Fabian Fadhly Jambak
Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mekanisme Hak Prakarsa DPRD Provinsi Jawa Barat dalam Pembentukan Peraturan Daerah Salma maharani pratama; Fabian Fadhly Jambak
Bandung Conference Series: Law Studies 1069 - 1076
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.23934

Abstract

Abstract. The enactment of local regulations (Perda) is a crucial aspect of the implementation of regional autonomy, involving the Regional People's Representative Council (DPRD) as the regional legislative body. The DPRD has the right of initiative to propose draft local regulations (Ranperda) as a means of channeling public aspirations. This study uses a normative juridical approach with descriptive-analytical specification, based on library research on primary, secondary, and tertiary legal materials, analyzed qualitatively and normatively with deductive reasoning. The results show that the exercise of the right of initiative in the West Java Provincial DPRD tends to be suboptimal and is still dominated by proposals from the executive branch. This condition is related to the DPRD's internal mechanisms, which are based on the collective-collegial principle but have not been fully balanced with accountability to the public. Although the right of initiative is regulated by law, its implementation still faces obstacles such as the limited capacity of expert staff, the complexity of internal mechanisms, and low public participation. The collective-collegial principle in decision-making has been implemented formally, but has not yet been fully accompanied by adequate transparency and accountability, so that the resulting local regulations do not yet fully reflect the needs of public.   Abstrak. Pembentukan peraturan daerah (Perda) merupakan aspek penting dalam pelaksanaan otonomi daerah, yang melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai badan legislatif daerah. DPRD memiliki hak inisiatif untuk mengajukan rancangan peraturan daerah (Ranperda) sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif-analitis, melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, yang dianalisis secara kualitatif normatif dengan pola penalaran deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan hak prakarsa di DPRD Provinsi Jawa Barat menunjukkan kecenderungan kinerja yang kurang optimal dan masih didominasi oleh usulan dari pihak eksekutif. Situasi ini berkaitan dengan mekanisme internal DPRD yang didasarkan pada prinsip kolektif-kolegial, namun belum sepenuhnya seimbang dengan akuntabilitas kepada masyarakat. Hak prakarsa DPRD memang telah diatur oleh undang-undang, namun pelaksanaannya masih menghadapi hambatan seperti keterbatasan kapasitas tenaga ahli, kompleksitas mekanisme internal, dan rendahnya partisipasi masyarakat. Penerapan prinsip kolektif-kolegial dalam pengambilan keputusan telah berjalan secara formal, namun belum sepenuhnya disertai dengan transparansi dan akuntabilitas yang memadai, sehingga peraturan daerah yang dihasilkan belum sepenuhnya mencerminkan kebutuhan masyarakat.  
Pelaksanaan Kewajiban Penyusunan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Bagi Industri Skala Mikro Dan Kecil Sebagai Upaya Mencegah Pencemaran Lingkungan Hidup Syifa Adilah; Frency Siska; Fabian Fadhly Jambak
Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.23973

Abstract

Abstract. Micro and small-scale food industry enterprises bear the responsibility for environmental control, manifested through the obligation to prepare an Environmental Management Statement (SPPL). However, some businesses in this sector, such as UMK PD. XYZ in Bandung, often violate regulations by directly discharging waste into the river during the production of fried meatballs. This research focuses on two main issues: the implementation of the obligation to prepare SPPL for micro and small-scale food industry enterprises, and the enforcement of law against environmental pollution and enviromental law violations. This research employs an empirical juridical approach, utilizing a descriptive-analytical research design. Meanwhile, the data collection method involves library research, and the analysis is conducted qualitatively. The results indicate that several UMKs in Bandung, including PD. XYZ, have not complied with the obligation to prepare SPPL, and their activities contribute to environmental pollution. Mor­eover, the oversight from the Bandung City Environmental and Sanitation Agency is considered inadequate, with administrative sanctions limited to the closure of waste channels without seeking compensation for the environmental damage caused by PD. XYZ. Although the Environmental Protection and Management Law (UUPPLH) outlines administrative, civil, and criminal sanctions, PD. XYZ has only faced administrative penalties in practice.   Abstrak Usaha industri makanan skala mikro dan kecil memiliki tanggung jawab terhadap pengendalian lingkungan hidup, yang diwujudkan melalui kewajiban penyusunan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL). Namun, beberapa usaha di sektor ini, seperti UMK PD. XYZ di Kota Bandung, seringkali melanggar aturan dengan pembuangan limbah langsung ke sungai selama proses produksi bakso goreng. Penelitian ini memfokuskan pada dua permasalahan utama, yaitu pelaksanaan kewajiban penyusunan SPPL bagi industri makanan skala mikro dan kecil, serta penegakan hukum terhadap pencemaran dan pelanggaran hukum lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris, dengan jenis penelitian deskriptif analitis. Sementara itu metode pengumpulan data menggunakan metode pengumpulan data studi kepustakaan (library research), dan metode analisisnya menggunakan metode analisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah UMK di Kota Bandung, termasuk PD. XYZ, belum mematuhi kewajiban menyusun SPPL dan kegiatan mereka menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain itu, pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung dinilai kurang, dengan sanksi administratif yang hanya berupa penutupan saluran limbah tanpa tuntutan ganti rugi terhadap kerugian lingkungan yang ditimbulkan PD. XYZ. Meskipun UUPPLH mengatur mengenai sanksi administratif, perdata, dan pidana, pada kenyataannya, PD. XYZ baru dikenakan sanksi administratif saja.  
Kebijakan Perparkiran dan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pungutan Liar di Masjid Al-Jabbar Nabila Hazima Nugraha; Fabian Fadhly Jambak
Bandung Conference Series: Law Studies 1319 - 1326
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.26369

Abstract

Abstract. This study examines parking policy in Bandung City and criminal law enforcement against illegal levies in the parking area of Al-Jabbar Mosque, prompted by a viral case posted on the X account @petanirumah in April 2024. A normative juridical method with a descriptive-analytical specification was applied through literature study. Findings show Bandung City and West Java already have adequate regulations (Law No. 22/2009, Mayor Regulation No. 66/2021, and No. 121/2022), yet implementation still reveals a gap between das sollen and das sein. Based on Soerjono Soekanto's theory, weak coordination among law enforcement agencies, limited monitoring facilities, and low public legal awareness are the main causes. The attendants' conduct potentially fulfills extortion (Article 482) and fraud (Article 492), yet Saber Pungli's enforcement remains limited to administrative warnings. Abstrak. Penelitian ini mengkaji kebijakan perparkiran di Kota Bandung dan upaya penegakan hukum pidana terhadap pungutan liar di area parkir Masjid Al-Jabbar, dipicu kasus viral unggahan akun X @petanirumah pada April 2024. Metode yang digunakan yaitu yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analisis melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan Kota Bandung dan Jawa Barat telah memiliki regulasi memadai (UU No. 22/2009, Perwal No. 66/2021, dan Perwal No. 121/2022), namun implementasinya masih menunjukkan kesenjangan antara das sollen dan das sein. Berdasarkan teori Soerjono Soekanto, lemahnya koordinasi aparat, minimnya sarana pengawasan, dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat menjadi penyebab utama. Perbuatan juru parkir berpotensi memenuhi unsur pemerasan (Pasal 482 KUHP) dan penipuan (Pasal 492 KUHP), namun penindakan Tim Saber Pungli masih sebatas teguran administratif.