Gangguan kesehatan reproduksi pada usia remaja adalah Premenstrual Syndrome (PMS). Masalah ini sering dialami oleh remaja perempuan, ditandai dengan gejala fisik, emosional, dan perilaku selama fase luteal siklus menstruasi. Gejala fisik ditandai dengan munculnya nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari pada sekitar area perut abdominal. Bentuk macam jenis pengobatan non-farmakologis adalah latihan aktifitas fisik, jenis latihan aktifitas fisik yang dilakukan adalah Latihan aerobik dengan intensitas sedang, intervensi latihan fisik ini membantu mengurangi tingkat perubahan tingkat nyeri terkait PMS dengan meningkatkan aktivitas fisik,sirkulasi darah, dan respons fisiologis tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektivitas latihan aerobik intensitas sedang dalam mengurangi tingkat nyeri pada remaja mengalami PMS. Desain penelitian dengan kuasi-eksperimental, pretest-posttest satu kelompok digunakan. Sampel terdiri dari 30 siswi sekolah menengah atas di Yogyakarta, terdiri dari 16 siswi (53,3%) berusia 15–16 tahun dan 14 siswi (46,7%) berusia 1718 tahun. Jenis intervensi aktifias fisik dengan latihan aerobik intensitas sedang diberikan waktu latihan selama empat minggu, frekuensi dua kali seminggu, dengan lama waktu sesi berlangsung 30–45 menit pada intensitas 50–70% dari denyut jantung maksimal. Tingkat nyeri diukur menggunakan Skala Analog Visual (VAS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk diikuti oleh uji Wilcoxon Signed Rank. Skor nyeri rata-rata adalah 2,03 ± 0,809 sebelum intervensi dan 2,73 ± 0,450 setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan Z = −4,001 dengan nilai p 0,000 (p < 0,05). Perubahan signifikan pada tingkat nyeri diamati setelah intervensi latihan aerobik intensitas sedang. Latihan aerobik intensitas sedang dapat berfungsi sebagai pilihan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri pada remaja dengan PMS.