Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN XANTON DARI KULIT BUAH MANGGIS ( Garcinia mangostana L.) Ivan Surya Pradipta; Titi W Nikodemus; Yasmiwar Susilawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 4 No. 2 (2007)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTA research on the isolation and identification of xanthone from the fruit rind of mangosteen(Garcinia mangostana L.) was carried out. Extraction was done using maceration with methanol –water solvent and fractionation with n-hexane and ethyl acetate solvent. Column chromatographywith silica gel as the stationary phase and n-hexane – ethyl acetate (7 : 3) as the mobile phase wasused for the isolation. From the ethyl acetate fraction was obtained GM II-1 isolate (Rf 0,61 ; nhexane– ethyl acetate 7 : 3 as mobile phase) which showed a colour change from reddish brown toyellow under UV light 366 nm after spraying with AlCl3. Identification of the isolate with UVspectrophotometry gave maximum absorptions at wavelengths 241,5, 257,5, 317, 364,5 nm. GC -MS indicated that GM II-1 isolate had a molecular weight of 259, the isolate was presumed to be axanthone.Keywords: xanthone, Garcinia mangostana L., mangosteen, isolation, identification
Program Partisipasi Masyarakat dalam Meningkatkan Deteksi Kasus dan Monitoring Pengobatan Tuberkulosis di Masa Pandemi Covid-19 Ivan Surya Pradipta; Nurul Darmawulan; Indra Hadikrishna; Aulia Hanafitri
Media Karya Kesehatan Vol 5, No 2 (2022): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v5i2.35656

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kasus tuberkulosis (TB) terbanyak kedua di dunia. Kasus TB telah diprediksi meningkat selama pandemi COVID-19. Penemuan dan pelaporan kasus TB menjadi permasalahan utama di Indonesia. Data terbaru menunjukkan angka deteksi kasus TB di kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat masih belum mencapai target yang diharapkan. Upaya pelibatan masyarakat berpotensi dalam meningkatkan angka deteksi kasus dan keberhasilan terapi TB di Indonesia, namun hal tersebut terhambat akibat kebijakan-kebijakan pembatasan sosial selama pandemi COVID-19. Oleh karena itu aktifitas ini bertujuan untuk mengembangkan kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam melakukan penemuan kasus dan pendampingan terapi pasien TB pada masa pandemi COVID-19 di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Sebuah mediasi online dilakukan dengan melibatkan struktur pemerintah, pengelola program TB dan masyarakat setempat untuk meningkatkan pemahaman, penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan TB. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu komunikasi dengan struktur pemerintah dan pengelola program TB; identifikasi kelompok kader TB potensial; peningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader TB terpilih; pengembangan petunjuk pelaksanaan; dan pembuatan media komunikasi antara kader dan pengelola program TB setempat. Hasilnya, kegiatan ini berhasil menjaring enam kader TB yang potensial selama empat pekan yang kemudian dilatih dan diberikan petunjuk pelaksanaan kegiatan untuk menunjang pengetahuan, peran dan tugas kader TB. Kader terpilih difasilitasi media komunikasi dengan pengelola program TB di puskesmas. Kegiatan ini berhasil mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan deteksi kasus dan monitoring pengobatan TB di masa pandemi COVID-19. Kata kunci: Kader; peran masyarakat; program kesehatan; tuberkulosis.
EFEK SAMPING OBAT PADA PENGOBATAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA Oneng Ifayani; Irma Melyani Puspitasari; Widya N. Insani; Ivan Surya Pradipta
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 1 (2023): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i01.25660

