Debi Novita
Universitas Sehati Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sosialisasi dan demonstrasi pijat oksitoksin untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu post sectio caesarea Yanti Rosmiyanti; Sarini Sarini; Desty Lismayanti; Sumitro Sumitro; Okti Rahayu Asih; Debi Novita; Sapa’ah Sapa’ah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4344

Abstract

Background: The early postpartum period is challenging for mothers, particularly after a Caesarean section (CS), due to surgical wound pain, limited mobility, fatigue, and anxiety regarding delayed or insufficient breast milk flow. Oxytocin massage serves as a simple approach to support the lactation process. Purpose: To enhance the knowledge and skills of post-CS mothers regarding oxytocin massage, breastfeeding, breast pumping, and the handling and storage of expressed breast milk. Method: The activity was conducted in June 2026 in the postpartum ward of Dewi Sri Hospital, Karawang. The target participants were eight post-CS mothers receiving care in the hospital's postpartum ward. Education was delivered through lectures, interactive discussions, and Q&A sessions, complemented by practical demonstrations. Participants' knowledge and understanding were evaluated through observations of simulations during the educational session and their actual practice of oxytocin massage. The evaluation results were analyzed descriptively to assess the educational activity's success and the participants' ability to independently perform oxytocin massage and handle breast milk. Results: Improvements were observed in knowledge regarding the definition of breast milk, the lactation process, and oxytocin. Regarding skills, the majority of participants demonstrated the ability to perform oxytocin massage independently, thereby boosting their confidence to seek health consultations should they encounter issues related to oxytocin massage and their post-CS recovery. Participants also established a more regular breastfeeding routine approximately every two hours and became more active in independent breast pumping. Conclusion: The outreach and demonstration activities regarding oxytocin massage for post-cesarean section mothers were successfully conducted. There was an increase in breast milk output from the first to the third day, leading mothers to breastfeed more regularly—approximately every two hours—and to more actively express milk independently. The activity was also effective in enhancing the mothers' knowledge, skills, and confidence regarding milk expression techniques, as well as the independent handling and storage of expressed breast milk. Suggestion: Healthcare facilities are encouraged to provide education on oxytocin massage to every patient undergoing a cesarean section as a form of non-pharmacological support within lactation services for post-cesarean mothers. Keywords: Breast milk; Health education; Oxytocin massage; Milk expression; Post-cesarean section Pendahuluan: Masa awal setelah persalinan merupakan periode yang menantang bagi ibu, terutama setelah sectio caesarea (SC), akibat nyeri luka operasi, keterbatasan gerak, kelelahan, dan kekhawatiran ketika ASI belum keluar lancar. Pijat oksitosin dapat menjadi salah satu pendekatan sederhana dalam mendukung proses laktasi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu post SC dalam melakukan pijat oksitosin, menyusui, pumping, serta menangani dan menyimpan ASI perah. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Juni 2026 di ruang rawat inap nifas RS Dewi Sri Karawang. Sasaran kegiatan adalah 8 orang ibu post SC yang sedang menjalani perawatan di ruang rawat inap nifas RS Dewi Sri Karawang. Penyuluhan dilakukan melalui ceramah, diskusi interaktif dan tanya jawab dengan intervensi berupa demonstrasi. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan di evaluasi berdasarkan observasi dari simulasi selama kegiatan edukasi dan ketika melakukan praktik penerapan pijat oksitosin. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk menilai keberhasilan kegiatan edukasi dan kemampuan partisipan dalam melakukan pijat oksitosin hingga penanganan ASI secara mandiri. Hasil: Menunjukkan peningkatan dari aspek pengetahuan meliputi pengertian ASI, prose laktasi, dan oksitosi. Sedangkan aspek kemampuan responden menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan mampu melakukan pijat oksitosin secara mandiri sehingga menumbuhkan kepercaya diri untuk melakukan konsultasi kesehatan apabila mendapatkan permasalahan terkait pijat oksitosin dengan post SC. Partisipan semakin teratur menyusui bayi sekitar setiap dua jam dan lebih aktif melakukan pumping secara mandiri. Simpulan: Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pijat oksitosin yang dilakukan pada ibu post sectio caesarea berjalan dengan baik. Terdapat peningkatan pengeluaran ASI dari hari pertama hingga hari ketiga sehingga ibu menjadi lebih teratur menyusui bayinya dengan frekuensi sekitar setiap dua jam dan lebih aktif melakukan pumping secara mandiri. Kegiatan ini juga efektif dalam memberikan peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri pada ibu dalam melakukan teknik pumping serta menangani dan menyimpan ASI perah secara mandiri. Saran: Diharapkan kepada fasilitas kesehatan dapat memberikan edukasi tentang pijat oksitosin pada setiap pasien SC sebagai salah satu bentuk dukungan nonfarmakologis dalam pelayanan laktasi pada ibu post SC.