Muhammad Khadafi S
Universitas Tamalatea Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keselamatan Kerja Pada Penanganan Limbah Medis Di RSUD Dr. Chasan Boesoiri Ternate Sahril Amin; Muh. Ilyas Nur; Muhammad Khadafi S
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1577

Abstract

Penanganan limbah medis yang tidak sesuai standar berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan kerja, paparan bahan infeksius, serta gangguan kesehatan bagi petugas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keselamatan kerja pada penanganan limbah medis di RSUD Dr. Chasan Boesoirie Ternate. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 71 petugas. Variabel independen meliputi pengetahuan, sikap, ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP),variabel dependen adalah keselamatan kerja dalam penanganan limbah medis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,028), ketersediaan APD (p=0,000), dan kepatuhan SOP (p=0,000) dengan keselamatan kerja. Hasil analisis multivariat menunjukkan pengetahuan (p=0,048; OR=16,022), sikap (p=0,008; OR=52,964), ketersediaan APD (p=0,003; OR=51,259), dan kepatuhan SOP (p=0,016; OR=46,234) berhubungan signifikan dengan keselamatan kerja. Model memiliki nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,879. Disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, ketersediaan APD, dan kepatuhan SOP berhubungan dengan keselamatan kerja dalam penanganan limbah medis. Rumah sakit disarankan meningkatkan pelatihan, memastikan kelengkapan APD, serta memperkuat monitoring kepatuhan terhadap SOP.
Analisis Penerapan Higiene Sanitasi Pangan Pada SPPG Darul Mujaddin Di Kabupaten Halmahera Tengah Dalam Mendukung Keamanan Pangan Program Makan Bergizi Gratis: Analysis of Food Hygiene and Sanitation Implementation at SPPG Darul Mujaddin, Central Halmahera Regency, in Support of Food Safety for the Free Nutritious Meal Program Rifayanti Kusuma Wardani; Muh. Ilyas Nur; Muhammad Khadafi S
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1615

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan penerapan higiene sanitasi pangan yang konsisten untuk melindungi penerima manfaat dari risiko penyakit bawaan pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan higiene sanitasi pangan, kepatuhan terhadap prosedur dan regulasi, serta hambatan pengelolaan pangan pada SPPG Darul Mujaddin Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif pada tahun 2026. Enam informan dipilih secara purposif, terdiri atas satu informan kunci, empat informan utama, dan satu informan pendukung. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan content analysis. Hasil menunjukkan higiene sanitasi telah diterapkan sejak penerimaan dan penyimpanan bahan hingga pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Higiene personal, pemisahan bahan mentah dan matang, sanitasi peralatan, serta monitoring suhu telah dilakukan, tetapi konsistensi praktik dan dokumentasinya belum optimal. Kepatuhan prosedural relatif baik karena SOP tersedia dan disosialisasikan, APD digunakan, serta pengawasan internal dan eksternal berjalan. Kelemahan masih terdapat pada pencatatan suhu, kartu stok, buku sanitasi, konsistensi perilaku tanpa pengawasan langsung, penyelesaian IPAL, dan verifikasi status sertifikat laik higiene sanitasi. Hambatan dominan berada pada dokumentasi administratif dan infrastruktur sanitasi, sedangkan faktor geografis lebih merupakan potensi risiko rantai pasok. Penguatan monitoring, dokumentasi, pelatihan berkala, penyelesaian sarana, dan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk menjamin keamanan pangan Program MBG secara berkelanjutan.
Analisis Determinan Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Messa Kabupaten Halmahera Tengah: Analysis of Household Environmental Sanitation Determinants of Stunting Among Children Under Five in the Working Area of ​​Messa Community Health Center, Central Halmahera Regency Chalid Abd Halek; Muh. Ilyas Nur; Muhammad Khadafi S
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1648

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang berkaitan erat dengan kecukupan gizi, penyakit infeksi, dan sanitasi lingkungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah rumah tangga, dan kondisi saluran pembuangan air limbah (SPAL) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Messa Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian observasional analitik menggunakan desain cross-sectional dengan 77 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi sanitasi rumah tangga, dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil univariat menunjukkan 12 balita (15,6%) mengalami stunting dan 65 balita (84,4%) tidak stunting; 87,0% rumah tangga memiliki akses air bersih baik, 81,8% memiliki jamban layak, 76,6% mengelola sampah dengan baik, dan 76,6% memiliki kondisi SPAL baik. Analisis bivariat menunjukkan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah, dan kondisi SPAL masing-masing berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,000). Proporsi stunting lebih tinggi pada akses air bersih kurang baik (80,0%), jamban kurang layak (57,1%), pengelolaan sampah kurang baik (50,0%), dan SPAL kurang baik (55,6%). Sanitasi lingkungan rumah tangga merupakan komponen penting dalam pencegahan stunting sehingga perbaikan air bersih, jamban sehat, pengelolaan sampah, dan SPAL perlu diintegrasikan dengan intervensi gizi dan kesehatan balita.