Long distance marriage merujuk pada kondisi perkawinan di mana suami dan istri menjalani kehidupan secara terpisah akibat tuntutan pekerjaan, khususnya karena mutasi sementara pada pegawai instansi pemerintah vertikal. Pemisahan fisik dalam jangka waktu tertentu ini dapat menyebabkan ketidakefektifan fungsi keluarga, terutama fungsi sosialisasi dan fungsi perlindungan yang membutuhkan kehadiran langsung orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan ketidakefektifan fungsi sosialisasi dan perlindungan serta mengkaji dampaknya dalam rumah tangga long distance marriage. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yang terdiri atas 14 orang, yaitu 10 informan utama dan 4 informan pendukung. Informan utama adalah pasangan suami istri yang menjalani long distance marriage minimal satu tahun, bekerja pada instansi vertikal, dan berdomisili di provinsi yang berbeda. Informan pendukung meliputi anggota keluarga, tetangga, dan rekan kerja yang mengetahui kondisi rumah tangga informan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teori disfungsi Robert K. Merton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga long distance marriage mengalami disfungsi pada fungsi sosialisasi dan perlindungan. Faktor penyebabnya meliputi keterbatasan kehadiran orang tua, ketidakseimbangan keterlibatan orang tua, ketergantungan pada keluarga besar, serta penggunaan teknologi. Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya keterlibatan langsung orang tua, pergeseran peran pengasuhan, serta meningkatnya ketergantungan pada komunikasi tidak langsung dalam pelaksanaan fungsi keluarga.