Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur di Desa Jatisaba, Kabupaten Purbalingga, memproduksi keripik sagu tempe sebagai produk unggulan desa dalam kerangka one village one product, namun menghadapi keterbatasan kapasitas produksi akibat proses manual, standar mutu dan keamanan pangan yang belum memadai, serta branding produk yang belum kuat. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan penerapan pendekatan participatory rural appraisal dalam tahap perencanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, khususnya pada proses identifikasi permasalahan dan perumusan solusi secara partisipatif. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan tim pengabdi, anggota KWT Subur Makmur, perangkat Pemerintah Desa Jatisaba, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL), melalui teknik penjajakan awal, diskusi kelompok terfokus, penelusuran alur produksi, wawancara semi-terstruktur, serta pemeringkatan masalah secara musyawarah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa proses partisipatif tersebut berhasil merumuskan tiga permasalahan prioritas, yaitu rendahnya kapasitas produksi, lemahnya kapasitas kelembagaan dan standar mutu, serta lemahnya branding produk, yang masing-masing ditindaklanjuti dengan solusi berupa penerapan paket teknologi tepat guna, pelatihan dan pendampingan keamanan pangan serta sertifikasi produk, dan pendampingan perbaikan kemasan dan merek. Pelibatan mitra sejak tahap perencanaan terbukti menghasilkan rumusan kegiatan yang lebih kontekstual sekaligus menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki anggota KWT terhadap program. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan PRA berperan penting sebagai fondasi perencanaan yang menentukan ketepatan arah dan keberlanjutan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.