Abdul Halim
Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Madura, Pamekasan, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Nilai Keislaman dan Kearifan Lokal dalam Kurikulum Madrasah Kontemporer Jailani; Abdul Halim
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 6 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Mei)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal dalam kurikulum madrasah merupakan salah satu upaya strategis dalam membangun pendidikan yang mampu menghasilkan peserta didik yang religius, berkarakter, dan memiliki kesadaran budaya. Di tengah arus globalisasi, modernisasi, dan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, madrasah menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilai-nilai agama dan budaya lokal sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konsep integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal dalam kurikulum madrasah, implementasinya dalam proses pembelajaran, serta berbagai tantangan dan strategi penguatannya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai literatur yang relevan mengenai pendidikan Islam, kurikulum madrasah, pendidikan berbasis kearifan lokal, dan penguatan karakter peserta didik. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal dapat dilakukan melalui pengembangan tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, serta kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Nilai-nilai Islam seperti ta'awun, syura, amanah, dan akhlakul karimah dapat diintegrasikan dengan berbagai bentuk kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, sopan santun, dan pelestarian lingkungan. Implementasi integrasi tersebut mampu menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Namun demikian, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti pengaruh globalisasi, keterbatasan kompetensi guru, minimnya sumber belajar berbasis budaya lokal, serta kurangnya kolaborasi antara madrasah dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan melalui peningkatan kompetensi guru, pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal, penguatan kemitraan dengan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pelestarian dan pengembangan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal diharapkan mampu menjadi landasan dalam mewujudkan pendidikan madrasah yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas religius dan budaya.
Peran Guru PAI Dalam Mengembangkan Kecerdasan Intelektual Peserta Didik Kelas VII di Mts Al-Abror 2 Yeni Sofia; Risky Ramadhan; Salman Abdul Karim Amrullah; Zainur Rayhan Dinollah; Abdul Halim
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Juli)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh urgensi optimalisasi peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menstimulasi kecerdasan intelektual siswa kelas 7 di MTs Al-Abror 2. Di tengah tantangan rendahnya minat belajar dan penggunaan gadget yang berlebihan, kemampuan berpikir kriitis dan pemecahan masalah siswa memerlukan pendekatan strategis yang kontekstual.Pengembangan aspek kognitif ini krusial guna membekali kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa di tengah keterbatasan sarana pembelajaran serta disrupsi digital.  Guru memiliki peran penting sebagai mentor, motivator, fasilitator, dan pembimbing dalam proses perkembangan intelektual siswa. Strategi yang digunakan guru meliputi diskusi kelompok, metode tanya jawab, pembelajaran kontekstual, penggunaan media pembelajaran, dan pendekatan personal kepada siswa. Faktor pendukung dalam pengembangan kecerdasan intelektual meliputi kompetensi guru, lingkungan sekolah yang kondusif, motivasi belajar siswa, dan dukungan keluarga. Sementara itu, faktor penghambat meliputi rendahnya minat belajar di kalangan sebagian siswa, perbedaan kemampuan siswa, penggunaan gawai yang berlebihan, dan keterbatasan fasilitas pembelajaran.