Arifin
Institut Agama Islam Al-Hidayah Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI TAFSIR Q.S. AL-MĀ'IDAH (5): 35: PRAKTIK TAWASSUL DALAM PERSPEKTIF TAFSIR NUSANTARA (Tafsir An-Nūr Karya Hasbi ash-Shiddieqy) Yusup Supriadi; Aceng Zakaria; Arifin
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Juli)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tawassul merupakan salah satu isu teologis yang paling diperdebatkan dalam tradisi keislaman Indonesia. Perdebatan ini memuncak pada penafsiran QS. Al-Mā'idah (5): 35 yang memerintahkan pencarian wasīlah (jalan mendekatkan diri) kepada Allah. Di antara sekian banyak karya tafsir Nusantara, Tafsir An-Nūr karya T.M. Hasbi ash-Shiddieqy (1904–1975) menempati posisi penting sebagai representasi pemikiran reformis-modernis yang membawa semangat purifikasi (pemurnian) dalam memahami praktik tawassul. Penelitian ini mengkaji secara mendalam penafsiran Hasbi ash-Shiddieqy terhadap QS. Al-Mā'idah (5): 35 serta konteks historis-sosiologis yang melatarbelakanginya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis isi, penelitian ini menemukan bahwa Hasbi ash-Shiddieqy menafsirkan wasīlah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal saleh dan ketaatan, serta membatasi tawassul hanya pada doa orang-orang yang masih hidup. Ia secara tegas menolak tawassul melalui orang-orang yang telah wafat dengan argumentasi bahwa praktik tersebut tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tidak ditemukan dalam dalil otentik (dalil ma'tsūr), dan hanya bersumber pada hadis-hadis lemah (ḍa'īf). Penafsiran Hasbi sangat dipengaruhi oleh konteks keilmuan (metodologi tafsir bi al-ma'tsūr dan bi al-ma'qūl), konteks sosio-kultural (semangat purifikasi terhadap praktik sinkretik masyarakat), serta konteks ideologis (keterlibatannya dalam gerakan reformis-modernis). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir An-Nūr merepresentasikan upaya sistematis Hasbi ash-Shiddieqy dalam memurnikan pemahaman keagamaan masyarakat Indonesia melalui medium penafsiran Al-Qur'an, sekaligus menjadi salah satu pilar penting dalam khazanah tafsir Nusantara bercorak reformis-purifikatif
Pendekatan Bahasa Arab dalam Pembelajaran Tafsir Al-Qur’an: Urgensi, Metodologi dan Implementasi Yusup Supriadi; Solahudin; Arifin
Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam (Juli)
Publisher : Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas pendekatan bahasa Arab sebagai metodologi pembelajaran tafsir Al-Qur’an di perguruan tinggi. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan tingkat kefasihan dan retorika yang menjadi bagian dari kemukjizatannya, sehingga penguasaan perangkat kebahasaan Arab—meliputi leksikografi (mufradāt), morfologi (ṣarf), sintaksis (naḥw/i‘rāb), dan retorika (balāghah)—menjadi prasyarat ilmiah bagi seorang mufassir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) untuk mengkaji kerangka teoretis dan langkah operasional pembelajaran tafsir berbasis bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan bahasa Arab memiliki landasan teoretis yang kuat dalam tradisi ulama tafsir, dengan langkah operasional yang sistematis dan terukur: tilawah, pemaknaan mufradāt, analisis ṣarf, analisis naḥw/i‘rāb, integrasi makna, dan penguatan riwayat. Penerapan pada ayat-ayat pilihan—seperti Q.S. Al-Fatihah:2 dan al-Qiyāmah: 22–23 membuktikan bahwa perangkat bahasa Arab berpengaruh langsung terhadap ketepatan pemaknaan ayat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan bahasa Arab merupakan pendekatan ilmiah, metodologis, dan aplikatif yang layak dijadikan pola pembelajaran tafsir di lingkungan akademik, khususnya pada jenjang pascasarjana.