antibacterial agents. Sweet starfruit (Averrhoa carambola L.) leaf are known to contain secondary metabolites with antibacterial properties. This study aimed to evaluate the antibacterial activity. The leaves were extracted by maceration using 70% ethanol. Antibacterial activity was evaluated using the agar well diffusion method at concentrations of 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. The 30% extract showed the highest antibacterial activity, with inhibition zones of 11.12 ± 0.38 mm against C.acnes and 11.62 ± 0.21 mm against S.epidermidis. Statistical analysis revealed significant differences among the treatment groups (p<0,05). The 70% ethanol extract of sweet starfruit (Averrhoa carambola L.) leaves possesses antibacterial activity against both acne-associated bacteria, with greater inhibitory activity against S.epidermidis than C.acnes. Abstrak. Jerawat (acne vulgaris) merupakah salah satu masalah kulit yang sering dijumpai diberbagai negara, termasuk Indonesia dengan prevalensi mencapai 80% - 85%. Penggunaan antibiotik jangka panjang berpotensi menyebabkan resistensi bakteri. Daun belimbing manis (Averrhoa carambola L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung metabolit sekunder yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri daun belimbing manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri. Ekstrasi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan difusi agar teknik sumuran pada konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Hasil menujukkan ekstrak daun belimbing manis pada konsentrasi 30% mampu menghasilkan diameter zona hambat sebesar 11,12 mm ± 0,38 terhadap C.acnes dan 11,62 mm ± 0,21 terhadap S.epidermidis. analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak memiliki aktivitas antibakteri terhadap C.acnes dan S.epidermidis, dengan aktivitas yang lebih baik terbaik bakteri S.epidermidis.
Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Kemangi dari Daerah Cihanjuang Kabupaten Bandung Bagas Hadi Panoreh; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 543 - 552
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25180

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that often causes skin wound complications with delayed healing due to hyperglycemia and chronic inflammation, necessitating standardized and accessible medicinal raw materials. Basil (Ocimum basilicum L.) is known to be rich in secondary metabolites with potential wound-healing properties. This study aimed to characterize the specific and non-specific parameters of basil leaf simplicia and ethanol extract from Cihanjuang, West Bandung Regency, as a candidate raw material for wound-healing preparations. The study was conducted experimentally in the laboratory using simplicia and extract obtained through maceration with 96% ethanol. Evaluations included specific parameters (organoleptic, water-soluble, and ethanol-soluble extract content) and non-specific parameters (water content, drying shrinkage, total ash, acid-insoluble ash, and specific gravity), along with phytochemical screening. The results showed that the simplicia and extract met most requirements of the Indonesian Herbal Pharmacopoeia, with water-soluble extract content of 18.67%, ethanol-soluble extract content of 9.96%, water content of 5.25%, drying shrinkage of 5.89%. Phytochemical screening confirmed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, terpenoids, as well as monoterpenes and sesquiterpenes. However, total ash and acid-insoluble ash content exceeded the limits, presumably due to soil and dust contamination. Thus, basil from Cihanjuang shows potential as a standardized raw material, although improvements in the washing process and further in vivo activity tests are recommended. Abstrak. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang sering menyebabkan komplikasi luka kulit dengan proses penyembuhan tertunda akibat hiperglikemia dan inflamasi kronis, sehingga diperlukan bahan baku obat yang terstandar dan mudah diakses. Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L.) dikenal kaya akan metabolit sekunder yang berpotensi mendukung penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi parameter spesifik dan non spesifik simplisia serta ekstrak etanol daun kemangi asal Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, sebagai kandidat bahan baku sediaan penyembuh luka. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium, dengan objek berupa simplisia dan ekstrak yang diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian meliputi parameter spesifik (organoleptik, kadar sari larut air dan etanol) dan non spesifik (kadar air, susut pengeringan, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam), serta skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak memenuhi sebagian besar persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, dengan kadar sari larut air 18,67%, kadar sari larut etanol 9,96%, kadar air 5,25%, susut pengeringan 5,89%. Skrining fitokimia mengonfirmasi keberadaan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, serta monoterpen dan seskuiterpen. Namun, kadar abu total dan abu tidak larut asam masih melebihi batas, yang diduga berasal dari kontaminasi tanah dan debu. Dengan demikian, daun kemangi asal Cihanjuang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku terstandar dan uji aktivitas lanjutan secara in vivo.
Uji Aktivitas Antibakteri Obat Kumur Ekstrak Kulit Rambutan terhadap Steptococcus Mutans Muhammad Fauzan Mutaqien; Siti Hazar; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy 771 - 778
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25703

