Nadila Hamda Prihatni
Universitas Yatsi Madani, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus dan pencegahan melalui senam diabetes Siti Robeatul Adawiyah; Nadia Artika Mulya Sari; Juarti Saputri; Jihan Syakira; Siti Hardianti; Salsabila Aprilia Putri; Heriyanah Heriyanah; Isti Monalisa; Lenny Anggitawati; Nadila Hamda Prihatni; Izza Tunnisa; Intan Intan; Merlina Merlina; Risky Tasyana Putri; Siti Firli Martanti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4278

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease with a steadily rising prevalence, particularly among the productive age group, thereby impacting the community's quality of life and productivity. Early symptoms such as frequent urination, excessive thirst, excessive hunger, tingling sensations, and fatigue are often overlooked, creating a risk of serious complications. Limited public knowledge regarding the prevention, management, and early detection of diabetes mellitus is a factor that exacerbates the situation. Purpose: To enhance public knowledge about diabetes mellitus through health education and diabetes-specific exercise sessions. Method: This community service activity involved community nursing care delivered via health education, conducted from April 17 to 20, 2026, in Alam Jaya Urban Village, Jatiuwung District, Tangerang City. The activity targeted adults and the elderly who had a history of diabetes mellitus or possessed potential risk factors. Forty individuals participated as respondents. Levels of knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Health status was evaluated based on observations of random blood glucose level measurements. The activity's success was assessed descriptively based on improvements in participants' knowledge, increased community participation in health activities, and changes in community behavior regarding the prevention and control of diabetes mellitus. Results: The study showed that the mean age of respondents was 55.2 years, with the majority (32 respondents or 80.0%) falling within the 45–59 age range. Most respondents were female (70.0%). Regarding knowledge levels prior to the educational activity, 26 respondents (65.0%) were in the "good" category, 8 (20.0%) were "fair," and 6 (15.0%) were "poor"; following the educational activity, there was a proportional improvement, with 37 respondents (92.5%) reaching the "good" category and 3 (7.5%) the "fair" category. Meanwhile, the respondents' mean random blood glucose level decreased from 167.71 mg/dL at the pre-test to 151.88 mg/dL at the post-test. Conclusion: Educational activities incorporating diabetes exercise interventions are highly effective in improving public knowledge and understanding of diabetes. Health screenings and blood glucose measurements motivate the community to manage diabetes, particularly by fostering awareness regarding the adoption of healthy lifestyles and regular physical activity. Suggestion: Healthcare facilities are encouraged to provide periodic and sustained education involving diabetes exercises to reach a wider audience; this approach can serve as a preventive measure against diabetes within the community. Keywords: Diabetes exercise; Diabetes mellitus; Health education; Prevention Pendahuluan: Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada kelompok usia produktif, sehingga berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Gejala awal seperti sering buang air kecil, rasa haus berlebihan, lapar berlebihan, kesemutan, dan kelelahan sering kali diabaikan sehingga berisiko menimbulkan komplikasi serius. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan, pengelolaan, dan deteksi dini diabetes mellitus menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang diabetes mellitus melalui penyuluhan kesehatan dan senam diabetes. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan asuhan keperawatan komunitas melalui edukasi kesehatan yang dilaksanakan dari tanggal 17-20 April 2026 di Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Sasaran kegiatan adalah penerapan senam pada masyarakat usia dewasa dan lansia yang memiliki riwayat diabetes melitus atau berpotensi memiliki faktor risiko. Kegiatan diikuti 40 orang untuk menjadi responden. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman responden dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Pemeriksaan kesehatan di evaluasi berdasarkan observasi dari pengukuran kadar gula darah sewaktu. Keberhasilan kegiatan dinilai secara deskriptif berdasarkan peningkatan pengetahuan peserta, peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan, serta perubahan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 55.2 tahun dan mayoritas berada direntang usia 45-59 tahun yaitu sebanyak 32 responden (80.0%). Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (70.0%). Tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 26 responden (65.0%) kategori baik, sebanyak 8 responden (20.0%) kategori cukup, dan sebanyak 6 responden (15.0%) kategori kurang, sedangkan setelah kegiatan edukasi mengalami peningkatan secara proporsional menjadi sebanyak 37 responden (92.5%) kategori baik dan sebanyak 3 responden (7.5%) kategori cukup. Sedangkan rata-rata nilai gula darah sewaktu responden mengalami penurunan dari 167.71 mg/dL pada saat pretest menjadi 151.88 mg/dL pada posttest. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi senam diabetes sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang diabetes pada masyarakat. Melalui pemeriksaan kesehatan dan pengukuran kadar gula darah memberikan motivasi pada masyarakat dalam pengendalian diabetes terutama kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat dan aktivitas fisik secara teratur. Saran: Diharapkan kepada fasilitas kesehatan untuk memberikan edukasi dengan senam diabetes secara berkala dan berkelanjutan sebagai upaya peningkatan pengetahuan tentang diabetes kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga kegiatan senam diabetes dapat menjadi salah satu solusi pencegahan terjadinya diabetes di masyarakat.
Terapi fungsi motorik halus pada lansia melalui aktifitas kerajinan gelang tangan dari manik-manik Siti Robeatul Adawiyah; Hana Nuzula Furqonia; Nadila Hamda Prihatni; Nadia Artika Mulya Sari; Lenny Anggitawati; Heriyanah Heriyanah; Jihan Syakira; Isti Monalisa; Muhammad Agung Permana; Titik Widyastuti
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4302

