Bambang Tri Laksono
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Studi Literatur: Potensi Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) pada Penyembuhan Luka Rifda Maulvi Haq; Arlina Prima Putri; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 139 - 146
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24587

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process involving hemostasis, inflammation, proliferation, and tissue remodeling. Impairment of these processes may result from excessive oxidative stress, prolonged inflammation, and bacterial infection, leading to delayed tissue regeneration. The development of natural-based therapies has received increasing attention because plants contain bioactive compounds with various pharmacological activities. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) leaves have traditionally been used for wound treatment and contain secondary metabolites, including flavonoids, alkaloids, tannins, steroids, triterpenoids, and saponins, which have been associated with antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, and wound-healing activities. This study aims to review the potential of binahong leaves in wound healing based on scientific literature, particularly their pharmacological activities and development into topical formulations. A literature review was conducted by analyzing scientific articles obtained from relevant databases using predefined inclusion and exclusion criteria. The reviewed literature indicates that binahong leaves have potential to support wound healing through antioxidant, antibacterial, anti-inflammatory, and tissue regeneration activities. Recent studies have also demonstrated that binahong leaf extract may stimulate fibroblast proliferation and potentially interact with matrix metalloproteinases involved in extracellular matrix remodeling. Furthermore, topical formulations such as gels and patches have demonstrated potential to accelerate wound healing. Based on the reviewed literature, binahong leaves have promising potential as a natural therapeutic agent to support wound healing and may be further developed in topical dosage forms. Abstrak Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan. Gangguan pada proses tersebut dapat disebabkan oleh peningkatan stres oksidatif, inflamasi berkepanjangan, dan infeksi bakteri sehingga menyebabkan keterlambatan regenerasi jaringan. Pengembangan terapi berbasis bahan alam semakin mendapat perhatian karena tanaman mengandung senyawa bioaktif dengan berbagai aktivitas farmakologis. Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) secara tradisional digunakan dalam pengobatan luka dan mengandung berbagai metabolit sekunder, antara lain flavonoid, alkaloid, tanin, steroid, triterpenoid, dan saponin yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan penyembuhan luka. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daun binahong dalam penyembuhan luka berdasarkan literatur ilmiah, khususnya aktivitas farmakologis dan pengembangannya dalam sediaan topikal. Kajian dilakukan dengan menganalisis artikel ilmiah yang diperoleh dari basis data yang relevan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun binahong berpotensi mendukung penyembuhan luka melalui aktivitas antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, dan regenerasi jaringan. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa ekstrak daun binahong berpotensi meningkatkan proliferasi fibroblas dan berinteraksi dengan matrix metalloproteinases (MMPs) yang berperan dalam remodeling matriks ekstraseluler. Selain itu, pengembangan ekstrak daun binahong dalam sediaan topikal seperti gel dan patch menunjukkan potensi dalam mempercepat penyembuhan luka. Berdasarkan kajian literatur, daun binahong memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan alami yang mendukung penyembuhan luka dalam bentuk sediaan topikal.
Pola Penggunaan Antitrombosis pada Pasien Kardiovaskular-GGK di RS X Bandung Tahun 2025 Dini Farizah; Umi Yuniarni; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 171 - 182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24627

