Nurqalbi Sampara
Fakultas Keperawatan dan Kebidanan, Universitas Megarezky

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan kontrasepsi jangka panjang Nurqalbi Sampara; Hasriani Hasriani
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4129

Abstract

Background: Long-Acting Reversible Contraception (LARC) methods are an effective strategy for improving reproductive health and preventing unplanned pregnancies. The success and sustained use of LARC are influenced by demographic and social factors, client characteristics, and the quality of healthcare services. Healthcare worker competence in providing counseling and facilitating evidence-based decision-making is crucial for enhancing LARC service quality. Implementing a prediction model for LARC usage success has the potential to help healthcare workers provide more targeted services; however, its utilization is currently hindered by limited knowledge and skills. Purpose: To enhance the knowledge and skills of healthcare workers in applying a prediction model for LARC usage success through structured, practical training. Method: This community service activity employed a participatory training approach grounded in evidence-based practice to improve healthcare worker competence in understanding and applying a prediction model for LARC usage success within family planning services. The activity took place on Thursday, January 17, 2026, at the service area of ​​TPMB Hj. Hasmah in North Galesong Regency. Twenty healthcare workers participated in the activity. Respondent knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, with questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while respondent proficiency was assessed through observations of simulations involving the practical application of the prediction model. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the education and training, interpret findings, identify counseling needs, and integrate predictive information into the family planning counseling process. Results: There was a proportional increase in the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge following the educational activity, rising to 18 participants (90.0%), while 14 participants (70.0%) showed improved capabilities after the training session. The activity enhanced participants' understanding of the determinants of Long-Acting Reversible Contraception (LARC) success, their ability to interpret prediction models, and their skills in integrating prediction results into counseling and clinical decision-making. Conclusion: The community service activity comprising training on the application of a prediction model for LARC success was successfully conducted and positively impacted the capacity building of healthcare workers. The training proved effective in improving the knowledge, skills, and attitudes of healthcare workers regarding the identification of LARC success determinants and the integration of prediction results into counseling and clinical decision-making processes. Suggestion: Healthcare workers are encouraged to consistently apply the LARC success prediction model in family planning services and to enhance their competence through continuous learning and evidence-based practice. Healthcare facilities specifically TPMB Hasmah are encouraged to integrate the LARC success prediction model into their Standard Operating Procedures (SOPs) for family planning services to ensure the sustainability and consistency of its implementation. Keywords: Contraceptive methods; Family planning; Health worker training; LARC; Prediction model    Pendahuluan: Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan strategi efektif dalam meningkatkan kesehatan reproduksi dan mencegah kehamilan tidak direncanakan. Keberhasilan dan keberlanjutan penggunaan MKJP dipengaruhi oleh faktor demografis, sosial, karakteristik klien, serta kualitas pelayanan kesehatan. Kompetensi tenaga kesehatan dalam melakukan konseling dan pengambilan keputusan berbasis bukti menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan MKJP. Penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan MKJP berpotensi membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih tepat sasaran, namun pemanfaatannya masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menerapkan model prediksi keberhasilan penggunaan MKJP melalui pelatihan yang terstruktur dan aplikatif.   Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif berbasis evidence-based practice untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam memahami dan menerapkan model prediksi keberhasilan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dalam pelayanan keluarga berencana (KB). Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 17 Januari 2026  yang bertempat di wilayah kerja TPMB Hj. Hasmah Kabupaten Galesong Utara. Peserta dalam kegiatan ini sebanyak 20 orang tenaga kesehatan. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi ketika melakukan praktik penggunaan model prediksi. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan menggunakan model prediksi, menginterpretasikan hasil, mengidentifikasi kebutuhan konseling, dan mengintegrasikan informasi prediktif ke dalam proses konseling KB.   Hasil: Menunjukkan peningkatan secara proporsional untuk pengetahuan partisipan kategori baik sesudah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 18 partisipan (90.0%) dan peningkatan kemampuan partisipan setelah kegiatan pelatihan menjadi sebanyak 14 partisipan (70.0%). Kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai faktor determinan keberhasilan MKJP, kemampuan menginterpretasikan model prediksi, serta keterampilan mengintegrasikan hasil prediksi dalam konseling dan pengambilan keputusan klinis.   Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan penerapan model prediksi keberhasilan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) telah terlaksana dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Pelatihan ini terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi faktor determinan keberhasilan penggunaan MKJP serta mengintegrasikan hasil prediksi ke dalam proses konseling dan pengambilan keputusan klinis.   Saran: Diharapkan agar tenaga kesehatan dapat menerapkan model prediksi keberhasilan MKJP secara konsisten dalam pelayanan keluarga berencana serta meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran berkelanjutan dan praktik berbasis bukti. Fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya TPMB Hasmah, diharapkan dapat mengintegrasikan penerapan model prediksi keberhasilan MKJP ke dalam standar operasional prosedur (SOP) pelayanan KB sebagai upaya menjamin keberlanjutan dan konsistensi implementasinya.
Pendampingan kader melalui pembuatan crinkle cookies ubi ungu sebagai upaya pencegahan anemia remaja putri Rismawati Rismawati; Nurqalbi Sampara; Hardyanty Subair; Erni Erni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4281

