Nurul Hakim
Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama, Tuban, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Masjid dan Peradaban Islam Pesisir: Studi pada Masyarakat Desa Panyuran, Palang, Tuban Efa Lutfi Udma; Muhlishotul Amalia; Kholifah Rismawati; Nurul Hakim
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 6 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Mei)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangkitnya peradaban Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran wilayah pesisir sebagai tempat pertama di mana Islam diperkenalkan melalui perdagangan. Proses Islamisasi yang tenang dan sensitif secara budaya terjadi dari interaksi antara pedagang Muslim dan kelompok masyarakat adat. Masjid memainkan peran penting dalam proses ini sebagai pusat interaksi sosial dan pendidikan selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti fungsi Masjid Jami Nurul Ula Panyuran dalam kehidupan sosial dan keagamaan komunitas pesisir. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dan metodologi kualitatif. Model interaktif yang mencakup pengurangan data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan digunakan untuk menilai data yang telah dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan informal, dan interaksi sosial lingkungan sekitar selain menjadi tempat ibadah. Keterlibatan aktif masjid dalam pembangunan masyarakat ditunjukkan melalui sejumlah kegiatan, termasuk pengajian rutin, tadarus Al-Qur'an, pelatihan qori', TPQ (pembelajaran Al-Qur'an untuk anak-anak), dan program sosial seperti khitan massal dan sedekah untuk fakir miskin serta anak yatim. Masjid juga bertindak sebagai forum diskusi yang meningkatkan hubungan antarpribadi dan mendorong kohesi masyarakat. Masjid berfungsi sebagai saluran yang kuat untuk internalisasi prinsip-prinsip Islam seperti kepedulian sosial, kolaborasi, dan ukhuwah (persaudaraan) di komunitas pesisir. Dengan demikian, masjid dapat dilihat sebagai lembaga multifaset yang menggabungkan aspek sosial, edukatif, dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat. Karena fungsinya yang menyeluruh, masjid merupakan komponen penting dalam membentuk masyarakat yang religius, damai, dan kuat.
Internalisasi Nilai Keislaman Dalam Tradisi Megengan Sebagai Media Penguatan Spiritual Desa Gesikharjo Tuban M. Yudi Hermawan; Sukron Ma’mun Andika; Nurul Hakim
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 6 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Mei)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the internalization of Islamic values in the Megengan tradition as a medium for strengthening the spiritual life of the community in Gesikharjo Village, Palang District, Tuban Regency. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach through observation, interviews, and documentation. The results show that the Megengan tradition contains a process of value internalization through stages of transformation, transaction, and transinternalization, involving religious leaders, community leaders, and active community participation. The internalized values include sincerity, Islamic brotherhood (ukhuwah Islamiyah), social concern, and gratitude, manifested in collective prayers, tahlil, and food sharing. The discussion highlights that this tradition remains relevant amid modernization as a form of non-formal education and spiritual identity reinforcement. Therefore, the integration of Islamic values and local wisdom proves to be effective in fostering sustainable spiritual character.
Hubungan Tradisi Manganan Dengan Kearifan Lokal Masyarakat di Makam Suroloyo Perbon Tuban Mochamad Puja Primadani; Ma’arif Abdul Karim; Ainun najib; Nurul Hakim
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 6 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Mei)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research examines the manganan tradition at the Suroloyo Cemetery in Perbon Village, Tuban, as a form of religious acculturation between Islam and Javanese culture, specifically within the context of the tolak bala (warding off misfortune) belief during the month of Suro. The primary focus of this study is to explore the forms and implementation of the tradition, the process of acculturation involved, and its social and religious functions for the local community. Utilizing a qualitative method with a phenomenological approach, the data were gathered through participatory observation, in-depth interviews with Mbah Saminah as the key elder informant, and documentation studies. The findings indicate that the manganan tradition is held exclusively during the month of Suro (Muharram) within the cemetery grounds, notably without the use of offerings (sesaji) or incense. The proceedings begin with the recitation of Yasin and tahlil, followed by communal dining and food sharing. The acculturation process is dynamic, preserving Javanese cultural elements such as the manganan feast, gotong royong (communal cooperation), and the significance of the month of Suro, while integrating Islamic values through prayers, religious teachings (pengajian), and the purification of practices. Socially, the tradition serves as a means of integration, redistribution, recreation, and education. Religiously, it functions as a medium to pray for ancestors and seek protection from misfortune. In conclusion, the manganan tradition at Suroloyo Cemetery represents a harmonious synthesis between Islam and local culture, which persists due to the collective consciousness of the community regarding its inherent virtues.