Abstract

Abstract. Cardiovascular disease is one of the main causes of morbidity and mortality in the world which is often accompanied by comorbidities of chronic kidney failure (CKD). Decreased kidney function can affect the selection of antithrombosis therapy, so an overview of its use patterns in patients with cardiovascular disease and GGK is needed. This study aims to determine the pattern of use of antithrombosis drugs in patients with cardiovascular disease with comorbid chronic kidney failure. This study is a descriptive observational study with retrospective data collection using patient medical records. Samples were taken using the total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed descriptively to obtain an overview of the pattern of use of antithrombosis drugs. The results of the study in 96 patients showed that the most antithrombosis use was in the form of a combination of two aspirin + clopidogrel drugs (19%), followed by a combination of three aspirin + clopidogrel + heparin drugs (16%). The most monotherapy use was aspirin (5%), while the combination of four aspirin drugs + clopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), the combination of five aspirin drugs + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), and a combination of six aspirin + clopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%). Abstrak. Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia yang sering disertai komorbid gagal ginjal kronis (GGK). Penurunan fungsi ginjal dapat memengaruhi pemilihan terapi antitrombosis sehingga diperlukan gambaran mengenai pola penggunaannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan GGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antitrombosis pada pasien penyakit kardiovaskular dengan komorbid gagal ginjal kronis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien. Sampel diambil menggunakan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis secara deskriptif untuk memperoleh gambaran pola penggunaan obat antitrombosis. Hasil penelitian pada 96 pasien menunjukkan bahwa penggunaan antitrombosis paling banyak berupa kombinasi dua obat, yaitu aspirin + klopidogrel (19%), diikuti kombinasi tiga obat, yaitu aspirin + klopidogrel + heparin (16%). Penggunaan monoterapi paling banyak adalah aspirin (5%), sedangkan kombinasi empat obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + fondaparinuks + heparin (5%), kombinasi lima obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + tikagrelor + heparin + warfarin (3%), dan kombinasi enam obat terdiri atas aspirin + klopidogrel + enoksaparin + fondaparinuks + heparin + warfarin (1%).
Formulasi Gel patch Bawang Putih Hitam (Allium sativum L.) Rani Ratnasari; Gita Cahya Eka Darma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 217 - 226
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24720

Abstract

Abstract. Black garlic (Allium sativum L.) is a fermented garlic product with more stable bioactive compounds and promising potential as an active ingredient in topical dosage forms. This study aimed to obtain the optimum formulation of a black garlic gel patch by optimizing the combination of hydroxypropyl methylcellulose (HPMC K100) and Carbopol 904 using a Design of Experiments (DoE) approach. An experimental study employing a factorial design was conducted using RStudio, with HPMC K100 (2–6%) and Carbopol 904 (0.5–2%) as formulation factors, while thickness, homogeneity, and swelling index were selected as optimization responses. The optimum formulation was further evaluated for organoleptic properties, thickness, weight, homogeneity, folding endurance, elongation at break, tensile strength, pH, swelling index, and physical stability. The results demonstrated that the combination of HPMC K100 and Carbopol 904 significantly affected all optimization responses (p < 0.05). The optimum formulation consisted of 2% HPMC K100 and 0.5% Carbopol 904, with a desirability value of 0.389. The optimized gel patch exhibited a thickness of 0.6 mm, a pH of 5.18, a swelling index of 135.53%, an elongation at break of 97.5%, and a tensile strength of 0.48 N/mm², and remained physically stable after six heating–cooling cycles. The optimum formulation fulfilled the required physical characteristics of a gel patch. Abstrak. Bawang putih hitam (Allium sativum L.) merupakan hasil fermentasi bawang putih yang memiliki kandungan senyawa bioaktif lebih stabil serta berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan memperoleh formula optimum gel patch bawang putih hitam melalui optimasi kombinasi Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC K100) dan Carbopol 904 menggunakan metode Design of Experiment (DoE). Penelitian eksperimental dilakukan dengan desain faktorial menggunakan RStudio, dengan HPMC K100 (2–6%) dan Carbopol 904 (0,5–2%) sebagai faktor, sedangkan respon optimasi meliputi ketebalan, homogenitas, dan swelling index. Formula optimum selanjutnya dievaluasi meliputi organoleptik, ketebalan, bobot, homogenitas, ketahanan lipat, elongation at break, tensile strength, pH, swelling index, dan stabilitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi HPMC K100 dan Carbopol 904 berpengaruh signifikan terhadap seluruh respon optimasi (p<0,05). Formula optimum diperoleh pada HPMC K100 2% dan Carbopol 904 0,5% dengan nilai desirability 0,389. Formula tersebut memiliki ketebalan 0,6 mm, pH 5,18, swelling index 135,53%, elongation at break 97,5%, tensile strength 0,48 N/mm², serta stabil selama enam siklus heating–cooling. Formula optimum memenuhi persyaratan karakteristik fisik gel patch.
Karakterisasi Kandungan Senyawa Spirulina (Arthrospira platensis) serta Asam Hialuronat Faisal Syahrul Abidin; Hanifa Rahma; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 227 - 236
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24727

