Karisya Martiansyah Utami
Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Konsumsi Minuman Manis terhadap Kejadian Gizi Lebih pada Siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta Karisya Martiansyah Utami; Nor Eka Noviani; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1490

Abstract

Gizi lebih pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara. Konsumsi minuman manis diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya gizi lebih karena kandungan gula tambahannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 47 siswa berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 70,2% responden memiliki status tidak gizi lebih dan 29,8% mengalami gizi lebih. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,464) maupun antara asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,587). Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis tidak berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Meskipun demikian, konsumsi gula harian tetap perlu dibatasi sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular pada Remaja.