Background: Children of Indonesian descent who live and study outside Indonesia are exposed to cultural, linguistic, social, and media influences from their host environment. Although such cross-cultural exposure can enrich children's experiences, it may also create challenges in maintaining familiarity with their heritage culture and national identity. Schools and community-based learning centres therefore have an important role in facilitating the development of a balanced identity that maintains cultural attachment while encouraging openness to intercultural interaction. Objective: This community engagement program aimed to strengthen Indonesian national and cultural identity among students at Madrasah Tafidz An-Nahdloh, Selangor, Malaysia, by increasing their awareness of Indonesian history and culture, fostering pride in Indonesian identity, and encouraging reflection on the challenges of maintaining national identity in a cross-cultural environment. Method: The program was conducted at Madrasah Tafidz An-Nahdloh, Lot 1300, Jalan Masjid, Kampung Tanjung Sepat Darat, Tanjong Sepat, Selangor, Malaysia. The participants comprised 39 students from Grades 7–9 and school administrators. Activities employed lectures, presentations, discussions, question-and-answer sessions, observation, audiovisual learning, historical film viewing and summarisation, cultural and historical learning, and English-language learning. Evaluation was conducted descriptively through observation, discussion, documentation, and a student perception survey concerning school efforts to strengthen nationalism. Results: The program was implemented successfully and was accompanied by active student participation. Students demonstrated greater awareness of the importance of maintaining Indonesian national identity and expressed pride in being Indonesian citizens. They also recognised the influence of Malaysian culture on their everyday lives. The school had implemented activities supporting national identity, including flag ceremonies and national-day commemorations. In the perception survey, 95% of students strongly agreed and 5% agreed that the school had made efforts to organise programs to strengthen nationalism. Conclusion: Knowledge sharing combined with contextual and experiential learning can support the strengthening of national and cultural awareness among Indonesian-descendant children living in a cross-cultural environment. However, formal school activities alone are unlikely to be sufficient for sustained identity development. Continuous, contextual, participatory, and collaborative programs involving schools, families, and communities are needed to maintain Indonesian cultural identity while supporting positive intercultural engagement. Keywords: Indonesian national identity; cultural identity; Indonesian children abroad; cross-cultural education; community engagement _________________________________________________________ Abstrak Latar belakang: Anak-anak keturunan Indonesia yang tinggal dan menempuh pendidikan di luar Indonesia terpapar oleh berbagai pengaruh budaya, bahasa, sosial, dan media dari lingkungan tempat tinggal mereka. Meskipun paparan lintas budaya tersebut dapat memperkaya pengalaman anak, kondisi ini juga dapat menimbulkan tantangan dalam mempertahankan kedekatan dengan budaya asal dan identitas nasional mereka. Oleh karena itu, sekolah dan pusat pembelajaran berbasis masyarakat memiliki peran penting dalam memfasilitasi perkembangan identitas yang seimbang, yaitu mempertahankan keterikatan budaya sekaligus mendorong keterbukaan terhadap interaksi antarbudaya. Tujuan: Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat identitas nasional dan budaya Indonesia pada siswa Madrasah Tafidz An-Nahdloh, Selangor, Malaysia, melalui peningkatan kesadaran terhadap sejarah dan budaya Indonesia, penumbuhan kebanggaan terhadap identitas keindonesiaan, serta mendorong refleksi terhadap tantangan dalam mempertahankan identitas nasional di lingkungan lintas budaya. Metode: Program dilaksanakan di Madrasah Tafidz An-Nahdloh, Lot 1300, Jalan Masjid, Kampung Tanjung Sepat Darat, Tanjong Sepat, Selangor, Malaysia. Peserta terdiri atas 39 siswa kelas VII–IX dan pengelola sekolah. Kegiatan dilaksanakan melalui metode ceramah, presentasi, diskusi, tanya jawab, observasi, pembelajaran audiovisual, pemutaran dan peringkasan film sejarah, pembelajaran budaya dan sejarah, serta pembelajaran bahasa Inggris. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui observasi, diskusi, dokumentasi, dan survei persepsi siswa mengenai upaya sekolah dalam memperkuat nasionalisme. Hasil: Program terlaksana dengan baik dan diikuti oleh partisipasi aktif siswa. Siswa menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya mempertahankan identitas nasional Indonesia serta mengungkapkan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia. Siswa juga mampu mengenali pengaruh budaya Malaysia dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sekolah telah melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung penguatan identitas nasional, antara lain upacara bendera dan peringatan hari-hari nasional. Berdasarkan survei persepsi, sebanyak 95% siswa menyatakan sangat setuju dan 5% menyatakan setuju bahwa sekolah telah melakukan upaya untuk menyelenggarakan program penguatan nasionalisme. Kesimpulan: Berbagi pengetahuan yang dipadukan dengan pembelajaran kontekstual dan pengalaman langsung dapat mendukung penguatan kesadaran nasional dan budaya pada anak-anak keturunan Indonesia yang tinggal di lingkungan lintas budaya. Namun, kegiatan formal yang diselenggarakan sekolah saja belum memadai untuk menjamin keberlanjutan perkembangan identitas. Diperlukan program yang berkelanjutan, kontekstual, partisipatif, dan kolaboratif dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk mempertahankan identitas budaya Indonesia sekaligus mendukung keterlibatan positif dalam interaksi lintas budaya. Kata kunci: identitas nasional Indonesia; identitas budaya; anak-anak Indonesia di luar negeri; pendidikan lintas budaya; pengabdian kepada masyarakat