Abstract

Abstract. Spirulina (Arthrospira platensis) is a microalga rich in bioactive compounds, including proteins, phycocyanin, polysaccharides, phenolic compounds, flavonoids, vitamins, and minerals that contribute to wound healing. Hyaluronic acid is a major component of the extracellular matrix that plays an essential role in maintaining wound hydration, promoting cell migration and proliferation, stimulating angiogenesis, and enhancing collagen synthesis. This review aims to summarize the characterization of Spirulina, its bioactive constituents, and the potential of combining Spirulina with hyaluronic acid to accelerate wound healing based on published studies. The characterization of Spirulina includes its morphological features and bioactive compound profile associated with its biological activities. Previous studies have demonstrated that Spirulina enhances fibroblast proliferation, collagen production, and tissue regeneration, whereas hyaluronic acid supports all phases of wound healing by maintaining a moist wound environment and promoting re-epithelialization. At appropriate concentrations, both materials have demonstrated favorable efficacy without significant toxic or genotoxic effects. Therefore, Spirulina and hyaluronic acid represent promising natural active ingredients for the development of safe and effective wound-healing formulations. Abstrak. Spirulina (Arthrospira platensis) merupakan mikroalga yang kaya akan senyawa bioaktif, seperti protein, fikosianin, polisakarida, senyawa fenolik, flavonoid, vitamin, dan mineral yang berpotensi mendukung proses penyembuhan luka. Selain itu, asam hialuronat merupakan komponen utama matriks ekstraseluler yang berperan penting dalam mempertahankan kelembapan luka, merangsang migrasi dan proliferasi sel, angiogenesis, serta pembentukan kolagen. Artikel ini bertujuan mengulas karakterisasi Spirulina, kandungan senyawa bioaktifnya, serta potensi kombinasi Spirulinadan asam hialuronat dalam mempercepat penyembuhan luka berdasarkan berbagai hasil penelitian. Karakterisasi Spirulina meliputi identifikasi morfologi, serta profil senyawa bioaktif yang berkontribusi terhadap aktivitas biologisnya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Spirulina mampu meningkatkan proliferasi fibroblas, sintesis kolagen, dan regenerasi jaringan, sedangkan asam hialuronat berperan pada setiap fase penyembuhan luka melalui pemeliharaan lingkungan luka yang lembap dan stimulasi re-epitelisasi. Pada konsentrasi tertentu, kedua bahan menunjukkan efektivitas yang baik tanpa menimbulkan efek toksik maupun genotoksik. Dengan demikian, Spirulina dan asam hialuronat berpotensi menjadi kandidat bahan aktif alami yang menjanjikan untuk pengembangan sediaan penyembuhan luka yang efektif dan aman.
Pola Peresepan Obat Pasien Gagal Jantung Kongestif RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Muhammad Ilham Al Ghifari; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 311 - 320
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24807

Abstract

Abstract. Heart failure is a leading cause of global morbidity and mortality, presenting a significant burden on healthcare systems. The complexity of pharmacological therapy for chronic heart failure requires systematic evaluation to ensure clinical effectiveness and medication adherence. This study aims to evaluate the prescribing patterns of primary and adjunctive drugs based on demographic characteristics in congestive heart failure patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the 2025 period. This research is a descriptive observational study with a retrospective cross-sectional design. Samples were obtained through a total sampling technique from the medical records of outpatient cases (ICD-10: 150.0) for the January-December 2025 period. Out of 258 samples, patients were predominantly male (60.85%) and aged 45-64 years (55.04%). The primary heart failure drug prescribing pattern was dominated by diuretics (36.83%) and beta-blockers (25.93%), with the main active ingredients being spironolactone, furosemide, and bisoprolol. Meanwhile, the adjunctive drug prescribing pattern was mostly dominated by antiplatelets (30.84%), statin antidyslipidemics (27.44%), and PPI gastroprotectors (14.12%). Abstrak. Gagal jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global yang memberikan beban signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Kompleksitas terapi farmakologis untuk gagal jantung kronis memerlukan evaluasi sistematis untuk memastikan efektivitas klinis dan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola peresepan obat utama dan obat penunjang berdasarkan karakteristik demografi pada pasien gagal jantung kongestif di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2025. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan desain cross-sectional retrospektif. Sampel diambil melalui teknik total sampling dari rekam medis pasien rawat jalan (ICD-10: 150.0) periode Januari hingga Desember 2025. Dari 258 sampel, pasien paling banyak adalah laki-laki (60,85%) dan kelompok usia 45–64 tahun (55,04%). Pola peresepan obat gagal jantung utama didominasi golongan diuretik (36,83%) dan beta bloker (25,93%), dengan zat aktif utama spironolakton, furosemide, dan bisoprolol. Sementara itu, pola peresepan obat penunjang terbanyak didominasi oleh golongan antiplatelet (30,84%), antidislipidemia statin (27,44%), dan gastroprotektor PPI (14,12%).
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Biji Ketumbar terhadap Embrio Ikan Zebra Amalia Arofah; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 339 - 346
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24829

