Julia Emilda Pasaribu
Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Material Vulkanik Pasca Erupsi Gunung Marapi terhadap Peningkatan Risiko Banjir Bandang di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatera Barat Gustia Nurul’Ain; Julia Emilda Pasaribu; Vania Azalia; Ghina Asnah Aulia; Adhi Munajar
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 2 : INTEGRASI (JULI-DESEMBER 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i02.532

Abstract

Erupsi Gunung Marapi pada tanggal 3 Desember 2023 menghasilkan endapan material vulkanik dalam jumlah masif di lereng gunung yang secara signifikan meningkatkan potensi risiko banjir bandang (galodo) di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Peristiwa banjir bandang lahar dingin yang terjadi pada 11–12 Mei 2024 mengakibatkan 62 korban jiwa, 6.523 jiwa terdampak, dan kerusakan infrastruktur serta lahan pertanian yang masif. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran material vulkanik pasca erupsi sebagai faktor pemicu utama peningkatan risiko banjir bandang dengan menggunakan pendekatan data sekunder dari laporan BNPB, PVMBG, BPS, dan berbagai jurnal ilmiah terindeks. Kajian ini mengadopsi desain eksploratif melalui penerapan metode Systematic Literature Review (SLR) yang disintesis secara deskriptif-kualitatif sebagai landasan metodologisnya. Melalui kerangka kerja tersebut, jalinan interaksi antara parameter hidrologis, aspek vulkanologi, serta dinamika kebencanaan dapat dibedah dan diuraikan secara komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa akumulasi material vulkanik berupa abu, lapili, pasir vulkanik, dan batu besar di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di Gunung Marapi meningkatkan sediment yield dan menurunkan kapasitas tampung sungai secara drastis. Kombinasi antara ketersediaan material vulkanik yang melimpah, kemiringan lereng yang curam (>40%), dan curah hujan ekstrem (>100 mm/hari) menjadi triad faktor yang mendorong terjadinya lahar dingin destruktif. Kajian ini menyimpulkan perlunya sistem peringatan dini terintegrasi, pembangunan sabo dam, dan pengelolaan DAS berbasis risiko vulkanik sebagai langkah mitigasi.