Penyakit ginjal kronis (PGK) termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular yang angka kejadiannya terus mengalami peningkatan dan menimbulkan dampak besar baik dari sisi klinis maupun ekonomi. Gangguan ini ditandai oleh penurunan fungsi ginjal yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang, seperti terapi hemodialisis serta penggunaan berbagai jenis obat, yang pada akhirnya dapat memperbesar beban biaya pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola terapi serta besaran biaya pengobatan pada pasien PGK di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan rancangan deskriptif analitik dan menggunakan data retrospektif terhadap 133 pasien rekam medis periode 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengobatan didominasi oleh penatalaksanaan anemia renal dengan penggunaan Epoetin Alfa injeksi (71,4%), serta rute pemberian obat mayoritas melalui injeksi (87,2%). Komponen biaya tindakan hemodialisis adalah sebesar Rp923.000 per sesi, sedangkan rata-rata biaya obat mencapai Rp72.933,83. Rata-rata biaya riil rumah sakit tertinggi terdapat pada Kelas 2 (Rp5.917.902), diikuti Kelas 1 (Rp5.279.614) dan Kelas 3 (Rp4.481.464). Temuan ini menunjukkan bahwa terapi anemia, khususnya penggunaan Epoetin Alfa, merupakan komponen utama pola pengobatan pasien PGK yang menjalani hemodialisis, sedangkan hemodialisis dan penggunaan obat menjadi komponen penting dalam beban biaya pelayanan.