Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan global yang signifikan dan berkontribusi terhadap mening katnya resistensi antimikroba. Program penatagunaan antimikroba (Antimicrobial Stewardship Program/ASP) dikembangkan sebagai strategi sistematis untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik melalui berbagai pendekatan intervensi, termasuk intervensi multifaset, edukasi, audit dan umpan balik, serta clinical decision support (CDS) berbasis teknologi. Narrative review ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai intervensi ASP (Antimicrobial Stewardship Program) dalam meningkatkan penggunaan antibiotik yang rasional di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan Scopus terhadap artikel yang dipublikasikan pada periode 2016–2026. Artikel yang diinklusi merupakan randomized controlled trial (RCT) berbahasa Inggris yang mengevaluasi intervensi ASP dan melaporkan luaran terkait penggunaan antibiotik. Sebanyak tujuh studi memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan sintesis naratif berdasarkan jenis intervensi, setting pelayanan, dan luaran yang dilaporkan. Hasil menunjukkan bahwa efektivitas intervensi ASP bervariasi. Intervensi multifaset yang mengombinasikan edukasi, pedoman klinis, dukungan pengambilan keputusan, serta Prospective Audit andFeedback (PAF) cenderung menunjukkan hasil yang lebih konsisten dalam memperbaiki ketepatan penggunaan antibiotik. PAF menunjukkan potensi dalam mengurangi penggunaan antibiotik tanpa memperburuk luaran klinis pada populasi yang diteliti, sedangkan intervensi berbasis CDS menunjukkan hasil yang bervariasi dan dipengaruhi oleh integrasi sistem, alur kerja klinis, serta penerimaan klinisi. Diagnostik cepat dapat meningkatkan ketepatan terapi antibiotik secara dini, tetapi perbaikan luaran penatagunaan antimikroba tidak selalu disertai dengan perbaikanluaran klinis. Heterogenitas jenis intervensi, populasi, setting pelayanan, dan luaran membatasi perbandingan langsung serta generalisasi hasil. Dengan demikian, efektivitas strategi ASP tidak bersifat universal pada berbagai setting pelayanan kesehatan. Strategi yang diterapkan perlu disesuaikan dengan karakteristik pelayanan, kapasitas sumber daya, dan konteks implementasi pada masing-masing fasilitas kesehatan.