Abstract. Numeracy learning requires contextual media that connect mathematical operations with observable energy-conversion phenomena. This study evaluated a solar photovoltaic educational kit integrated with the Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) approach for seventh-grade students at SMP Negeri 3 Plosoklaten. A quantitative pretest-posttest control-group design involved two intact classes with 70 enrolled students. Available data varied because of absences and technical constraints; inferential analyses used 31 experimental and 28 control participants, while the questionnaire involved 33 and 20 participants, respectively. Numeracy tests, questionnaires, worksheets, and observations were analyzed using descriptive statistics, Wilcoxon signed-rank, Mann-Whitney U, independent-samples t, Welch t, and normalized gain. The experimental mean increased from 44.85 to 58.13. The within-group change was significant (Z = -3.590; p < .001), and posttest scores differed between groups (U = 316; p = .046). The normalized gain remained low (22.14%) and did not differ significantly from the control group (p = .124). Learning interest (p = .121) and learning skills (p = .053) also showed no significant group differences. The kit supported short-term numeracy gains but requires a longer intervention, stronger measurement, and improved electrical protection. Keywords: learning media; numeracy; solar power plant; STEAM; students Abstrak. Pembelajaran numerasi memerlukan media kontekstual yang menghubungkan operasi matematika dengan gejala konversi energi yang dapat diamati. Penelitian ini mengevaluasi alat peraga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diintegrasikan dengan pendekatan STEAM pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Plosoklaten. Penelitian menggunakan desain kuantitatif kelompok kontrol pretes-postes pada dua kelas utuh dengan 70 siswa terdaftar. Jumlah data yang dianalisis bervariasi karena ketidakhadiran dan kendala teknis; analisis inferensial menggunakan 31 siswa kelompok eksperimen dan 28 siswa kelompok kontrol, sedangkan kuesioner melibatkan 33 dan 20 siswa. Data tes numerasi, kuesioner, LKPD, dan observasi dianalisis melalui statistik deskriptif, uji Wilcoxon, Mann-Whitney U, uji t independen, uji t Welch, dan N-gain. Rata-rata kelompok eksperimen meningkat dari 44,85 menjadi 58,13. Perubahan dalam kelompok eksperimen signifikan (Z = -3,590; p < 0,001), sedangkan nilai postes kedua kelompok juga berbeda signifikan (U = 316; p = 0,046). Nilai N-gain eksperimen tetap rendah sebesar 22,14% dan tidak berbeda signifikan dari kelompok kontrol (p = 0,124). Minat belajar (p = 0,121) dan keterampilan belajar (p = 0,053) juga tidak menunjukkan perbedaan antarkelompok. Alat peraga mendukung peningkatan numerasi jangka pendek, tetapi penerapannya memerlukan durasi yang lebih panjang, pengukuran yang lebih kuat, dan proteksi kelistrikan yang lebih baik. Kata kunci: alat peraga; numerasi; pembangkit listrik tenaga surya; siswa SMP; STEAM