Inayatul Mutoharoh
Ma'had Aly Walindo Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kodifikasi Al-Qur’an dalam Perspektif As-Suyuti: Studi atas Al-Itqan Fii Ulumil Qur’an Inayatul Mutoharoh; Wildan Setiawan
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 1 (2026): March
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Sejak awal, Al-Qur’an dijaga melalui hafalan dan penulisan oleh para sahabat di bawah bimbingan Nabi SAW. Setelah Rasulullah SAW wafat dan wilayah Islam semakin luas, diperlukan upaya kodifikasi untuk menjaga keutuhan Al-Qur’an. Kodifikasi Al-Qur’an dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pada masa Rasulullah SAW, masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, dan masa Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa Abu Bakar, Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf untuk mencegah hilangnya ayat-ayat Al-Qur’an akibat wafatnya para penghafal. Selanjutnya, pada masa Utsman bin Affan dilakukan penyeragaman mushaf untuk menghindari perbedaan bacaan di berbagai wilayah. Mushaf yang dibakukan dikenal dengan Rasm Utsmani dan menjadi pedoman bacaan umat Islam hingga sekarang. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis, yaitu menelaah sumber-sumber klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan sejarah kodifikasi Al-Qur’an untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai proses penghimpunan dan penyeragamannya.
Muhkam dan Mutasyabih dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Pandangan Ulama’ Salaf dan Khalaf Inayatul Mutoharoh; Fikri Hidayat El-Izzat
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 1 (2026): March
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas konsep ayat muhkam dan mutasyabih dalam perspektif ulumul Qur’an. Muhkam dipahami sebagai ayat yang jelas dan tegas maknanya sehingga mudah dipahami serta menjadi dasar dalam penetapan hukum dan prinsip ajaran Islam. Adapun mutasyabih merupakan ayat yang mengandung makna samar atau memiliki kemungkinan penafsiran lebih dari satu, sehingga memerlukan pendalaman dan pendekatan ilmiah dalam memahaminya. Keberadaan kedua kategori ayat ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Q.S. Ali Imran ayat 7. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan dan cara menyikapi ayat mutasyabih, yang melahirkan pandangan mazhab Salaf dan Khalaf. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak bersifat kontradiktif, melainkan memperkaya khazanah pemikiran Islam. Dengan demikian, ayat muhkam dan mutasyabih memiliki hikmah tersendiri dalam membangun pemahaman, memperkuat keimanan, serta mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.