Rully Afrita Harlianty
Universitas Esa Unggul Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peran Social Comparison terhadap Subjective Well-Being pada Emerging Adulthood Pengguna Aktif Media Sosial Berlian Ariani Cindy; Rully Afrita Harlianty
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.275

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi dan cara individu mengevaluasi dirinya melalui informasi mengenai kehidupan orang lain yang tersedia secara digital. Pada fase emerging adulthood, individu berada dalam periode eksplorasi identitas yang rentan terhadap proses perbandingan sosial (social comparison) yang dapat memengaruhi kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran social comparison terhadap subjective well-being pada individu fase emerging adulthood pengguna aktif media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 301 responden berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur social comparison, serta Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) untuk mengukur subjective well-being. Analisis data menggunakan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa social comparison memiliki peran yang signifikan terhadap subjective well-being dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil analisis menunjukkan nilai R = 0,206 dengan koefisien determinasi R² = 0,042, yang berarti social comparison memberikan kontribusi sebesar 4,2% terhadap variasi subjective well-being. Persamaan regresi yang diperoleh yaitu Y = 44,562 + 0,259X, menunjukkan arah hubungan positif antara kedua variabel. Temuan penelitian menunjukkan bahwa social comparison tidak selalu memberikan dampak negatif, tetapi dapat menjadi proses adaptif ketika individu mampu memanfaatkan perbandingan sosial sebagai sarana evaluasi dan pengembangan diri.
Peran Perceived Parental Differential Treatment terhadap Harga Diri pada Remaja Rika Dwi Mustikaningrum; Rully Afrita Harlianty
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Perceived Parental Differential Treatment terhadap harga diri pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 272 remaja berusia 12–21 tahun yang memiliki minimal satu saudara kandung serta tinggal bersama orang tua dan saudara kandung. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Perceived Parental Differential Treatment berdasarkan teori Daniels dan Plomin (1985) serta skala harga diri berdasarkan teori Coopersmith (1967). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear sederhana untuk mengetahui peran Perceived Parental Differential Treatment terhadap harga diri remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peran yang signifikan antara Perceived Parental Differential Treatment terhadap harga diri remaja. Arah hubungan yang ditemukan bersifat negatif, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi remaja terhadap adanya perlakuan berbeda dari orang tua dibandingkan saudara kandung, maka semakin rendah tingkat harga diri yang dimiliki. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman interaksi dalam keluarga memiliki kontribusi penting terhadap pembentukan evaluasi diri remaja. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa orang tua perlu menerapkan pola pengasuhan yang lebih responsif, adil, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak melalui komunikasi terbuka serta dukungan emosional untuk membantu perkembangan harga diri remaja secara positif.
Hubungan Self-Compassion dengan Burnout pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Tangerang Anita Rahayu; Rully Afrita Harlianty
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.277

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan burnout pada guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 77 guru SLB yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen skala Self-Compassion Scale berdasarkan konsep Neff (2003) dan skala burnout berdasarkan konsep Maslach dan Jackson (1981). Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho karena data penelitian tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara self-compassion dengan burnout pada guru SLB. Hubungan yang diperoleh memiliki arah negatif, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan guru dalam menerapkan self-compassion, maka kecenderungan mengalami burnout semakin rendah. Sebaliknya, rendahnya kemampuan menerima dan memahami diri sendiri berkaitan dengan meningkatnya risiko mengalami kelelahan psikologis akibat tuntutan pekerjaan. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat membantu guru SLB dalam menghadapi tekanan pekerjaan yang kompleks. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa pengembangan kemampuan self-compassion melalui pelatihan penerimaan diri, regulasi emosi, dan pengelolaan stres dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis guru serta mencegah terjadinya burnout dalam lingkungan kerja pendidikan khusus.
Hubungan Parasocial Relationships dengan Pscyhological Well-Being pada Emerging Adulthood Penggemar K-Pop di JABODETABEK Reza Ainur Rohimah; Rully Afrita Harlianty
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.285

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara parasocial relationships dan psychological well-being pada emerging adulthood penggemar K-Pop di JABODETABEK. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional pada 167 penggemar K-Pop berusia 18–29 tahun yang telah menjadi penggemar minimal 6 bulan dan berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, dengan teknik purposive sampling; data dikumpulkan melalui kuesioner daring. Psychological well-being diukur menggunakan Psychological Well-Being Short Scale (Ryff & Keyes, 1995; adaptasi Humaidah & Mulyono, 2025), sedangkan parasocial relationships diukur menggunakan Multiple Parasocial Relationships Scale (MPR-S; Tukachinsky, 2010) yang diadaptasi ke bahasa Indonesia. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson dengan signifikansi one-tailed. Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kedua variabel (r = 0,025; p = 0,374; p > 0,05), dengan arah hubungan positif yang sangat rendah, sehingga hipotesis penelitian ditolak. Temuan ini mengindikasikan bahwa intensitas parasocial relationships tidak berkaitan signifikan dengan tingkat psychological well-being pada penggemar K-Pop emerging adulthood di JABODETABEK.