Abstract

Background: A decline in fine motor skills is a common issue among the elderly resulting from the aging process. This condition can make it difficult for them to perform daily activities requiring hand and finger coordination. One non-pharmacological intervention to help maintain and improve fine motor skills is group activity therapy involving the crafting of beaded bracelets. This activity engages hand-eye coordination, precision, and concentration, thereby serving as effective stimulation for the elderly. Purpose: To improve fine motor skills in the elderly through group activity therapy involving the crafting of beaded bracelets. Method: This activity was a community service initiative conducted on April 14, 2026, at the Marfati Social Institution for the Elderly (PSTW Marfati) in Tangerang City. The participants consisted of 30 elderly individuals who were physically stable and capable of participating in group activities. The initiative aimed to maintain memory and exercise the concentration of individuals aged over 60 who were experiencing reduced muscle strength affecting their fine motor skills. Evaluation was conducted descriptively through observation, focusing on participant engagement, the ability to follow instructions, hand coordination, concentration, social interaction, mood, and the finished products created by the participants. Results: Changes were observed in cognitive aspects, specifically an improvement in memory function; the majority of participants were able to follow instructions well and actively engage in the bead-making process. Regarding fine motor skills, improvements were noted in hand-eye coordination for identifying shapes and stringing beads, as well as a reduction in hand muscle stiffness. Psychosocial aspects showed a calmer demeanor, an increased ability to concentrate, and reduced susceptibility to frustration or anger; participants experienced enjoyment and satisfaction, exhibited more cooperative behavior, and found it easier to interact with fellow seniors. Conclusion: Implementing group activity therapy involving the creation of beaded bracelets offers significant benefits for the elderly, particularly in exercising fine motor skills. This activity fosters an enjoyable atmosphere, encourages greater activity among seniors, and positively influences their psychosocial well-being. This therapeutic activity is effective and beneficial for enhancing fine motor skills while supporting the overall well-being and quality of life of the elderly. Keywords: Beaded bracelets; Elderly cognition; Fine motor skills; Psychosocial; Therapeutic activity Pendahuluan: Penurunan kemampuan motorik halus pada lansia merupakan salah satu masalah yang sering terjadi akibat proses penuaan. Kondisi ini dapat menyebabkan lansia mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang memerlukan koordinasi tangan dan jari. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan kemampuan motorik halus adalah terapi aktivitas kelompok melalui kegiatan membuat kerajinan gelang tangan dari manik-manik. Kegiatan ini melibatkan koordinasi mata dan tangan, ketelitian, serta konsentrasi sehingga dapat menjadi stimulasi yang baik bagi lansia. Tujuan: Untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada lansia melalui terapi aktivitas kelompok membuat kerajinan gelang tangan dari manik-manik. Metode: Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2026 di PSTW Marfati Kota Tangerang. Peserta kegiatan berjumlah 30 lansia dengan kondisi fisik relatif stabil dan mampu mengikuti aktivitas kelompok. Sasaran dalam kegiatan ini adalah mempertahankan daya ingat dan melatih konsentrasi lansia berusia >60 tahun yang mengalami penurunan kekuatan otot dan memengaruhi kemampuan motorik halus. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui observasi berdasarkan keterlibatan peserta dan kemampuan mengikuti instruksi, koordinasi tangan, konsentrasi, interaksi sosial, suasana hati, serta hasil karya peserta. Hasil: Menunjukkan perubahan pada aspek kognitif yaitu terdapat peningkatan kemampuan aspek memori, sebagian besar mampu mengikuti instruksi dengan baik, dan terlibat aktif dalam proses pembuatan manik-manik. Sedangkan pada aspek motorik halus menunjukkan perubahan baik mengenai kemampuan mata dan tangan dalam mengidentifikasi bentuk dan merangkai manik-manik dan berkurangnya kekakuan otot tangan. Sedangkan pada aspek psikososial menunjukkan sikap terlihat lebih tenang, mampu berkonsentrasi lebih lama, dan tidak mudah frustrasi atau marah, memberikan rasa senang, menunjukkan ekspresi kepuasan, perilaku menjadi lebih kooperatif, dan lebih mudah berinteraksi dengan sesama lansia. Simpulan: Pelaksanaan terapi aktivitas kelompok dengan kegiatan membuat gelang tangan dari manik-manik memberikan manfaat yang baik bagi lansia, khususnya dalam melatih kemampuan motorik halus. Kegiatan ini juga menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat lansia lebih aktif dan memberikan pengaruh positif terhadap kondisi psikososial lansia. Kegiatan terapi terapeutik ini efektif dan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan motorik halus sekaligus mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup lansia.