Usaha bawang merah keluarga di Desa Tlogorejo, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro menghadapi tekanan struktural berupa harga di tingkat petani yang kerap berada di bawah Harga Acuan Pembelian, serangan hama ulat grayak (Spodoptera exigua), dan perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh optimisme, resiliensi, dan efikasi diri, baik secara parsial maupun simultan, terhadap ketahanan usaha bawang merah keluarga. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei eksplanatoris terhadap 60 keluarga petani bawang merah di Desa Tlogorejo yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan usaha (t = 3,235; Sig. = 0,002), resiliensi berpengaruh positif dan signifikan (t = 3,474; Sig. = 0,001), dan efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan (t = 2,846; Sig. = 0,006). Secara simultan, ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap ketahanan usaha (F = 12,889; Sig. = 0,000) dengan kontribusi sebesar 40,8% (Adjusted R² = 0,377). Resiliensi merupakan variabel yang memberikan pengaruh paling dominan (β = 0,366), diikuti oleh optimisme (β = 0,338) dan efikasi diri (β = 0,304). Temuan ini menegaskan bahwa kapital psikologis merupakan determinan penting bagi ketahanan usaha tani keluarga skala kecil, sehingga program penguatan psikologis petani, khususnya resiliensi, perlu menjadi prioritas dalam pendampingan petani bawang merah di Desa Tlogorejo.