Erna Widiyanti
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hambatan dalam Pencegahan Perundungan di Sekolah Menengah: Potensi Tepa Salira sebagai Landasan Pengembangan Intervensi Erna Widiyanti; Suwarjo; Afanin Halqim
Indonesian Journal of Islamic Educational Review Vol. 3 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Islamic Educational Review
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/ijier.v3i2.724

Abstract

Perundungan merupakan masalah sosial yang masih persisten di lingkungan sekolah sehingga memerlukan strategi pencegahan yang kontekstual dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik pencegahan perundungan, hambatan struktural dalam layanan bimbingan dan konseling, serta potensi tepa salira sebagai kerangka kearifan lokal dalam pengembangan intervensi preventif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multisitus pada lima sekolah menengah pertama (SMP). Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur dengan guru bimbingan dan konseling serta observasi nonpartisipan, kemudian dianalisis secara tematik melalui analisis dalam situs dan lintas situs. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai-nilai normatif yang dikembangkan sekolah dan perilaku sosial siswa, yang ditunjukkan oleh masih terjadinya agresi verbal serta kesulitan dalam menerapkan kepatutan sosial, empati, dan pengendalian diri. Analisis lintas situs juga menunjukkan adanya perbedaan kondisi struktural layanan bimbingan dan konseling. Dua dari lima sekolah menyediakan waktu khusus untuk konseling, sedangkan tiga sekolah lainnya tidak, sehingga konselor perlu menyesuaikan layanan preventif melalui penjadwalan yang fleksibel, pemanfaatan media digital, dan pendekatan proaktif kepada siswa. Pencegahan dan penanganan perundungan juga memerlukan koordinasi antara guru bimbingan dan konseling dengan berbagai aktor sekolah, bukan hanya mengandalkan konseling individual. Dalam konteks tersebut, tepa salira berpotensi menjadi kerangka berbasis kearifan lokal untuk memperkuat empati, pengambilan perspektif, kesadaran sosial, dan regulasi diri dalam layanan bimbingan dan konseling preventif. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan layanan pencegahan perundungan yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal, meskipun efektivitas intervensi berbasis tepa salira masih perlu diuji secara empiris.
Rethinking Bullying Awareness Among Adolescents: Gender Bias, Sociocultural Normalisation and School-Based Prevention Hilman Nasyar Faidhullah Sholehudin; Eva Imania Eliasa; Afanin Halqim; Erna Widiyanti
Indonesian Journal of Islamic Educational Review Vol. 3 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Islamic Educational Review
Publisher : South Sulawesi Education Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/ijier.v3i2.727

Abstract

Bullying is a social phenomenon that remains widespread among adolescents. The problem with bullying lies not only in its frequency but also in adolescents' lack of awareness about recognising and interpreting it as a form of violence. This study aims to examine differences in bullying awareness levels among adolescents based on gender and to re-evaluate the relevance of the male resilience vs. female sensitivity narrative. The study employs a quantitative approach using a survey design targeting adolescent. Data were analysed both descriptively and inferentially using the chi-square test to examine the relationship between gender and bullying awareness levels. The results indicate that the majority of adolescents fall into the low awareness category (60.0%), followed by the moderate category (39.4%), and only a small proportion fall into the high category (0.6%). Descriptively, females tended to have a higher proportion of low awareness compared to males. However, the results of the inferential test showed that there was no significant relationship between gender and the level of bullying awareness (p = 0.489; Cramer’s V = 0.094). These findings indicate that bullying awareness among adolescents cannot be adequately explained by gender constructs alone but is more influenced by contextual factors such as social normalisation and peer group dynamics. Consequently, bullying prevention interventions should be designed universally, emphasising the cultivation of critical awareness, empathy, and the courage to act, without relying on gender-stereotype-based approaches.