Masa awal pendidikan di lingkungan kedinasan berasrama dengan sistem semi-militer menuntut taruna/kadet tingkat I untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas baru, disiplin, aturan ketat, kehidupan komunal, serta keberagaman latar belakang sosial budaya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan culture shock. Persepsi dukungan sosial dari keluarga, teman, dan orang penting lainnya dipandang sebagai sumber daya psikososial yang dapat membantu taruna/kadet menghadapi tuntutan adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock pada taruna/kadet tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 229 taruna/kadet tingkat I yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala persepsi dukungan sosial dengan 18 item (α=0,952) dan skala culture shock dengan 20 item (α=0,858). Analisis dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara persepsi dukungan sosial dan culture shock (r=−0,486; Sig.=0,000). Nilai koefisien determinasi R²=0,236 menunjukkan bahwa persepsi dukungan sosial menjelaskan 23,6% variasi culture shock dalam model penelitian. Semakin tinggi persepsi dukungan sosial, semakin rendah tingkat culture shock yang dialami taruna/kadet tingkat I.