Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EMPOWERED VOICES: UNMARRIED WOMEN’S PERSPECTIVE ON ‘PERAWAN TUA’ Maylon, Zephyr Sumayyah; Primadini, Intan
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 11 No 1 (2025): FEBRUARI 2025
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/liski.v11i1.7626

Abstract

The deep-rooted patriarchal culture in Indonesia makes women seen as submissive and inferior to men, so they often receive unfair treatment in the society. Along with the increasing awareness of gender equality, women are starting to dare to choose the path of life they want, including in terms of marital status. The phenomenon of postponing marriage is increasingly widespread because of the awareness of what women will face when getting married in an environment with a patriarchal culture that is still inherent in the society. This can be seen through the increase in the number of unmarried women and the shift in the average age of marriage for women in Indonesia. Ironically, the result of patriarchal culture is still very much embedded in society, making unmarried women obtain a negative stigma from society, which is "perawan tua" as one of them. The purpose of this research is to find out how women who have never been married interpret the term "perawan tua" by society. This research uses a qualitative approach with phenomenological methods analyzed through interpretative phenomenological analysis (IPA) techniques. Interview techniques were used in collecting data for this study and analyzed using the data analysis technique by Smith et al. (2009). The results showed that unmarried women interpreted the term "perawan tua" as negative. However, participants did not internalize the term into themselves.
Childfree Men: The Reasons Behind the Decision Yonathan, Michelle; Primadini, Intan
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2023): December 2023 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v8i2.865

Abstract

Childfree is a phenomenon that has been popular since the 1970s and is becoming more common in a number of nations, including Asia. Childfree has recently gained popularity among Indonesians. As a patriarchal culture, the majority of Indonesians subscribe to pro-natalism, making childfree a taboo subject to discuss or even make a choice. Surprisingly, when stated by women, the decision to be childless is highly condemned by society. Meanwhile, when males express their intention to be childless, society tends to laud individuals involved. As a result, the researcher hopes to learn more about the factors that influence men's decisions to be childless in Indonesia through this research. As a data collection strategy, this study used an exploratory qualitative approach, employing interpretive phenomenology methodologies, and conducting interviews with four individuals. The findings revealed being childfree was selected based on both internal and environmental influences. The experiences of participants in choosing childfree marriage can then be viewed via symbolic interactionism theory by Herbert Blumer.
DEBUT YOUROWNHERO: KAMPANYE PENYADARTAHUAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL UNTUK SATUAN PENDIDIKAN Primadini, Intan; Hidayat, Wanda Gema Prasadio Akbar; Kurniawan, Paulus Heru Wibowo; Kristiyanti, Dinar Ajeng; Demi, Sita Winiawati; Willona, Yemima
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.24707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama di antara seluruh pihak di satuan pendidikan mengenai bentuk-bentuk dasar kekerasan seksual yang sering terabaikan. Para peneliti membagi rangkaian penelitian ini menjadi tiga tahap penting. Tahap pertama yaitu tahap persiapan. Tahap kedua adalah implementasi yang meliputi kegiatan offline dan tantangan. Tahap terakhir adalah pengujian dan evaluasi hasil. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan siswa perwakilan kelas 9 SMP Negeri Cisauk yang telah mengikuti program edukasi terkait isu kekerasan seksual melalui Debut # YourOwnHero. Program ini berdampak positif terhadap peningkatan kesadaran, pemahaman, dan komitmen mereka dalam menangani dan mencegah keterbukaan informasi dan kekerasan seksual. Hal ini terlihat dari hasil rata-rata nilai evaluasi kegiatan Debut secara offline yang menunjukkan bahwa program ini berhasil memberikan pengetahuan yang relevan, memperkuat komitmen penyelesaian kekerasan dan kekerasan seksual, serta membantu mereka memahami pentingnya tindakan preventif dan responsif. dalam situasi yang berkaitan dengan pemahaman dan kekerasan seksual. Selain itu, dalam kegiatan berani Debut #YourOwnHero yaitu edukasi melalui platform media sosial Instagram, mencapai target yang obyektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa program Debut #YourOwnHero yang berani dan menarik berhasil mencapai targetnya.
DEBUT #YOUROWNHERO: KAMPANYE PENYADARTAHUAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL UNTUK SATUAN PENDIDIKAN Primadini, Intan; Hidayat, Wanda Gema Prasadio Akbar; Kurniawan, Paulus Heru Wibowo; Kristiyanti, Dinar Ajeng; Demi, Sita Winiawati; Willona, Yemima
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.25169

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama di antara seluruh pihak di satuan pendidikan mengenai bentuk-bentuk dasar kekerasan seksual yang sering terabaikan. Para peneliti membagi rangkaian penelitian ini menjadi tiga tahap penting. Tahap pertama yaitu tahap persiapan. Tahap kedua adalah implementasi yang meliputi kegiatan offline dan tantangan. Tahap terakhir adalah pengujian dan evaluasi hasil. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan siswa perwakilan kelas 9 SMP Negeri Cisauk yang telah mengikuti program edukasi terkait isu kekerasan seksual melalui Debut # YourOwnHero. Program ini berdampak positif terhadap peningkatan kesadaran, pemahaman, dan komitmen mereka dalam menangani dan mencegah keterbukaan informasi dan kekerasan seksual. Hal ini terlihat dari hasil rata-rata nilai evaluasi kegiatan Debut secara offline yang menunjukkan bahwa program ini berhasil memberikan pengetahuan yang relevan, memperkuat komitmen penyelesaian kekerasan dan kekerasan seksual, serta membantu mereka memahami pentingnya tindakan preventif dan responsif. dalam situasi yang berkaitan dengan pemahaman dan kekerasan seksual. Selain itu, dalam kegiatan berani Debut #YourOwnHero yaitu edukasi melalui platform media sosial Instagram, mencapai target yang obyektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa program Debut #YourOwnHero yang berani dan menarik berhasil mencapai targetnya.
STRATEGI PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN SEKOLAH MELALUI PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL PADA MA RAUDLATUL IRFAN Hidayat, Wanda Gema Prasadio Akbar; Primadini, Intan; Prabowo, Ananto; Putri, Jasmine; Kega, Isysya; Rachel, Marchella
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37168

Abstract

Kegiatan PKM ini bertujuan untuk mencapai SDGs No. 5 (Kesetaraan Gender), SDGs No. 4 (Kualitas Pendidikan), dan SDGs No. 3 (Hidup Sehat & Sejahtera). Kegiatan PKM ini kami laksanakan di MA Raudlatul Irfan. Kegiatan PKM ini melibatkan guru dan siswa. Melalui program kegiatan PKM, guru dan siswa berhasil meningkatkan pemahaman tentang kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender online (KBGO), dan kekerasan di lingkungan sekolah. Peningkatan ini penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman. Pelatihan untuk guru menunjukkan hasil positif, dengan akurasi jawaban meningkat dari 44,76% pada pre-test menjadi 75,71% pada post-test, menandakan mereka siap menangani kasus kekerasan dan memahami prosedur pelaporan. Peserta pelatihan tentang KBGO juga mengalami peningkatan pemahaman yang signifikan, dari 47% menjadi 64%, sehingga lebih responsif terhadap ancaman kekerasan berbasis gender di era digital. Pemahaman siswa tentang kekerasan di sekolah juga meningkat, dari 25,99% menjadi angka yang jauh lebih tinggi setelah pelatihan, membuat mereka lebih mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan, seperti bullying dan diskriminasi. Secara keseluruhan, program ini berhasil meningkatkan kesadaran dan pengetahuan peserta, mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih sehat dan aman.