Abstract

Abstract. Dental caries is still one of the infectious diseases that occur in the community. One of the causes of dental caries is the growth  of Streptococcus mutans. The use of mouthwash can help inhibit the growth of these bacteria. In this study, an antibacterial activity test was carried out on the ethanol extract of rambutan skin (Nephelium lappaceum L) and mouthwash preparations containing ethanol extract of rambutan skin. This antibacterial activity test was carried out using the diffusion method so that the method of subsidy. Antibacterial activity is shown by the presence of an obstruction diameter around the subsidy. The test concentrations used in this study were 5%, 10% and 20% ethanol extract of rambutan skin and mouthwash preparations of 10% and 20% of rambutan skin ethanol extract. And a chlorhexadine comparator of 0.2%. The results of the activity test showed that the extract and preparation of ethanol extract of rambutan skin had antibacterial activity with the largest inhibitory diameter in ethanol extract with a concentration of 20% of 6.59 mm and a 20% preparation with a diameter of 5.93 mm. Abstrak. Karies gigi masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang terjadi dimasyarakat. Salah satu penyebab karies gigi adalah adanya pertumbuhan Streptococcus mutans. Penggunaan obat kumur dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Pada penilitian ini dilakukan uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit rambutan (Nephelium lappaceum L) dan sediaan obat kumur yang mengandung ekstrak etanol kulit rambutan. Uji aktivitas antibakteri ini dilakukan menggunakan metode difusi agar cara sumuran. Aktivitas antibakteri ditunjukan daengan adanya diameter hambat disekitar sumuran. Konsentrasi uji yang digunakan pada penelitian ini yaitu ekstrak etanol kulit rambutan 5%, 10% dan 20% serta sediaan obat kumur ekstrak etanol kulit rambutan 10% dan 20%. Dan pembanding klorheksadin 0,2%. Hasil pengujian aktivitas menunjukan bahwa ekstrak maupun sediaan ekstrak etanol kulit rambutan memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter hambat terbesar pada ekstrak etanol dengan konsentrasi 20% sebesar 6,59 mm dan sediaan 20% dengan diameter 5,93 mm.
Aktivitas Antelmintik Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Jarak Pagar Secara In Vitro Tiara Hasya Juhara; Suwendar Suwendar; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy 817 - 826
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25765

Abstract

Abstract. In Indonesia, helminth infection prevalence ranges from 2.5% to 62%, driven by tropical climate, high population density, and low hygiene awareness. This study aimed to evaluate the anthelmintic activity of Jatropha curcas L. leaf extracts and fractions against adult pig roundworms (Ascaris suum), and to determine the PC50 and LC50 values. An experimental laboratory study used negative controls (0.5% CMC-Na), positive controls (pyrantel pamoate and piperazine citrate), and test groups treated with ethanol leaf extract (5%,10%,15%,20% and 25% w/v), an ethanol:water fraction (1%, 2%,4% and 8% w/v), and n-hexane and ethyl acetate fractions (1% and 2% w/v). Results showed the ethanol extract possessed anthelmintic activity, producing spastic-type paralysis. The 10% extract induced 50% paralysis, while 20% and 25% caused 60% mortality; the 8% ethanol:water fraction induced 40% paralysis. PC50 values for male and female worms were 9.0240% and 7.4542%; LC50 values were 27.3401% and 21.3944%. The fraction gave PC50 values of 43.2713% male and 14.1840% female. Abstrak. Di Indonesia, prevalensi infeksi cacing berkisar antara 2,5% hingga 62%, yang dipengaruhi oleh iklim tropis, kepadatan penduduk yang tinggi, dan rendahnya kesadaran akan kebersihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antelmintik ekstrak serta fraksi daun Jatropha curcas L. terhadap cacing Ascaris suum, serta menentukan nilai PC50 dan LC50. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan kontrol negatif (CMC-Na 0,5%), kontrol positif (pirantel pamoat dan piperazin sitrat), serta kelompok uji yang diberi perlakuan berupa ekstrak etanol daun (5%,10%,15%,20% dan 25% b/v), fraksi etanol-air (1%, 2%,4% and 8% b/v), serta fraksi n-heksana dan etil asetat (1% dan 2% b/v). Hasil menunjukkan ekstrak etanol memiliki aktivitas antelmintik dengan paralisis tipe spastik. Konsentrasi 10% menyebabkan paralisis 50%, sedangkan 20% dan 25% menyebabkan mortalitas 60%; fraksi etanol-air 8% menyebabkan paralisis 40%. Nilai PC50 cacing jantan dan betina masing-masing 9,0240% dan 7,4542%; nilai LC50 masing-masing 27,3401% dan 21,3944%. Fraksi etanol-air menghasilkan PC50 sebesar 43,2713% (cacing jantan) dan 14,1840% (cacing betina).