Abstract

Abstract. Coriandrum sativum L. (coriander) seeds are widely recognized as a medicinal herb with various pharmacological activities and considerable potential for pharmaceutical development. However, information regarding their safety, particularly their effects on embryonic development, remains limited, necessitating an acute toxicity evaluation. This study aimed to assess the acute toxicity of the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds on zebrafish (Danio rerio) embryos and to determine the median lethal concentration (LC₅₀) as an indicator of toxicity. The study employed a true experimental design using the Fish Embryo Toxicity Test (FET) in accordance with the OECD Guideline 236. Zebrafish embryos were exposed to extract concentrations of 0.1, 1, 10, 100, and 1000 µg/mL for 96 hours. Embryo mortality and developmental abnormalities were analyzed using probit regression to determine the LC₅₀ value. The results demonstrated that the ethanolic extract induced embryonic abnormalities, including coagulation, delayed hatching, absence of somite formation, and lack of heartbeat. The LC₅₀ value was 18.7393 µg/mL, indicating that the extract is classified as slightly toxic. These findings suggest that the ethanolic extract of Coriandrum sativum L. seeds exhibits acute toxicity toward zebrafish embryos; therefore, its safety should be carefully considered before further development as a medicinal agent. Abstrak. Biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat. Namun, informasi mengenai keamanan penggunaannya, khususnya terhadap perkembangan embrio, masih terbatas sehingga diperlukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol biji ketumbar (Coriandrum sativum L.) terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio) serta menentukan nilai LC₅₀ sebagai indikator tingkat toksisitas. Penelitian menggunakan metode eksperimental (true experimental design) dengan pendekatan Fish Embryo Toxicity Test (FET) mengacu pada pedoman OECD 236. Embrio ikan zebra dipaparkan pada ekstrak dengan konsentrasi 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 µg/mL selama 96 jam. Data mortalitas dan abnormalitas embrio dianalisis menggunakan regresi probit untuk menentukan nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji ketumbar menyebabkan abnormalitas berupa koagulasi embrio, keterlambatan penetasan, tidak terbentuknya somit, dan tidak adanya denyut jantung. Nilai LC₅₀ yang diperoleh sebesar 18,7393 µg/mL, yang termasuk dalam kategori slightly toxic. Dengan demikian, ekstrak etanol biji ketumbar memiliki toksisitas akut terhadap embrio ikan zebra sehingga aspek keamanannya perlu diperhatikan sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan obat.
Profil Pengobatan Berbasis Platinum Pada Pasien KPKBSK Stadium III di RS X Nibras Rojwa Putri Azahra; Suwendar Suwendar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 355 - 364
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24914

Abstract

Abstract. Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) is the most common type of lung cancer, with the majority of patients newly diagnosed at stage III. Platinum-based combination chemotherapy (platinum doublet) is the primary systemic treatment option for controlling disease progression. This study aims to determine the profile of platinum-based treatment and the characteristics of stage III NSCLC patients at Hospital X. This study employed a retrospective observational design using a cohort approach. The sample was selected using total sampling from secondary medical record data of stage III NSCLC patients who met the inclusion criteria and received their fourth cycle of platinum-based chemotherapy. The results showed that of the 90 patients, the majority were male (76.7%) and aged 60 years or older (63.3%). The majority of patients are employed (90.0%), had a history of smoking (51.1%), had adenocarcinoma as the histopathological type (58.8%), were in stage III C (52.2%), and had comorbidities such as COPD or other lung diseases (48.7%). The most commonly used platinum-based chemotherapy regimens were carboplatin + paclitaxel (53.3%), followed by cisplatin + pemetrexed (20.0%), and cisplatin + paclitaxel (16.7%). These findings provide an overview of patient characteristics and platinum-based treatment profiles to inform improved treatment strategies for patients with stage III NSCLC. Abstrak. Kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) merupakan jenis kanker paru terbanyak, di mana sebagian besar pasien baru terdiagnosis pada stadium III. Kemoterapi kombinasi berbasis platinum (platinum-doublet) menjadi pilihan utama terapi sistemik untuk mengontrol progresivitas penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan berbasis platinum dan karakteristik pasien KPKBSK stadium III di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan desain observasional retrospektif dengan pendekatan kohort. Sampel diambil dengan teknik total sampling dari data sekunder rekam medis pada pasien KPKBSK stadium III yang memenuhi kriteria inklusi dan menerima kemoterapi berbasis platinum siklus ke-4.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 90 pasien, didominasi oleh laki-laki (76,7%) dengan kelompok usia ≥ 60 tahun (63,3%). Mayoritas pasien bekerja (90,0%), memiliki riwayat merokok (51,1%), dengan jenis histopatologi adenokarsinoma (58,8%), stadium III C (52,2%), dan memiliki komorbiditas PPOK atau penyakit paru lainnya (48,7%). Kelompok kemoterapi berbasis platinum yang banyak digunakan adalah kelompok carboplatin + paclitaxel (53,3%), diikuti cisplatin + pemetrexed (20,0%), dan cisplatin + paclitaxel (16,7%). Temuan ini memberikan gambaran umum terkait karakteristik pasien dan profil pengobatan berbasis platinum untuk meningkatkan strategi pengobatan pada pasien KPKBSK stadium III.
Efektivitas Bisoprolol pada Denyut Jantung Pasien Gagal Jantung di RS X Kintari Nabila; Bambang Tri Laksono; Andrian Hoerul Anwar
Bandung Conference Series: Pharmacy 391 - 398
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24965

Abstract

Abstract. Heart failure is a cardiovascular disease with high morbidity and mortality rates. Bisoprolol as a beta-blocker is recommended in the treatment of heart failure because it can reduce heart rate and improve patient clinical outcomes. This study aims to evaluate the effectiveness of bisoprolol in the therapy regimen for congestive heart failure on reducing heart rate in Hospital X. This study used an observational analytical method with a retrospective cohort design in 131 patients selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the One-Way ANOVA test with a significance level of p < 0.05. The results showed a significant difference in the average reduction in heart rate between bisoprolol dose groups (p = 0.007). The Tukey HSD test showed that a significant difference was only found between doses of 1.25 mg and 2.5 mg (p = 0.010), with a greater average reduction in heart rate at the 2.5 mg dose. Abstrak. Gagal jantung  merupakan penyakit kardiovaskular dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Bisoprolol sebagai beta-blocker direkomendasikan dalam pengobatan gagal jantung karena dapat menurunkan denyut jantung dan memperbaiki hasil klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas bisoprolol dalam regimen terapi gagal jantung terhadap penurunan denyut jantung di RS X. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain kohort retrospektif pada 131 pasien yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata penurunan denyut jantung antar kelompok dosis bisoprolol (p = 0,007). Uji Tukey HSD menunjukkan bahwa perbedaan signifikan hanya terdapat antara dosis 1,25 mg dan 2,5 mg (p = 0,010), dengan rata-rata penurunan denyut jantung yang lebih besar pada dosis 2,5 mg.
Profil Simplisia dan Ekstrak Daun Wortel (Daucus Carota L.) dari Daerah Sukabumi Devita Desria; Siti Hazar; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 459 - 466
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25087

