p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Nyoman Indah Sukmasari
Aktek Radiodiagnostik dan Radioterapi Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Alat Imobilisasi pada Radioterapi Eksterna Karsinoma Nasofaring dengan Pembesaran Kelenjar Getah Bening Leher di Instalasi Radioterapi RSUD Dr. Moewardi Brigita Cindy Meilani; Nyoman Indah Sukmasari; Dwi Sugeng Supriyadi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1381

Abstract

Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan keganasan pada epitel mukosa nasofaring. Radioterapi yang menjadi modalitas utama pengobatan KNF, memerlukan alat imobilisasi untuk menjaga stabilitas pasien selama penyinaran. Menurut Bao et al. (2021) dan Tang et al. (2021), alat imobilisasi pada radioterapi KNF meliputi masker termoplastik Head Neck, styrofoam-bag, carbon-fiber baseplate dan head-support. Namun terdapat perbedaan di Instalasi Radioterapi RSUD Dr. Moewardi, yaitu penggunaan masker termoplastik abdomen dikombinasikan dengan hip-fix, Footrest, dan head-support yang dipasang terbalik. Penelitian ini bertujuan mengetahui metode peletakan alat imobilisasi, alasan penggunaan Hip Fix dan masker abdomen, serta perannya dalam menunjang ketepatan terapi pada pasien KNF dengan pembesaran kelenjar getah bening leher. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengambilan data pada bulan Maret 2026 melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Responden terdiri dari dokter spesialis onkologi radiasi, radiografer CT Simulator, radiografer penyinaran dan fisikawan medis di Instalasi Radioterapi RSUD Dr. Moewardi. Pasien karsinoma nasofaring dengan pembesaran kelenjar getah bening leher menggunakan masker termoplastik abdomen yang dikombinasikan dengan Hip Fix, Head Support yang diletakkan terbalik, dan Footrest sebagai penanda batas bawah. Penggunaan masker Head Neck standar tidak memungkinkan karena ukuran massa kelenjar getah bening yang besar berpotensi menimbulkan luka kompresi. Pada verifikasi menunjukkan pergeseran kurang dari 3 mm pada setiap fraksi penyinaran. Kombinasi Hip Fix, masker termoplastik abdomen, Head Support terbalik, dan Footrest merupakan alternatif imobilisasi pada pasien KNF dengan pembesaran kelenjar getah bening leher yang mampu menjaga kenyamanan pasien serta akurasi dan presisi penyinaran radioterapi eksternal.
Hubungan Teknik Radioterapi Terhadap Toksisitas Akut Gastrointestinal Dan Genitourinari Berdasarkan Kriteria Rtog Pada Pasien Kanker Serviks Di RS Kanker Dharmais Sirilus Bernadi; Nyoman Indah Sukmasari; Rory Agustria
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1730

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu keganasan ginekologi yang paling sering memerlukanradioterapi sebagai modalitas terapi utama, terutama pada stadium lokal lanjut kanker serviks.Radioterapi eksternal dapat menyebabkan toksisitas akut gastrointestinal (GI) dan genitourinari (GU)akibat paparan radiasi pada organ pelvis di sekitarnya. Teknik radioterapi modern seperti IntensityModulated Radiation Therapy (IMRT) dan Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) diharapkandapat menurunkan toksisitas dibandingkan teknik konvensional Three Dimensional ConformalRadiotherapy (3DCRT). Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan teknik radioterapi terhadaptoksisitas akut GI dan GU berdasarkan kriteria Radiation Therapy Oncology Group (RTOG) padapasien kanker serviks di RS Kanker Dharmais. Penelitian menggunakan desain retrospektif analitikterhadap 30 pasien kanker serviks yang menjalani EBRT. Teknik radioterapi dikategorikan menjaditeknik modern (IMRT dan VMAT) dan teknik konvensional (3DCRT). Toksisitas diklasifikasikanmenjadi toksisitas ringan (grade 0–1) dan toksisitas bermakna klinis (grade ≥2). Analisis statistikmenggunakan uji Fisher Exact dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapathubungan yang bermakna antara teknik radioterapi dengan toksisitas GI (p=0.645) maupun toksisitasGU (p=1.000). Usia juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna terhadap toksisitas GI (p=0.603)dan GU (p=0.402). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa teknik radioterapi tidakberhubungan secara signifikan terhadap toksisitas akut GI dan GU pada pasien kanker serviks.