Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada balita yang berkaitan erat dengan kecukupan gizi, penyakit infeksi, dan sanitasi lingkungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah rumah tangga, dan kondisi saluran pembuangan air limbah (SPAL) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Messa Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian observasional analitik menggunakan desain cross-sectional dengan 77 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi sanitasi rumah tangga, dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil univariat menunjukkan 12 balita (15,6%) mengalami stunting dan 65 balita (84,4%) tidak stunting; 87,0% rumah tangga memiliki akses air bersih baik, 81,8% memiliki jamban layak, 76,6% mengelola sampah dengan baik, dan 76,6% memiliki kondisi SPAL baik. Analisis bivariat menunjukkan akses air bersih, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah, dan kondisi SPAL masing-masing berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,000). Proporsi stunting lebih tinggi pada akses air bersih kurang baik (80,0%), jamban kurang layak (57,1%), pengelolaan sampah kurang baik (50,0%), dan SPAL kurang baik (55,6%). Sanitasi lingkungan rumah tangga merupakan komponen penting dalam pencegahan stunting sehingga perbaikan air bersih, jamban sehat, pengelolaan sampah, dan SPAL perlu diintegrasikan dengan intervensi gizi dan kesehatan balita.
Copyrights © 2026