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan permasalahan serius di dunia kesehatan. Sebanyak 10,6 juta dari populasi dunia menderita TB pada tahun 2021 dan 1,6 juta meninggal karena TB. Penyebab utama TB yaitu Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru. Penggunaan Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) merupakan andalan dalam pengobatan tuberkulosis. Tuberkulosis resisten obat ganda (TB ROG) merupakan penyakit yang resisten terhadap setidaknya dua obat yaitu (rifampisin dan isoniazid) serta membutuhkan pengobatan relatif lama dengan beberapa obat lini kedua. Obat tersebut dapat menimbulkan efek samping yang mengakibatkan kegagalan pengobatan. Tinjauan naratif ini menyajikan informasi ilmiah mengenai kejadian, jenis efek samping dan OAT yang menimbulkan efek samping pada TB ROG sehingga dapat bermanfaat dalam penatalaksanaan TB ROG. Studi review naratif ini  dikembangkan dari database elektronik PubMed pada perisode 2012-2022. Dari sumber informasi yang diperoleh, kami mengidentifikasi dua rejimen yang umum digunakan, yaitu rejimen jangka panjang/long term regimen (LTR) dan rejimen jangka pendek/short term regimen (STR). Analisis terhadap sumber informasi yang ada menunjukkan beragam kejadian efek samping obat (ESO) pada rejimen STR yaitu gangguan pendengaran karena aminoglikosida (63%), perpanjangan interval QTc karena clofazimine (33,3%), dan neuropati perifer karena bedaquiline (56,3%). Sedangkan, pada rejimen LTR, ESO berupa neuritis perifer (81%) dan gangguan saluran cerna (33,60%) karena linezolid, serta kerusakan hati (31,8%) dan perubahan warna kulit (22,7%) karena clofazimine. Beragam penanganan ESO dideskripsikan, antara lain melalui penurunan dosis rejimen, pergantian rejimen obat maupun penghentian obat. Tingginya kejadian ESO pada TB ROG mendorong perlunya manajemen ESO TB ROG yang adekuat untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan pada pasien TB ROG.
ARTICLE REVIEW: THE TREATMENT PROBLEM AND ADVERSE DRUG REACTIONS IN THE TREATMENT OF MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS Sartika Aprianti; Prayudi Santoso; Melisa Intan Barliana; Ivan Surya Pradipta
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 4 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i4.988

Abstract

Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) is the resistance of Mycobacterium tuberculosis to at least two tuberculosis (TB) drugs, rifampicin and isoniazid. The disease requires a long treatment duration with several second-line drugs. This leads to a globally low success rate of approximately 56% for MDR-TB treatment.  Studies have reported that adverse drug reactions (ADRs) contribute to high rates of non-compliance, treatment discontinuation, and failure. This narrative review aimed to provide information about MDR-TB treatment modalities, various ADRs, challenges encountered in MDR-TB treatment, and instances of ADRs that can impact treatment success. This narrative review study was conducted by searching for scientific information from the primary electronic databases PubMed and Google Scholar, covering 2012-2022. Based on the literature search results, 14 studies were identified, demonstrating challenges in TB and MDR-TB treatment, along with 6 ADRs that can influence treatment success in MDR-TB patients. ADRs during MDR-TB treatment can affect patients’ physical, mental, and social well-being as well as their beliefs and behaviors related to treatment. Comprehensive support from families, communities, and healthcare providers is essential to assist patients in addressing treatment challenges and adverse ADRs. Rapid identification and strategies for monitoring and managing treatment challenges and ADRs can improve compliance and success of MDR-TB treatment. Keywords: Adverse Drug Reactions, Drug Side Effects, Multi Drug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB), Treatment Success
NARRATIVE REVIEW: INCIDENCE, CAUSES AND INTERVENTION STRATEGIES OF MEDICATION ERRORS TO IMPROVE CHEMOTHERAPY SERVICES IN HOSPITALS Nurliyani, Hani; Alfian, Sofa Dewi; Rahayu, Cherry; Pradipta, Ivan Surya
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 9 No 3 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v9i3.1180

Abstract

Medication errors (MEs) are medication errors that have the potential to harm patients during treatment or care. Cancer care is a complex and interconnected system and many errors can be catastrophic. ME in antineoplastic drugs have the potential to cause permanent injury and even death. Evaluation measures of ME incidence in Indonesia are still not optimally carried out, thus leading to the need for a good understanding of the potential ME incidence, especially in cancer patient care. A good understanding of the incidence of medication errors will encourage preventive efforts against the potential occurrence of ME. This narrative review aims to provide information related to the incidence of ME in the Chemotherapy department at the hospital, the causative factors, and the handling and prevention efforts. Scientific information searches were conducted on the PubMed and Google Scholar databases for the period 2012-2022. The results showed that the incidence of ME mostly occurred in the prescription phase, namely in the form of dosage errors (45–59.3%), incomplete prescriptions (43–45.5%), drug frequency errors (30.4%), and     errors in patient name, age, and diagnosis data (22.5%). Several aspects contributing to the occurrence of ME were identified, including work procedures, staff, organizational systems, and staff understanding of medication regimens. This study concluded that there is a need to regulate and evaluate several aspects, including work procedures, availability of auxiliary systems, and increasing the capacity of human resources involved. This may prevent the occurrence of ME.
Penerapan Metode Workload Indicator Staffing Need untuk Evaluasi Kebutuhan Tenaga Kefarmasian: Studi Kasus di Depo Farmasi Rawat Jalan Peserta Asuransi Jaminan Kesehatan Nasional pada Sebuah Rumah Sakit Swasta di Kota Bandung Sombo, Patria Pari Agnes Ago Ana Sombo; Yohanes, David Christianto; Pradipta, Ivan Surya
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.4.352

