Ketersediaan air bersih masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan berkelanjutan di wilayah pedesaan, termasuk di Desa Pegagan Julu III, Kabupaten Dairi. Kondisi tersebut mendorong keterlibatan Water Mission dalam mendukung penyediaan air bersih melalui pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Artikel ini menganalisis proses sosial yang melatarbelakangi keterlibatan dan intervensi Water Mission sekaligus menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan tersebut berdasarkan perspektif Community Based Development (CBD). Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil analisis memperlihatkan bahwa keterlibatan Water Mission diawali oleh kebutuhan masyarakat terhadap air bersih yang berkembang melalui komunikasi, survei lapangan, musyawarah desa, hingga pembentukan komite air sebagai lembaga pengelola. Proses tersebut diperkuat oleh penerapan prinsip-prinsip Community Based Development (CBD), yaitu pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, partisipasi, kemitraan, pemberdayaan, dan keberlanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penyediaan air bersih tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh tata kelola kolaboratif dan penguatan kelembagaan masyarakat. Oleh karena itu, artikel ini menegaskan pentingnya pengembangan model tata kelola air bersih berbasis masyarakat sebagai strategi untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) ke-6, yaitu menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan bagi semua.