p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ulil Albab
Adrianus Djara` Dima
Universitas Nusa Cendana, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penegakan Hukum oleh Kepolisian terhadap Pelaku Tindak Pidana Penyebaran Konten Pornografi Melalui Aplikasi TikTok di Kepolisian Resor Kupang Kota Markhiano Gabriel Dominggo Lomi; Orpa Ganefo Manuain; Adrianus Djara` Dima; Karolus Kopong Medan
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 10: September 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i10.18391

Abstract

Perkembangan media sosial telah menciptakan berbagai bentuk kejahatan siber, salah satunya penyebaran konten pornografi melalui aplikasi TikTok. Karakteristik platform digital yang mudah diakses, cepat, dan menjangkau pengguna secara luas menyebabkan konten pornografi semakin mudah diproduksi, dipromosikan, dan diperjualbelikan melalui ruang digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis penegakan hukum terhadap tindak pidana penyebaran konten pornografi melalui aplikasi TikTok serta faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya di Kepolisian Resor Kupang Kota. Penelitian menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan penyidik Satreskrimsus Polres Kupang Kota dan didukung oleh studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan serta literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum dilakukan melalui upaya pre-emtif, preventif, dan represif. Upaya pre-emtif diwujudkan melalui edukasi dan sosialisasi hukum kepada masyarakat, upaya preventif dilakukan melalui patroli siber dan pengawasan aktivitas digital, sedangkan upaya represif dilakukan melalui proses penyelidikan, penyidikan, pengumpulan alat bukti elektronik, hingga pelimpahan perkara kepada penuntut umum. Penelitian ini menemukan bahwa hambatan utama penegakan hukum tidak terletak pada aspek regulasi, melainkan pada keterbatasan jumlah dan kompetensi sumber daya manusia, keterbatasan fasilitas forensik digital, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan ruang digital, serta pengaruh budaya digital yang semakin terbuka. Oleh karena itu, efektivitas penegakan hukum terhadap tindak pidana pornografi berbasis digital memerlukan penguatan kapasitas aparat penegak hukum, dukungan teknologi yang memadai, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengawasan ruang digital.
Tinjauan Hukum Pidana terhadap Tindak Pembohongan Publik dalam Proses Pencalonan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Belu Andrea Alexandra Jeremias; Dedy R. Ch. Manafe; Adrianus Djara` Dima
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 10: September 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i10.18396

Abstract

Penelitian ini membahas tinjauan hukum pidana terhadap dugaan pembohongan publik dalam proses pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belu pada Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2024. Penelitian bertujuan untuk menganalisis ketentuan hukum yang mengatur dugaan pembohongan publik dalam proses pencalonan serta mengkaji penerapan ketentuan hukum pidana terhadap permasalahan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan hukum muncul akibat dugaan tidak diumumkannya secara terbuka status mantan narapidana oleh calon Wakil Bupati Belu nomor urut 1 pada tahapan pencalonan. Tindakan tersebut menimbulkan perdebatan mengenai pemenuhan prinsip keterbukaan, transparansi, dan kejujuran dalam proses demokrasi. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, mantan terpidana wajib mengumumkan statusnya secara jujur kepada publik sebagai syarat pencalonan. Penelitian ini menemukan bahwa ketidakpatuhan terhadap kewajiban tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum administrasi dan menjadi objek kajian hukum pidana apabila memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, diperlukan penegakan hukum yang konsisten serta penguatan koordinasi antarlembaga untuk menjamin kepastian hukum, keadilan, dan integritas demokrasi lokal.