Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Determinasi Gangguan Siklus Menstruasi Remaja Putri: Analisis Faktor Kognitif, Status Gizi, dan Pola Hidup Elis; Musmundiroh; Herlina Simanjuntak; Dea Pebrianti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1711

Abstract

Gangguan siklus menstruasi merupakan tantangan kesehatan reproduksi global yang memengaruhi sekitar 45% hingga 75% remaja putri di seluruh dunia, dengan prevalensi nasional di Indonesia mencapai 11,7% hingga 13,7%. Siklus yang tidak teratur pada masa awal pubertas apabila dibiarkan dapat berdampak buruk pada fungsi fertilitas jangka panjang serta memicu gangguan psikologis. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional ini dilaksanakan pada salah satu institusi pendidikan menengah pertama di Kabupaten Bekasi pada tahun 2026. Populasi penelitian siswi kelas VII dengan jumlah sampel sebanyak 70 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengisian kuesioner terstruktur untuk variabel pengetahuan, sumber informasi, dan siklus menstruasi, kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk kualitas tidur, serta pengukuran antropometri (BB/TB) berdasarkan indikator IMT/U untuk status gizi. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan (p < 0,001), status gizi (p = 0,001), dan kualitas tidur (p = 0,013) dengan keteraturan siklus menstruasi pada remaja putri. Sebaliknya, variabel pemanfaatan sumber informasi (p = 0,564) terbukti tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan status siklus menstruasi responden di populasi ini. Keteraturan siklus menstruasi pada remaja putri fase awal dipengaruhi secara signifikan oleh ranah kognitif berupa tingkat pengetahuan, serta faktor fisiologis dan gaya hidup yang mencakup status gizi dan kualitas tidur siswa. Institusi pendidikan disarankan untuk memantau asupan nutrisi harian siswi, membatasi aktivitas malam guna menjaga higienitas tidur (sleep hygiene), serta mengoptimalkan layanan edukasi reproduksi yang interaktif.