Abstract

Pemerintah Indonesia telah menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional untuk meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit. Diperlukan penilaian sumber daya manusia yang memadai di setiap unit rumah sakit untuk dapat memberikan layanan terbaik kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah pekerja yang dibutuhkan di pelayanan depo farmasi rawat jalan peserta asuransi jaminan kesehatan nasional pada sebuah rumah sakit swasta di Kota Bandung dengan menggunakan metode Workload Indicator Staffing Need (WISN). Penelitian observasional deskriptif dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2022 di sebuah rumah sakit swasta tipe B di Kota Bandung dengan metode WISN. Data diambil dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan analisis data rumah sakit. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan waktu kerja tersedia untuk tenaga kefarmasian sebesar 109.440 menit dengan nilai standar kelonggaran 0,0625. Beban kerja dihitung dari jumlah resep harian yang dilayani yaitu 5 resep racikan dan 100 resep non-racikan sehingga didapatkan standar beban kerja untuk resep racikan dan non-racikan berturut-turut sebesar 1.824 dan 3.648. Data tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja dan diidentifikasi bahwa rumah sakit tempat penelitian membutuhkan 7 orang tenaga kerja. Rasio WISN menunjukkan adanya rasio sebesar 0,57. Studi ini mengindikasi adanya kekurangan jumlah tenaga kerja yang berimplikasi pada peningkatan beban kerja. Perlu adanya evaluasi secara komprehesif terhadap penyediaan tenaga kefarmasian untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah sakit tempat penelitian berlangsung.
Hambatan dan Strategi untuk Pengobatan Tuberkulosis Laten: Sebuah Narrative Review Nurfadila, Firda Shafira; Anggi, Joseph Fide; Rahmani, Syifa Luthfiyah; Pradipta, Ivan Surya; Destiani, Dika Pramita
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v16i2.42065

Abstract

Salah satu strategi dan intervensi dari WHO dalam menurunkan insiden tuberkulosis (TB) adalah memberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) kepada kelompok orang berisiko atau orang dengan infeksi laten tuberkulosis (ILTB). Beberapa penelitian dilapangan menunjukan masih terdapat hambatan sehingga program ini belum dikatakan berhasil. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan dan strategi potensial untuk mendukung program TPT. Pencarian artikel untuk narrative review ini yaitu abstrak artikel berbahasa inggris dengan rentang waktu terbit dari tahun 2008 sampai tahun 2024 yang diterbitkan dari database Scopus, Pubmed dan World of Sciences (WoS). Dari 106 artikel yang berpotensi memenuhi syarat, terdapat 29 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hambatan yang teridentifikasi adalah kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan mengenai TPT, kurangnya arahan dari pembuat kebijakan nasional, kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakit tuberkulosis, ketersediaan logistik belum memadai, kurangnya petugas diagnostik serta pasien kesulitan karena jarak jauh menuju layanan pemeriksaan. Dari hambatan yang teridentifikasi, adapun strategi potensial yang mendukung seperti pelatihan manajemen ILTB bagi tenaga kesehatan, sosialisasi dan edukasi kepada pasien, perencanaan obat dan layanan pemeriksaan yang memadai serta pedoman dan arahan kebijakan nasional yang terintegrasi. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan resiko terjadinya infeksi TB, arahan kebijakan nasional yang serius serta kolaborasi antara fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta untuk setiap kaskade pelayanan ILTB diharapkan dapat memberikan kontribusi yang mendukung program TPT sehingga dapat mengurangi insidensi TB aktif secara global.