Frency siska
Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Kebijakan Penanaman Modal Berbasis ESG di Bidang Pertambangan Batu Bara Mirlany Zahra Musthafawi; Frency siska
Bandung Conference Series: Law Studies 961 - 968
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.23736

Abstract

Abstract. Investment in the coal mining sector plays a strategic role in national development, but it often faces challenges regarding environmental and social sustainability. This study aims to analyze the implementation of investment policies integrated with Environmental, Social, and Governance (ESG) principles, known as green investment, within coal mining companies. The research also examines the legal consequences for companies that inconsistently apply these principles. The method used is a normative judicial approach with descriptive-analytical specifications, utilizing secondary data from library research and document studies. Data analysis was conducted using a deductive method. The results indicate that while Indonesian regulations, such as the Investment Law and the Environmental Protection and Management Law, have mandated sustainability, implementation remains suboptimal. Many companies still show poor ESG scores, particularly in the environmental aspect. Legal consequences for non-compliance include administrative sanctions ranging from written warnings to the revocation of business licenses, civil liability for environmental restoration, and corporate criminal liability. To strengthen ESG implementation, the study recommends institutionalizing ESG audits through new regulations and providing fiscal incentives for compliant companies to ensure national economic growth aligns with environmental preservation.   Abstrak. Penanaman modal di bidang pertambangan batu bara memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional, namun seringkali menghadapi tantangan terkait keberlanjutan lingkungan dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kebijakan penanaman modal yang mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) atau investasi hijau (green investment) pada perusahaan pertambangan batu bara.  Selain itu, penelitian ini mengkaji akibat hukum bagi perusahaan yang tidak konsisten dalam menerapkan prinsip tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi deskriptif analitis, menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun regulasi di Indonesia seperti UU Penanaman Modal dan UU Lingkungan Hidup telah mewajibkan keberlanjutan, implementasinya masih belum optimal. Banyak perusahaan masih menunjukkan skor ESG yang buruk, terutama pada aspek lingkungan. Akibat hukum bagi ketidakpatuhan meliputi sanksi administratif mulai dari teguran tertulis hingga pencabutan izin usaha, sanksi perdata berupa pemulihan lingkungan, sanksi pidana korporasi seperti denda dan penjara. Untuk memperkuat penerapan ESG, penelitian ini merekomendasikan perlunya audit ESG yang diatur dalam regulasi baru serta pemberian insentif bagi perusahaan yang patuh agar pertumbuhan ekonomi nasional sejalan dengan kelestarian lingkungan.  
Pelaksanaan Kewajiban Penyusunan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Bagi Industri Skala Mikro Dan Kecil Sebagai Upaya Mencegah Pencemaran Lingkungan Hidup Syifa Adilah; Frency Siska; Fabian Fadhly Jambak
Bandung Conference Series: Law Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.23973

Abstract

Abstract. Micro and small-scale food industry enterprises bear the responsibility for environmental control, manifested through the obligation to prepare an Environmental Management Statement (SPPL). However, some businesses in this sector, such as UMK PD. XYZ in Bandung, often violate regulations by directly discharging waste into the river during the production of fried meatballs. This research focuses on two main issues: the implementation of the obligation to prepare SPPL for micro and small-scale food industry enterprises, and the enforcement of law against environmental pollution and enviromental law violations. This research employs an empirical juridical approach, utilizing a descriptive-analytical research design. Meanwhile, the data collection method involves library research, and the analysis is conducted qualitatively. The results indicate that several UMKs in Bandung, including PD. XYZ, have not complied with the obligation to prepare SPPL, and their activities contribute to environmental pollution. Mor­eover, the oversight from the Bandung City Environmental and Sanitation Agency is considered inadequate, with administrative sanctions limited to the closure of waste channels without seeking compensation for the environmental damage caused by PD. XYZ. Although the Environmental Protection and Management Law (UUPPLH) outlines administrative, civil, and criminal sanctions, PD. XYZ has only faced administrative penalties in practice.   Abstrak Usaha industri makanan skala mikro dan kecil memiliki tanggung jawab terhadap pengendalian lingkungan hidup, yang diwujudkan melalui kewajiban penyusunan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL). Namun, beberapa usaha di sektor ini, seperti UMK PD. XYZ di Kota Bandung, seringkali melanggar aturan dengan pembuangan limbah langsung ke sungai selama proses produksi bakso goreng. Penelitian ini memfokuskan pada dua permasalahan utama, yaitu pelaksanaan kewajiban penyusunan SPPL bagi industri makanan skala mikro dan kecil, serta penegakan hukum terhadap pencemaran dan pelanggaran hukum lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris, dengan jenis penelitian deskriptif analitis. Sementara itu metode pengumpulan data menggunakan metode pengumpulan data studi kepustakaan (library research), dan metode analisisnya menggunakan metode analisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah UMK di Kota Bandung, termasuk PD. XYZ, belum mematuhi kewajiban menyusun SPPL dan kegiatan mereka menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain itu, pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung dinilai kurang, dengan sanksi administratif yang hanya berupa penutupan saluran limbah tanpa tuntutan ganti rugi terhadap kerugian lingkungan yang ditimbulkan PD. XYZ. Meskipun UUPPLH mengatur mengenai sanksi administratif, perdata, dan pidana, pada kenyataannya, PD. XYZ baru dikenakan sanksi administratif saja.  
Tanggung Jawab Pelaku Usaha Atas Perederadan Barang Pakaian Bekas Impor Menurut UU Penanaman Modal Adhienda Siti Aisyah; Frency Siska
Bandung Conference Series: Law Studies 1193 - 1200
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.24833

Abstract

Abstract. The circulation of imported used clothing without customs clearance remains a legal issue in Indonesia, as it contravenes customs regulations and potentially disrupts fair business competition and the investment climate. This study aims to analyze the implementation of legal regulations regarding the circulation of illegal imported used clothing and to examine the liability of business actors under Law Number 25 of 2007 concerning Investment, in conjunction with Law Number 17 of 2006 concerning Customs. The research employs a normative-juridical method utilizing both statutory and conceptual approaches. Legal materials were gathered through a literature review of primary, secondary, and tertiary sources and subsequently analyzed qualitatively using a prescriptive method. The findings indicate that while regulations governing the circulation of illegal imports exist within various legislative instruments, their implementation has been suboptimal due to weak oversight and law enforcement. Business actors distributing imported used clothing without customs clearance may be held administratively, civilly, or criminally liable in accordance with applicable regulations. Although the Investment Law does not explicitly address such liability, the principles of legal certainty and compliance with statutory regulations serve as crucial foundations for fostering a conducive investment climate.   Abstrak. Peredaran pakaian bekas impor tanpa izin kepabeanan masih menjadi permasalahan hukum di Indonesia karena bertentangan dengan ketentuan kepabeanan serta berpotensi mengganggu persaingan usaha yang sehat dan iklim penanaman modal. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pengaturan hukum terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal serta mengkaji tanggung jawab pelaku usaha berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, kemudian dianalisis secara kualitatif menggunakan metode preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai peredaran barang impor ilegal telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun implementasinya belum berjalan optimal akibat lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Pelaku usaha yang mengedarkan pakaian bekas impor tanpa izin kepabeanan dapat dimintai tanggung jawab administratif, perdata, maupun pidana sesuai ketentuan yang berlaku. Meskipun Undang-Undang Penanaman Modal tidak mengatur secara eksplisit mengenai tanggung jawab tersebut, prinsip kepastian hukum dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan menjadi dasar penting dalam menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif.