Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengelolaan Ekowista Berkelanjutan pada Sumber Daya Lingkungan di Desa Hutaraja, Kabupaten Tapanuli Utara Mery Silalahi; Ade Putera Arif Panjaitan; Denata Rajagukguk; Tio RJ Nadeak; Rusmauli Simbolon; Apriliana Lase; Liyus Waruwu; Debora Purba
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.8350

Abstract

Pariwisata memiliki dampak yang sangat besar terhadap perekonomian daerah, tak terkecuali bagi Desa Hutaraja, Provinsi Sumatera Utara. Pariwisata memberikan sumber pendapatan alternatif dan mendorong pengembangan infrastruktur. Namun, banyak orang mulai bertanya apakah manfaat ini sepadan dengan tingkat konsumsi, kerusakan ekologi, dan dampak negatif lainnya akibat kedatangan dan kepergian wisatawan setiap hari. Untuk menjawab persoalan itu, ekowisata sebagai salah satu bentuk dari pariwisata berkelanjutan menjadi solusi yang layak untuk mempertimbangkan secara menyeluruh dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pariwisata. Aktivitas wisatawan di Desa Hutaraja menguras sumber daya di daerah tersebut sehingga diperlukan panduan dan dasar bagi kebijakan, strategi, dan terutama tindakan dalam bidang pariwisata di Desa Hutaraja. Ekowisata adalah bentuk wisata yang bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan dan komunitas lokal. Dengan demikian PKM ini berfokus pada Pendidikan Ekowisata bagi Masyarakat lokal Desa Hutaraja tentang perlindungan kawasan alam dan promosi praktik berkelanjutan yang berkontribusi pada perkembangan ekonomi komunitas lokal Desa Hutaraja. PKM ini juga melibatkan aktivitas seperti perjalanan ke alam, pengamatan satwa liar, dan pengalaman budaya yang mempromosikan kesadaran dan apresiasi terhadap lingkungan. Langkah awal yang dilakukan adalah mengevaluasi potensi Desa Hutaraja dengan metode evaluasi multi-kriteria (MCE), menilai dampaknya serta menjelajahi lanskap yang punya nilai ekonomis untuk ekowisata. Dampak dari PKM ini adalah Desa Hutaraja menjadi contoh tata kelola yang baik tentang pariwisata berkelanjutan dengan terus mendorong Masyarakat untuk lebih sadar lingkungan. Selain itu masyarakat Desa Hutaraja juga menjadi lebih berhati-hati dalam menerapkan kebijakan yang mereka pilih terkait pariwisata.
Penguatan Budaya Pertunjukan Sebagai Atraksi Wisata Melalui Diskusi Partisipatif di Desa Lumba Suhi-suhi Toruan Denata Rajagukguk; Tio RJ Nadeak; Ade Putera Arif Panjaitan; Mery Silalahi; Wolter P Silalahi; Liyus Waruwu; Debora Purba; Darwin Bastian Ndraha; Apriliana Lase; Arina Manalu; Ricardo Sagala
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol. 5 No. 2 (2026): Juni: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI)
Publisher : Politeknik Pratama Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpmi.v5i2.6983

Abstract

This community service activity was conducted in Lumban Suhi-Suhi Toruan Village, Pangururan District, Samosir Regency, focusing on strengthening performing arts as a tourist attraction. The main problems identified were the suboptimal management of cultural performances as tourism assets, indicated by limited performance frequency, unprofessional packaging, lack of regeneration of performers, and limited foreign language skills in communicating with international tourists. This activity aimed to enhance the capacity of the community and village government in developing performing arts through a participatory approach. The method applied was participatory discussion in the form of Focus Group Discussions (FGD), involving community members, village officials, academics, and students. Data were collected through discussion results, field notes, and documentation, and analyzed using a descriptive qualitative approach. The results show an increased collective awareness among participants regarding the potential of performing arts as both an economic asset and a representation of local identity. The discussions produced several strengthening strategies, including scheduling regular performances, involving younger generations, providing English language training, developing multilingual promotional materials, and establishing a foreign-language-speaking tour guide system. The activity also fostered synergy among community members, village government, and academics in formulating more structured and sustainable development plans. Therefore, strengthening performing arts through participatory discussions proved effective in enhancing local capacity and promoting sustainable culture-based village tourism development.