Abstract

Abstract. Carrot leaves (Daucus carota L.) are one of the plants that have the potential as raw materials for traditional medicine because they contain various secondary metabolites. This study aims to characterize the crude drug and ethanol extract of carrot leaves originating from the Pasir Datar area, Sukabumi Regency. Extraction was carried out using the maceration method using 96% ethanol. Characterization included organoleptic testing, specific parameters (water-soluble and ethanol-soluble extract content), nonspecific parameters (drying loss, water content, total ash content, acid-insoluble ash content, and specific gravity of the extract), and phytochemical screening. The results showed that the crude drug and carrot leaf extract met the tested characterization parameters. Phytochemical screening showed the presence of flavonoids, polyphenols, saponins, and steroids/terpenoids, while alkaloids, tannins, quinones, and monoterpenoids/sesquiterpenoids were not detected. These characterization results indicate that the crude drug and ethanol extract of carrot leaves have good quality and have the potential to be developed as raw materials for traditional medicine. Abstrak. Daun wortel (Daucus carota L.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi simplisia dan ekstrak etanol daun wortel yang berasal dari daerah Pasir Datar, Kabupaten Sukabumi. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Karakterisasi meliputi pengujian organoleptik, parameter spesifik (kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol), parameter nonspesifik (susut pengeringan, kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, dan bobot jenis ekstrak), serta skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak daun wortel memenuhi parameter karakterisasi yang diuji. Skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan flavonoid, polifenolat, saponin, dan steroid/terpenoid, sedangkan alkaloid, tanin, kuinon, serta monoterpenoid/seskuiterpenoid tidak terdeteksi. Hasil karakterisasi ini menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun wortel memiliki mutu yang baik dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat tradisional.
Studi Literatur Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) untuk Luka Muhtaj Farhan Maulana Akbar; Arlina Prima Putri; Bambang Tri Laksono
Bandung Conference Series: Pharmacy 467 - 474
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25130

Abstract

Abstract. Wound healing is a complex biological process encompassing inflammatory, proliferative, and remodeling phases. Red betel (Piper crocatum) is rich in bioactive compounds for tissue repair. Objective: To analyze the in vivo efficacy of its topical formulations (ointment, cream, patch) on wound healing. Methods: Literature synthesis of five experimental rodent studies evaluating macroscopic and histopathological parameters. Results: Secondary metabolites (flavonoids, tannins, saponins, alkaloids) act synergistically as anti-inflammatory, antioxidant, and antibacterial agents (S. aureus, E. coli). Ointments (15%–45%) and cream (15%) suppressed acute inflammation, prevented pus, and accelerated wound closure by day 14. Combination transdermal patches (30%) enabled sustained release, significantly enhancing fibroblast proliferation (>50 cells/field) and dense collagen deposition. Conclusion: Red betel holds strong potential as a natural topical agent, where vehicle optimization is key to wound repair. Abstrak. Penyembuhan luka merupakan proses biologis kompleks yang mencakup fase inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Daun sirih merah (Piper crocatum) kaya senyawa bioaktif berpotensi memacu pemulihan jaringan. Tujuan: Menganalisis efektivitas sediaan topikal ekstrak sirih merah (salep, krim, patch) terhadap penyembuhan luka secara in vivo. Metode: Sintesis data dari lima studi literatur eksperimental pada tikus Wistar dan mencit dengan pengamatan makroskopis dan histopatologi. Hasil: Metabolit sekunder (flavonoid, tanin, saponin, alkaloid) bekerja sinergis sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antibakteri (S. aureus, E. coli). Salep (15%–45%) dan krim (15%) efektif menekan inflamasi akut, mencegah pus, serta mempercepat penutupan luka pada hari ke-14. Patch transdermal (30%) memberikan pelepasan terukur (sustained release) yang memicu proliferasi fibroblas (>50 sel/lapang pandang) dan pembentukan kolagen padat. Kesimpulan: Sirih merah berprospek tinggi sebagai obat topikal alami. Optimasi bentuk sediaan menjadi kunci percepatan pemulihan luka.