Siti Fauziyah
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cost-Effectiveness Analysis of Cefazolin, Ceftriaxone, and Ceftizoxime as Prophylactic Antibiotics for Cesarean Section Surgical Site Infections at Bhakti Medicare Hospital Anton Kustanto; Priyanto Priyanto; Siti Fauziyah; Muhammad Syaripuddin
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026): OKTOBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62274

Abstract

Antibiotik profilaksis merupakan terapi utama untuk mencegah infeksi daerah operasi (Surgical Site Infection/SSI), terutama pada tindakan seksio sesarea yang memiliki risiko infeksi relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya dan efektivitas penggunaan antibiotik profilaksis cefazolin, ceftriaxone, dan ceftizoxime melalui pendekatan farmakoekonomi menggunakan metode Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Penelitian menggunakan desain observasional analitik retrospektif dengan data rekam medis pasien seksio sesarea di Rumah Sakit Bhakti Medicare periode Agustus–Oktober 2024. Sebanyak 100 pasien dianalisis, terdiri atas 6 pasien mengalami SSI dan 94 pasien tidak mengalami SSI. Efektivitas antibiotik profilaksis berturut-turut adalah cefazolin 97%, ceftriaxone 94%, dan ceftizoxime 91%. Hasil analisis menunjukkan cefazolin memiliki nilai ACER terendah sebesar Rp10.906.105 sehingga menjadi alternatif terapi yang paling cost-effective. Nilai ICER menunjukkan tambahan biaya penggunaan ceftriaxone sebesar Rp296.467 dan ceftizoxime sebesar Rp470.850 dibandingkan cefazolin. Dengan demikian, cefazolin merupakan pilihan antibiotik profilaksis yang paling efisien dalam pencegahan SSI pada pasien seksio sesarea.
Adaptasi dan validasi instrumen kidney knowledge survey (KIKS) versi bahasa Indonesia untuk menilai tingkat pengetahuan pasien penyakit ginjal kronik Tigo Ramansyah Prawira Negara; Hadi Sunaryo; Siti Fauziyah
Hik Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1758

Abstract

Background: Knowledge levels about chronic kidney disease (CKD) influence self-management behavior and patient treatment outcomes. Knowledge levels need to be measured, but currently, no instrument exists in Indonesia to assess the knowledge levels of patients with chronic kidney disease. Purpose: To analyze the adaptation and validation of the Indonesian version of the Kidney Knowledge Survey (KIKS) instrument to assess the knowledge levels of patients with chronic kidney disease. Method: This retrospective cohort study, adapting and validating the KIKS instrument, was conducted at Menteng Mitra Afia Hospital Central Jakarta, EMC Pekayon, and Cepat Sehat Indonesia Clinic, as well as the UHAMKA language institute, from January to September 2024. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 30 participants. The independent variable in this study was knowledge level, while the dependent variable was patients with chronic kidney disease. Data analysis used univariate analysis using frequency distributions and bivariate analysis using paired t-tests. Results: The p-value indicates a significant change before and after the intervention; p <0.05 is significant. Health education had a significant impact by increasing knowledge, decreasing creatinine, and increasing glomerular filtration rate, while systolic blood pressure did not change significantly. Conclusion: The average knowledge level increased from 14.9 before health education to 21.8 after receiving health education related to chronic kidney disease.   Keywords: Chronic Kidney Disease; Kidney Knowledge Survey; Knowledge; Patient.   Pendahuluan: Tingkat pengetahuan tentang penyakit ginjal kronik akan mempengaruhi perilaku manajemen diri dan outcome terapi pasien. Tingkat pengetahuan perlu diukur untuk mengetahuinya, namun di Indonesia hingga saat ini, belum ada instrumen yang dapat mengukur tingkat pengetahuan pasien penyakit ginjal kronik. Tujuan: Untuk menganalisis Adaptasi dan validasi instrumen kidney knowledge survey (KIKS) versi bahasa Indonesia untuk menilai tingkat pengetahuan pasien penyakit ginjal kronik. Metode: Penelitian kohort retrospektif adaptasi dan validasi Instrumen KiKS, dilaksanakan di Rumah Sakit Menteng Mitra Afia Jakarta Pusat, EMC Pekayon, dan Klinik Cepat Sehat Indonesia serta lembaga bahasa UHAMKA pada Januari–September 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sedangkan variabel dependen adalah pasien gagal ginjal kronik. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan paired t-test. Hasil: P-value menunjukkan kemaknaan perubahan sebelum–sesudah intervensi, p<0.05 berarti signifikan. Edukasi kesehatan memberi dampak bermakna dengan meningkatkan pengetahuan, menurunkan kreatinin, dan meningkatkan laju filtrasi glomerulus, sedangkan tekanan darah sistolik tidak berubah signifikan. Simpulan: Peningkatan tingkat pengetahuan dari rata-rata pengetahuan sebelum edukasi kesehatan yaitu 14.9 menjadi 21.8 setelah mendapatkan edukasi kesehatan terkait penyakit gagal ginjal kronik.   Kata Kunci: Gagal ginjal kronik; Kidney Knowledge Survey; Pasien; Pengetahuan.