Abstract

Background: Stunting remains a pressing issue that requires resolution. The government has undertaken various efforts to address rising stunting rates across all levels of society, including in rural communities. Anemia is one factor potentially contributing to stunting. Anemia can be prevented through the consumption of foods rich in vitamins and minerals that support red blood cell formation. Purple sweet potato, which is rich in carbohydrates, vitamins, and minerals, holds great potential for use in food products designed to address nutritional issues, including anemia prevention. Purpose: To empower community health volunteers by enhancing their knowledge and skills regarding anemia screening and the production of purple sweet potato crinkle cookies as a nutritional source. Method: This community service activity was conducted at the Romang Polong Urban Village Hall in Gowa Regency. The initiative aimed to equip *Posyandu* (Integrated Health Post) volunteers with the knowledge and skills to process local purple sweet potatoes into crinkle cookies, serving as an alternative strategy for anemia prevention, particularly among adolescents. Twenty volunteers participated in the activity, accompanied by five adolescents as participating subjects. Participants' knowledge and understanding were assessed using a one-group pre-test and post-test design, utilizing questionnaires administered before and after the educational session. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the success of the educational activity and the training on making purple sweet potato crinkle cookies as an alternative nutritional option for adolescents. Results: The findings indicate that prior to the educational activity, participant knowledge levels were categorized as good for 1 participant (5.0%), fair for 5 participants (25.0%), and poor for 14 participants (70.0%); following the activity, there was a proportional improvement, with 17 participants (85.0%) reaching the "good" category and 3 participants (15.0%) the "fair" category. Regarding participant proficiency in hemoglobin (Hb) testing and the technique for processing purple sweet potatoes into crinkle cookies, improvements were observed post-training, with all participants (100.0%) achieving the "good" category. Descriptively, the evaluation results also demonstrate a significant improvement in both knowledge and skills. Conclusion: This community service activity was conducted smoothly and effectively, enhancing community knowledge regarding anemia and providing skills aligned with community needs. The activity also motivated the community and fostered awareness regarding anemia prevention through the use of local food products to meet nutritional needs. Improved community knowledge and skills concerning nutrition will positively impact public health quality. Suggestion: It is hoped that this service activity can be continued through collaborative efforts aimed at preventing anemia among adolescents. Support from local government or relevant agencies is needed to enable the training to be conducted on a wider scale and over a longer period. Keywords: Adolescent girls; Anemia; Crinkle cookies; Health volunteers; Purple sweet potato Pendahuluan: Stunting masih menjadi permasalahan yang harus dituntaskan saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi peningkatan angka penderita stunting pada semua tingkatan termasuk pada masyarakat pedesaan. Salah satu faktor yang berpotensi menimbulkan stunting adalah anemia. Pencegahan anemia dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang menunjang pembentukan sel darah merah. Ubi ungu yang kaya akan karbohidrat, vitamin dan mineral sangat potensial digunakan dalam pembuatan produk yang dapat membantu mengatasi masalah gizi, termasuk pencegahan anemia. Tujuan: Pemberdayaan kader untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan pemeriksaan kesehatan mengenai anemia serta pembuatan crinkle cookies dari ubi ungu sebagai sumber gizi. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Aula Kantor Kelurahan Romang Polong Kabupaten Gowa. Sasaran kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan pada kader Posyandu dalam pengolahan pangan lokal ubi ungu menjadi crinkle cookies sebagai alternatif upaya pencegahan anemia khususnya pada remaja. Kegiatan diikuti oleh 20 kader untuk menjadi partisipan dan 5 remaja sebagai subyek penyerta. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group posttest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (posttest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan pelatihan pembuatan crinkle cookies ubi ungu sebagai salah satu alternatif pemenuhan gizi pada remaja. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan partisipan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 1 partisipan (5.0%) baik, sebanyak 5 partisipan (25.0%) cukup, dan sebanyak 14 partisipan (70.0%) kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 17 partisipan (85.0%) baik dan sebanyak 3 partisipan (15.0%) cukup. Sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan dalam pemeriksaan Hb dan teknik pengolahan ubi ungu menjadi crinkle cookies mengalami peningkatan setelah kegiatan pelatihan menjadi seluruh partisipan dalam kategori baik (100.0%). Secara deskriptif hasil evaluasi juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dari aspek pengetahuan dan kemampuan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini terlaksana dengan lancar dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai anemia dan juga memberikan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini juga memberikan motivasi dan menumbuhkan kesadaran pada masyarakat dalam mencegah anemia dengan menggunakan olahan bahan pangan lokal sebagai pemenuhan kebutuhan gizi. Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan masyarakat tentang pemenuhan gizi akan memberikan dampak positif pada perbaikan kualitas kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan untuk kegiatan pengabdian ini dapat dilanjutkan sebagai kegiatan kerjasama dalam upaya pencegahan anemia pada remaja. Perlunya bantuan pelaksanaan dari pemerintah setempat atau instansi terkait agar pelaksanaan pelatihan dapat dilaksanakan dalam lingkup yang lebih luas serta jangka waktu yang lebih lama.